Dari Rita Cookies Hingga Laritta
Langkah di dunia bisnis bakery dimulai dari ibukota, Jakarta. Rasa roti tart buatan Lim Rita Sari
Penulis: Marta Nurfaidah | Editor: Rudy Hartono
Meskipun saat ini seluruh manajemen dipegang putra bungsunya tersebut, toko kue dan roti Laritta berawal dari tangan Lim Rita Sari (69).
Perempuan kelahiran 5 Oktober 1944 ini masih terlihat cantik dan fit di usianya ke-69 tahun. Senyum tak pernah sirna dari wajahnya meskipun gurat ketegasan tampak di sana. Pengalaman hidup yang membawanya sedemikian rupa.
Langkah di dunia bisnis bakery dimulai dari ibukota, Jakarta. Rasa roti tart buatan Lim Rita Sari tak disangka disukai banyak orang. Dari teman-teman sendiri, akhirnya pesanan datang hingga orang nomor satu di Indonesia.
”Saya membuat roti tart di rumah dan tidak ada toko. Lalu menyebar dari mulut ke mulut hingga dikenal para pejabat dan saya kirim juga ke beberapa toko roti di Jakarta,” kenang Rita, Sabtu (29/12/2012). Di masa itu, Rita mengirim tart ke mal Sarinah di Jl Panglima Sudirman, proyek Senen, dan Pancoran.
Sukses di Jakarta tak membuatnya lupa akan kota kelahirannya, Surabaya. Akhirnya, pada 1975, dia kembali ke Kota Pahlawan dan mengawali usaha barunya di bidang kecantikan. ”Saya membuka salon khusus perempuan setelah mengambil kursus di L’Frans,” ucap ibu dari tiga bersaudara ini.
Sesekali dia masih menuangkan keinginannya membuat kue. Namun, kali ini yang dibuat adalah kue-kue kering yang diberikan kepada pelanggan di salon. Ketika lebaran atau Natal, Rita memberi kue kering tersebut sebagai bagian ucapan hari raya.
”Itu terus berlanjut sampai pada 1998, saat krisis moneter, saya membuka usaha roti,” kata Rita. Boleh dikata ini tindakan nekat karena masa ekonomi yang sulit justru perempuan cantik ini memulai bisnis.
Bisnis berjalan dengan lancar hingga 2002, outlet Rita’s Cookies pun muncul. Rita sengaja memilih kue kering karena tahan disimpan. Perlahan-lahan pesanan berdatangan hingga Rita kewalahan membuatnya sendiri. Bersama pembantunya, dia memenuhi permintaan pembeli.
”Tambah lama tambah peminat, ya saya pun menambah karyawan,” ujar Rita. Bukan kue kering saja yang dibuat Rita saat itu, melainkan juga cake aneka rasa.
Selama menekuni usaha bakery tersebut, Rita mengaku tidak pernah sampai mengalami penurunan pesanan. Hanya saja pernah dalam kondisi ’stuck’, tidak mundur dan juga tidak maju. Dari sana, Rita membuat perubahan manajemen.
Pada 2010, Rita’s Cookies diubah menjadi Laritta. Sesuai dengan permintaan pelanggan, outlet dengan nama baru ini lebih banyak menyajikan varian kue, cake, kue kering, kue basah, dan puding. Sampai sekarang jumlahnya mencapai 144 jenis.
”Nama Rita’s Cookies kurang sesuai jika ditambah varian berupa cake dan puding,” kata Albert yang kini mengelola Laritta sepenuhnya.
Peran Rita tidak saja pada nama outlet yang tetap dipertahankan kemiripannya. Namun juga pada resep-resepnya yang masih diproduksi. Meski demikian, Albert harus menyesuaikan resep lama dengan kondisi sekarang untuk mengikuti perkembangan zaman dan gaya hidup.
”Bahkan ada resep yang diberi oleh pelanggan dan kami sesuaikan sebelum dijual di outlet,” kata Albert. Supaya tidak bosan, Albert bersama timnya menambah jenis kue setiap tiga atau empat bulan sekali.
Dekat dengan Pelanggan
Hubungan antara Rita dan pelanggan-pelanggannya sangat baik. Kritik dan masukan sering datang justru dari para pelanggan. Tidak heran bila dari Rita’s Cookies hingga menjadi Laritta masih banyak pelanggan setia yang terus berdatangan.
”Pelanggan itu pasti baik, jika tidak mana mungkin memberi masukan,” ucap Rita sambil tersenyum. Komplain yang masuk pun dianggapnya sebagai dukungan untuk maju.
