Pertemuan Ala Kelompok Arisan Soga

Tampilkan Tradisional dan Modern Lewat Kebaya Encim dan Jeans

Tampilkan Tradisional dan Modern Lewat Kebaya Encim dan Jeans

Penulis: Sri Handi Lestari | Editor: Suyanto
Peringatan hari ibu yang jatuh pada 22 Desember, menjadi inspirasi bagi anggota komunitas Arisan Soga, untuk tampil beda. Kegiatan pertemuan rutin di bulan ini, membuat mereka memilih kostum kebaya encim yang dikombinasikan dengan bawahan celana jeans.

ACARA pertemuan yang berlangsung di sebuah restauran di Surabaya Town Square (SUTOS), Jumat (14/12/2012)  itupun tampak beda. Selain berkebaya encim dengan bawahan celana jeans, diantara mereka ada yang rambutnya disanggul dan ber-make up ala wanita Jawa. “Kami memang memilih kostum ini. Untuk mengkombinasikan tradisional dan modern. Dalam rangka merayakan hari ibu juga,” ungkap Erni Rizal, yang tampil dengan kebaya warna putih gading dan rambut disanggul berhias bunga mawar putih.

Erni Rizal tidak kesulitan untuk berdandan. Karena wanita ini merupakan perias sekaligus pemilik salon yang juga pengurus di Himpunan Ratu Busana Jawa Timur.

Sementara bagi Bunda Sri Murtini, sebagai koordinator Arisan Soga, kebaya encim merupakan cerminan tradisi asli Indonesia. Sedangkan celana jeans adalah hal modern yang hadir secara global di seluruh dunia. “Sebagai ibu, kita tetap harus menjaga tradisi tapi juga harus bisa mengikuti hal modern yang terjadi saat ini,” ungkapnya.

Kelompok arisan bernama Soga, yang berarti kayu jati ini sendiri terdiri atas para ibu kaum sosialita Surabaya yang memiliki latar belakang berbeda-beda. Mulai dari usia, agama, pekerjaan, dan suku. Tapi seluruhnya sepakat untuk tetap menjadi sebuah wadah yang memberikan semangat positif dalam silaturahmi dan sesama kaum perempuan serta ibu. “Kami sendiri bertemunya, dari arisan satu ke arisan yang lain. Kemudian ketika dirasa jumlahnya cukup, kita bentuk kelompok lagi,” jelas Bunda, yang tampil dengan kebaya encim warna merah dan celana jeans hitam itu.

Perbedaan latar belakang, kadang juga bisa dimanfaatkan untuk menjadi kegiatan yang postif. Misalnya berbagi tips cara berdandan yang baik atau yang sedang lagi trend. Karena ada anggota yang merupakan perias dan pemilik salon. Juga ada yang memberikan informasi perjalanan haji dan umroh, karena diantara mereka juga ada yang bergerak dibidang jasa haji dan umroh. “Jaringan bisnis juga ada yang terbentuk dari pertemuan ini,” tambah Bunda.

Tapi tidak hanya pertemuan dan arisan serta makan-makan saja, kelompok ini juga punya kegiatan wajib yang harus digelar tiga kali dalam setahun. Yaitu bakti sosial dan wisata bersama. Bakti sosial yang dilakukan adalah dengan melakukan kunjungan ke panti asuhan atau panti jompo. Juga dengan mendatangi dan memberikan bantuan kepada warga di daerah yang mengalami bencana atau memang sedang membutuhkan.

Sedangkan untuk kegiatan wisata bersama, menurut Silvi Mutiara, sebagai koordinator bidang sosial dan wisata, kegiatan ini tidak sekedar jalan-jalan dan belanja, yang juga identik dilakukan para ibu. “Tapi saya siapkan kegiatan yang berbeda dengan tiga tujuan. Yaitu menambah pengetahuan, petualangan, dan jejak sejarah. Jadi tidak hanya hura-hura saja,” jelas wanita yang akrab disapa Vivi itu.

Rencananya dalam waktu dekat, kelompok ini akan menggelar bakti sosial mengunjungi sebuah panti jompo. Ditempat ini selain memberikan sumbangan, juga diharapkan bisa memberikan hiburan kepada para orangtua yang tinggal di tempat itu. “Sekalian untuk mengingatkan kita, bahwa kita nantinya akan tua seperti itu dan mungkin juga hanya sendiri, ditinggal anak-anaknya yang sedang mengejar karir dan usaha bersama keluarganya masing-masing,” jelas Vivi yang tampil dengan kebaya encim warna ungu dan celana jeans biru.

Sedangkan wisata, dalam waktu dekat ini, Vivi menyiapkan tempat tujuan ke Jogjakarta. Tidak hanya tempat biasa, seperti Malioboro, tapi anggota kelompok ini juga diajak berpetualangan di Wapindul. Yaitu sebuah gua di daerah pantai selatan Jogjakarta, yang dipastikan akan memberi pengalaman yang berbeda. Gua ini selain masuk ke dalam bukit tandus, bisa diteelusuri untuk menikmati pemandangan di dalamnya yang unik.

Sedangkan dari segi menambah pengetahuan dan sejarah, mereka akan diajak berkeliling di Kraton Jogja dan tentunya di sepanjang Jl Malioboro. “Ini yang pasti bisa menyalurkan semangat belanja para ibu-ibu yang tidak mungkin bisa dibendung lagi bila jalan-jalan,” tandas Vivi.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved