Guru Dituntut Ubah Pola Mengajar
pelatihan pembelajaran efektif bagi guru SD yang diselenggarakan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) UM
Penulis: Siti Yuliana | Editor: Rudy Hartono
Para pengamat pendidikan dari Universitas Negeri Malang (UM) membeberkan, salah satu penyebab pendidikan di Indonesia signifikan adalah cara mengajar guru yang masih menggunakan cara kuno seperti ceramah.
Dalam pelatihan pembelajaran efektif bagi guru SD yang diselenggarakan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) UM bekerja sama dengan Badan Kepegawaian Daerah (BKD), mengungkapkan berbagai problematika yang dihadapi guru selama ini.
Muchtar, pengamat pendidikan, membeberkan, dalam sebuah penelitian yang dilansir Harian Kompas pada 2007 mencatat, budaya membaca masyarakat Indonesia menduduki peringkat 52 terendah di kawasan Asia Timur. Tidak heran, rendahnya budaya membaca juga terjadi di kalangan para guru. Karena itu, kebiasaan guru yang enggan membaca juga menular pada siswa.
"Pola mengajar guru harus diubah. Jangan lagi menggunakan metode ceramah karena tidak bisa meningkatkan cara berfikir analis siswa," kata Muchtar dalam pelatihan itu di aula Perpustakaan Pusat UM, Jumat (14/12/2012).
Minimnya kebiasaan guru dalam membaca berpengaruh terhadap kemampuan berfikir analis siswa. Dalam penelitian dikatakan kemampuan berfikir analis siswa SD hanya 5 persen, sementara 95 persen hanya karena ingin tahu.
"Tugas para guru sekarang, bagaimana meningkatkan cara berfikir analis siswa. Caranya, jadilah guru problem solving," tuturnya.
Pola mengajar problem solving misalnya, guru berperan sebagai pengantar pembelajaran siswa. Melempar permasalahan kehidupan lalu membiarkan siswa menganalisis sendiri. "Misalnya, guru membahas tema: Air. Suruh anak-anak menceritakan, mendeskripsikan Air itu apa. Biarlah mereka berpendapat sesuai dengan tingkat pemikiran mereka," tips Muchtar
Selain mengulas cara mengajar efektif, para guru dibebaskan mengungkapkan berbagai problematika selama mengajar. Para guru membentuk kelompok yang masing-masing kelompok berisi 4 orang. Mereka kemudian merumuskan berbagai hambatan penyebab kualitas guru dan siswa yang signifikan.
Mereka menulis, salah satu penyebab kualitas guru karena enggan membaca, minimnya referensi, minimnya dorongan orangtua siswa, minimnya pengawasan, minimnya motivasi dari pemerintah. "Kami menyadari itu, kami tidak pingsan kok. Kami sadar banyak hal yang harus kami perbaiki," kata seorang guru dari SDN Polehan 2.