Bagi Rita, tanpa pelanggan pula yang membuat usahanya menjadi berkembang. ”Kuncinya itu sabar dan tidak mudah marah,” ucapnya kalem. Pelanggan yang kadang merugikan atau cerewet dihadapi dengan kesabaran.
Mengelola usaha yang terkadang membuat pikiran tegang diatasinya dengan bercocok tanam di rumahnya. ”Saya bekerja mulai pukul 08.00 sampai 17.00 sore. Setelah itu ya bersantai,” tuturnya tersenyum. Anggrek lah yang membuatnya tetap mampu mengendalikan emosinya.
Toko Roti yang Menarik
Kemasan, tampilan, dan penataan kadang juga dibutuhkan di samping kualitas rasa yang harus selalu dijaga. Memahami hal ini, Albert juga bereksperimen dan membaca buku tentang bakery untuk mendalami usahanya.
”Sempat sih kursus memasak sebentar dan selanjutnya ya berjalan sendiri,” ungkap suami Christine ini. Di samping itu, Albert kerap ikut demo memasak dan menonton televisi untuk menunjang kemampuannya.
Ini disebabkan sejak kuliah Albert sudah sering membantu ibunya mengembangkan usaha kue kering. Entah itu membeli bahan, membuat kue di dapur, atau mengirim pesanan.
Albert sangat disiplin mengatur waktunya. Bangun pukul 04.00 hingga 06.00 aktivitasnya adalah membantu ibu. Selepas itu dia berkonsentrasi kuliah di Jurusan Desain Grafis di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya dan Manajemen di Universitas Widya Mandala Surabaya.
”Pernah saya sampai diomongi ibu karena gagal membuat sus isi sosis. Marah sih nggak tapi ya begitu, kasih wejangan,” kelakar Albert.
Kala itu, Rita menerima pesanan ribuan kue sus. Ternyata Albert salah membeli jenis sosis hingga warnanya luntur dan kue pun tak tampak cantik.
“Dulu belum memakai supplier, jadi kami membeli bahan kue di supermarket. Nah, karena jenis sosis yang biasa dipakai habis, saya pun memilih jenis lain eh malah salah,” seloroh putra bungsu Rita ini.
Laritta berpusat di Jl Nias serta beberapa cabang yang ada di Jl Kutai dan Rungkut. Mereka buka mulai pukul 07.00 hingga 21.00 WIB. Pada 2013 mendatang, direncanakan akan membuka toko cabang baru di kawasan Wiyung.
Desain Laritta memang sangat menarik, penuh warna. Ini disengaja oleh Albert karena ingin membawa konsep toko roti yang cerah. Untuk menjaring pelanggan, digunakanlah Facebook dengan nama Laritta dan situs larittabakery.com.
”Orang jadi lebih mudah mengenal kami dan terkadang ada pula hadiah bagi mereka yang ulang tahunnya sama dengan Laritta,” papar Albert. Tidak lupa selalu berbagi dengan sesama di panti asuhan atau menyumbang masjid waktu Hari Raya Idul Adha.
Pola pemasaran Laritta berupa jemput bola. Jadi, tidak menunggu momen hari raya saja, tetapi agar penjualan harian berjalan maka Albert menawarkan kue ke perkantoran dan instansi pemerintahan juga.
”Itu juga atas saran dari pelanggan ibu di salon,” ungkapnya. Jadi ada kesinambungan antara Salon Rita dan Laritta.
Pesanan pun datang bukan dari Kota Surabaya saja, melainkan juga Jakarta, Malang, Madura, dan Probolinggo. Untuk instansi pemerintahan dan perkantoran, Albert melayaninya dengan cara tersendiri.
Setiap pemesanan kelipatan 1.000 akan mendapat satu poin yang bisa ditukarkan hadiah. Jumlah hadiah ini juga bertambah jenisnya. Pada 2010, ada 10 jenis sekarang menjadi 18 jenis dan sebagian besar berupa alat-alat elektronik.
”Macam hadiah ini lho juga atas masukan pelanggan,” ujar lelaki kelahiran 14 April 1981 ini.
Kini total karyawan di atas 100 orang. ”Kami memang fokus pada pelanggan dan karyawan. Usaha bisa besar dan maju juga dari mereka,” tegas Albert. Semua itu juga dipelajarinya dari sang ibu yang senantiasa sabar dan menjaga hubungan dengan pelanggan secara baik-baik.