Kamis, 30 April 2026

Ruang Laktasi Jadi Gaya Hidup Ibu Menyusui

Untung ada bilik laktasi ini. Kalau tidak, saya bingung harus menyusui bayi saya dimana.

Tayang:
Penulis: Mujib Anwar | Editor: Rudy Hartono

SURYA Online, MALANG - Umi Khulsum, 31terlihat bergegas keluar dari rumahnya di Jalan Lokdoro RT 4 RW 4 Gadang, Kota Malang, Minggu pekan lalu sekitar pukul 12.15. Dia berniat belanja di Ramayana Departmen Store.

Sambing menggendong Viona Urmilasari yang berusia 2 bulan, dia berjalan menunju ujung gang Jalan Raya Gadang. Disampingnya tangannya menggamit Irmala Indah Sari, putri sulungnya yang berusia 7 tahun. Ketika melihat Mikrolet jurusan Arjosari – Gadang (AG), ibu dua tersebut langsung naik. “Turun alun-alun, Pak,” ujarnya, kepada sopir mikrolet.
+
Sekitar 15 menit kemudian, angkutan kota yang ditumpanginya tiba di lokasi yang dituju. Begitu turun, dia menyodorkan uang Rp 6.000 kepada si sopir untuk tarif dua orang. Umi lantas bergegas menuju salah satu pusat pemberlanjaan yang ada di jantung Kota Malang, yakni Ramayana yang berjarak sepelemparan batu dari Alun-alun.

Begitu sampai, ibu dua anak itu langsung menuju lantai tiga, tempat konter produk pakaian bayi dan anak-anak. Tiba di lokasi belanja, dia lantas memilih-milih pakaian bayi untuk Viona. Belum ada dua menit memilih pakaian yang diinginkan, tiba-tiba Viona menangis. Sang bayi haus dan minta minum.

Melihat tangis bayinya makin kencang, Umi bingung. Dia tidak enak jika harus menyusui anaknya ditempat umum. Seorang pegawai Ramayana lantas menghampirinya. “Kalau mau menyusui dedeknya, ibu bisa ke ruang pojok laktasi yang ada di sebelah barat pojok lantai tiga ini,” katanya.

Mendengar itu, Umi bergegas mencari tempat yang dimaksud. Begitu sampai, bertanya kepada petugas di ruang laktasi. “Apa bisa saya menyusui bayi saya disini, Bu,” tanyanya.

“Oh, silahkan, Tempat ini memang khusus disiapkan bagi para ibu yang akan menyusui dan memberikan ASI (Air Susu Ibu) eksklusif untuk bayinya,” jawab si petugas.

Umi kemudian masuk bilik laktasi dan duduk di salah satu dari tiga kursi yang ada di bilik tersebut. Sejurus kemudian, dia lantas menyusui Viona. Begitu minum ASI, tangis si bayi langsung berhenti. Proses menyusui bayi di bilik laktasi dilakukan Umi selama sekitar 10 menit. Disampingnya, duduk anaknya yang lain, Irmala.

Usai menyusui sang bayi, kepada surya.co.id, Umi mengaku baru pertama kali menggunakan bilik laktasi yang ada di Ramayana. “Untung ada bilik laktasi ini. Kalau tidak, saya bingung harus menyusui bayi saya dimana. Karena kalau menyusui di tempat umum kan malu, Mas,” ujar isti Supriyono ini.

Menurut ibu rumah tangga ini, memberikan ASI kepada anak hukumnya wajib. Selain karena banyak kandungan gizi bagus untuk tumbuh kembang anak, dirinya memilih ASI karena lebih murah. Suaminya Supriyono hanya bekerja sebagai buruh pabrik di Gadang. Dengan gaji yang sangat pas-pasan, Umi mengaku berat jika harus membeli susu formula.

“Harga susu kan sekarang sangat mahal, Mas. Minimal Rp 50 ribu untuk 800 gram. Itupun susu yang biasa. Kalau susu yang terkenal, seperti Morinaga harganya bisa Rp 100 ribu lebih. Kalau saya kasi susu formula, gaji suami saya bisa habis untuk beli susu formula saja,” katanya, seraya menimpali bahwa gaji suaminya perbulan tidak sampai Rp 1,5 juta.

Untuk itu, sejak melahirkan anaknya yang pertama, Umi selalu memberikan ASI eksklusif kepada si anak. Hal yang sama juga dia lakukan untuk anak keduanya. “Kalau anak pertama, saya beri ASI sampai umur 1,5 tahun. Untuk anak kedua ini, pokoknya sampai anaknya tidak mau,” terang Umi.

Terkait keberadaan pojok laktasi di mall, Umi tegas menyatakan sangat mendukungnya. Keberadaan ruang khusus dan privat tersebut menjadikan para ibu tidak malu, ketika sewaktu-waktu berada di tempat umum dan ingin mengusui buah hatinya.

Kerjasama Ramayana

Konselor ASI Dinas Kesehatan Kota Malang yang bertugas di ruang laktasi Ramayana, Liah Dwi Putranti mengatakan, pojok laktasi di mall Ramayana sudah berdiri sejak delapan bulan lalu, tepatnya April 2012.

Terdapat 22 orang konselor ASI yang memberikan layanan dan konsultasi gratis. Dua orang berasal dari Dinas Kesehatan dan 20 orang lainnya dari Puskesmas yang ada di Kota Malang. Setiap hari, layanan konselor yang diberikan kepada masyarakat selama tiga jam, yakni mulai pukul 13.00-16.00.

Namun karena masih relatif baru, keberadaan ruang laktasi tersebut masih belum banyak diketahui oleh masyarakat yang sedang berbelanja di Ramayana maupun sedang berada di sekitar jantung Kota Malang. “Makanya Dinas Kesehatan dan pihak Ramayana sendiri gencar melakukan sosialisasi, untuk memberi tahu masyarakat dan pengunjung,” jelas Liah, yang juga staf Seksi Gizi Bagian Pengelola Program Gizi Mikro Dinas Kesehatan Kota Malang ini.

Mengenai pengunjung, Liah mengaku belum melakukan pencatatan khusus. Dirinya memperkirakan sehari ada dua sampai tiga ibu menyusui yang memanfaatkan ruang laktasi di Ramayana.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved