Akibat Bongkar Bunderan, Lalu Lintas Semrawut
Setelah bunderan itu dibongkar, terlihat banyak pengguna kendaraan yang seenaknya memotong jalan dari arah yang seharusnya dilarang
Penulis: Siti Yuliana | Editor: Satwika Rumeksa
Bunderan Jl.Ijen-Jl.Kawi itu tepat berada di perempatan jalan di antaranya Jl.Ijen (utara), Jl.Kawi (timur), Jl.Kawi Atas (Barat), dan Jl.Ijen Nirwana (Selatan).
Setelah bunderan itu dibongkar, terlihat banyak pengguna kendaraan yang seenaknya memotong jalan dari arah yang seharusnya dilarang. Misalnya kendaraan dari arah Jl.Ijen tujuan ke Jl.Kawi Atas langsung memotong di tengah perempatan itu.
Begitu pula kendaraan dari arah Jl.Kawi tujuan ke Jl.Ijen langsung memotong perempatan. Tak bisa dihindari, pertemuan kendaraan dari kedua arah itu menyebabkan lalu lintas semrawut. Para pengendara seolah-olah tidak mau mengalah dan ingin saling mendahului. Sehingga kemacetan tidak bisa dihindari.
Sebelum bunderan itu dibongkar, menurut beberapa warga dan pengguna jalan, lalu lintas di sekitar bunderan justru lebih rapi. Sebab, tidak ada sistem potong jalan sehingga tidak pertemuan kendaraan dari dua arah berbeda.
Adanya bunderan itu, pengguna kendaraan dari Jl.Ijen harus memutari bunderan untuk menuju Jl.kawi Atas. Begitu pula pengendara dari Jl.Kawi yang harus memutari bunderan untuk menuju Jl.Ijen. Dengan memutari bunderan itu, maka arus lalu lintas menjadi searah.
Muhammad Toha, warga Jl.Bareng Kulon gang 6 no 900 berpendapat, pembongkar bunderan tidak efektif. Terlebih tidak ada aturan larangan memotong tepat di perempatan. "Lihat saja sekarang, kendaraan seenaknya memotong perempatan, jadinya justru macet," kata Muhammad Toha.
Sejak bunderan dibongkar Oktober 2012 lalu, Toha mengaku terganggu dengan sistem arus lalu lintas. "Seharusnya bunderan tetap ada. Tidak perlu dibongkar," ujarnya menyesali keputusan Pemkot membongkar bunderan.
Saat ini, pengerjaan pembongkaran bunderan belum 100 persen selesai. Masih ada beberapa pekerja yang menyelesaikan paving di bekas lokasi bunderan.
Toha menilai, pemotongan yang dilakukan pengendara karena tidak ada pengawasan dari kepolisian. "Kalau ada pengawasan dari polisi, tentu tidak ada yang memotong jalan," tukasnya.
Toni, Warga Oro-Oro Dowo mengatakan, pembongkaran bunderan Ijen-Kawi sudah menyebabkan tabrakan dari arah Jl.Ijen dan Jl.Kawi beberapa waktu lalu. Sebab kedua kendaraan dari dua arah itu sama-sama memotong jalan. "Akibat tabrakan itu lumayan parah," ceritanya.
Sebagai pengguna jalan, Toni kaget dengan sistem pemotongan jalan yang dilakukan para pengendara. Tidak hanya kaget, Toni juga bingung dengan perubahan itu. "Saya dari Jl.Ijen bingung harus langsung memotong atau memutari bekas bunderan itu, akhirnya saya ikut memotong seperti pengguna jalan lainnya," ucapnya.
Ia pun menyayangkan keputusan Pemkot Malang membongkar bunderan yang justru menyebabkan kemacetan. " Harusnya tetap ada bunderan, biar untuk mengatur lalu lintas," sarannya.
Sebelumnya, Dishub bersikukuh membongkar bunderan untuk mengurangi kemacetan. Bunderan dinilai justru menyebabkan kemacetan lantaran pengendara harus mengitari bunderan terlebih dahulu.
Selain bunderan di Jalan Ijen, Dishub juga akan membongkar bundaran di Jalan Semeru. Rencananya, bekas kedua bunderan itu akan difungsikan sebagai resapan air.