Menyulam Rezeki ala Siska Sumartono
Sulam Bukan Penghias Taplak tapi Pusat Fashion
Produk sulaman mulai dari yang aksesori hingga baju dijual dengan harga mulai Rp 25.000 hingga Rp 2 juta.
Penulis: Dyan Rekohadi | Editor: Tri Dayaning Reviati
Obsesinya, sulam menjadi fashion yang disuka semua orang, termasuk anak muda. Siska Sumartono berharap kecintaannya pada sulam, berkembang sebagai bisnis sekaligus pelestarian budaya.
Bukan hal mudah bagi Siska mengembangkan usaha fashion dengan sulaman. Ia harus rajin-rajin dan sabar menjelaskan makna sulam kepala pelanggan. Ia juga telaten mengajari beberapa orang yang membantunya.
Untuk menguasai teknik menyulam yang baik butuh waktu sebulan. Tapi, kembali juga kepada orang yang belajar. Kalau orang itu cepat menangkap, bisa lebih cepat, dua minggu saja sudah lancar menyulam.
Untuk mewujudkan obsesinya itu, Siska menggunakan uang pribadi sebagai modal usaha. Bisnisnya dijalankan di area rumahnya di kawasan Karangmenjangan.
Dukungan penuh suami dan anak-anak membuat anggota Iwapi ini bersemangat menjalankan usaha dan idealismenya pada sulam. Suaminya, Stefanus Sumartono menjadi penopang utamanya baik dari sisi moral dan fisik.
Bahkan jika perputaran uang usahanya tidak lancar dan lagi butuh modal tambahan ia bisa meminjam uang pada suaminya. “Lumayan tanpa bunga,” ungkapnya dengan tertawa.
Sejak merintis usaha di tahun 2009, Siska melalui Sari Ronche Rumah Sulam, Baju dan Craft mulai mendapat banyak pelanggan di tahun 2011.
Seiring perkembangan ragam produk buatannya juga semakin banyak. Produk sulaman mulai dari yang aksesori hingga baju dijual dengan harga mulai Rp 25.000 hingga Rp 2 juta.
Omzet yang dikantongi Siska dari produk fashion sulamnya secara perlahan meningkat. Jika di awal-awal usaha dia bisa mendapat omzet Rp 10 juta hingga Rp 15 juta per bulan, sekarang yang didapat, setidaknya mencapai Rp 25 juta sampai Rp 30 juta.
Ke depan, ia berharap bisa membuka showroom sulam sendiri yang bisa didatangi semua kalangan.
“Bukan sekadar omzet yang saya kejar, saya berusaha menjadikan sulam sebagai bagian dari fashion yang tak kalah menarik. Sulam bukanlah penghias taplak meja, sprei atau sarung bantal, tapi bisa jadi pusat fashion,” harap Siska. (habis)
KOMENTAR