Mahasiswa UIN-Maliki Kritisi Sekolah RSBI
Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN-Maliki) Malang mengkritisi keberadaan sekolah berstatus Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional
Penulis: Siti Yuliana | Editor: Suyanto
Semua kritikan itu mereka ungkapkan dalam diskusi budaya bersama sastrawan Zawawi Imron, Agus Sanyoto (budayawan) dan Sofyan Edy Jarwoko (anggota DPR Kota Malang) di aula gedung humbud UIN-Maliki, Selasa (6/11/2012).
Lia, mahasiswi jurusan Bahasa Inggris mengatakan, keberadaan sekolah RSBI telah menggerus budaya asli Indonesia. Salah satu contoh, katanya, sekolah RSBI lebih mengutamakan menerapkan bahasa asing daripada bahasa Indonesia. "Itu yang menyebabkan budaya kita semakin tergerus," kata Lia.
Lia menyarankan agar pemerintah peduli dengan budaya lokal dengan menerapkan budaya daerah di semua sekolah, baik jenjang SD-SMA.
Putri mahasiswa lainnya berujar sama. Sekolah berstatus RSBI ternyata tidak bisa menjaga atau membantu meningkatkan kelestarian budaya lokal Indonesia. Budayawan, Agus Sanyoto membenarkan. Sekolah RSBI sebenarnya bukan kualitasnya yang bertaraf Internasional. "Namun tarifnya yang internasional," tegas Agus Sanyoto.
Pernah suatu ketika Agus Sunyoto mengkritisi kurikulum yang diterapkan pada sekolah RSBI. "Saya tanyakan apa ada kurikulum internasional? Ternyata pemerintah tidak memiliki kurikulum itu," ungkapnya.
Selain kurikulum, kualitas guru juga masih lokal. Terbukti, tidak ada guru yang memiliki sertifikat mengajar internasional. Sementara, anggota DPRD kota Malang, Sofyan Edy Jarwoko tidak menampik, apabila bahasa lokal jarang diterapkan di sekolah. "Namun ada juga sekolah menjadikan bahasa lokal sebagai salah satu mata pelajarann, meski tidak semuanya," kata Edy.
Adanya kritikan mahasiswa itu, Edy berjanji akan mendorong pemerintah untuk mewajibkan bahasa lokal diterapkan di semua jenjang sekolah, mulai SD-SMA.