Aptisi Jatim Resah Perguruan Tinggi Asing Masuk Indonesia
Suko pun menyayangkan keputusan Pemerintah yang tidak memihak PTS
Penulis: Siti Yuliana | Editor: Satwika Rumeksa
Menurut Suko, alasan penolakkan bukan karena persaingan semata, namun lantaran Sumber Daya Manusia (SDM) di Indonesia dinilai belum siap dengan keberadaan PTA. Terlebih, kata Suko tujuan PTA masuk Indonesia bukan hanya menyumbangkan ilmu pengetahuan, namun akan berpengaruh pula terhadap ideologi masyarakat.
"Itu yang menjadi kekhawatiran kami disamping kami pun khawatir Perguruan Tinggi Swasta (PTS) akan mati alias lumpuh," ujar Suko Senin (26/11/2012).
Suko pun menyayangkan keputusan Pemerintah yang tidak memihak PTS. Tidak ada PTA saja, nasib PTS sudah terjepit. Apalagi ditambah PTA. "Harus dikaji ulang. Kualitas PTS di Indonesia sudah banyak yang bagus. Seharusnya pemerintah terus membantu untuk meningkatkan kualitas itu bukan malah mematikan seperti ini," tegasnya.
Salah satu hal yang harus dikaji Pemerintah apabila tetap bersikeras memasukkan PTA yakni melakukan uji coba terlebih dahulu di salah satu daerah. Bukan langsung membebaskan seperti saat ini.
Uji coba itu untuk mengetahui sejauh mana respon masyarakat sekaligus dampak positif negatifnya. 'Masalah program studi juga harus diperhatikan. Jangan memasukkan PTA yang program studinya sudah ada di sini (Indonesia)," tukasnya.
Sementara itu, Rektor Universitas Negeri Malang (UM) Prof Suparno menambahkan, keberadaan PTA bisa juga mengancam Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Karena itu, Suparno pun meminta agar pemerintah benar-benar selektif memasukkan PTA ke Indonesia.
"Kalau hanya mengenalkan kampusnya (promosi) di Indonesia tidak apa-apa. Tetapi kalau sampai PTA ada di Indonesia, itu yang membuat kami juga khawatir," kata Suparno