Capung Mungil Terbang ke Jepang
Menjadi seorang pembuat mainan, sama sekali tidak ada di benak Dian Kusuma Wardhani (33).
Penulis: Irwan Syairwan | Editor: Heru Pramono
Dini tidak sengaja berkecimpung di dunia anak. Dini bercerita, selesai studi arsitekturnya di Bandung ia kembali ke Malang dan mencoba melamar menjadi dosen di salah satu PTN terbesar di Malang pada 2007. Karena lama menunggu panggilan, iseng-iseng Dini ikut bergabung dengan usaha mainan anak dari kayu yang dirintis temannya. Sekitar dua bulan, Dini mulai menikmati membuat mainan anak dan melihat potensi besar di usaha ini.
“Dulu Malang ini masih sangat jarang usaha kreatif,” kata Dini saat ditemui di tempat workshop mainan anak-anak Capung Mungil di daerah Cengger Ayam, Malang, Kamis (1/11/2012).
Akhirnya, Dini mulai mencari tahu seluk beluk mainan anak melalui internet. Dari berbagai jenis mainan anak, akhirnya Dini memilih mainan edutoys untuk balita seebagai jenis usahanya.
“Waktu itu saya belum menikah, tetapi buat saya pribadi kalau menjadi seorang ibu, saya ingin berikan yang terbaik jika anak saya dalam masa golden age. Jenis mainan yang saya cari banyak referensinya. Akan tetapi, yang bisa membantu pertumbuhan anak di masa emasnya, ya mainan edutoys itu,” kenangnya.
Punya pengalaman membuat mainan dari kayu, tidak membuat dirinya langsung memutuskan membuat edutoys dari bahan serupa. Pasalnya, tekstur kayu yang solid bisa membahayakan anak. Setelah berpikir dan berkutat di duni maya mencari referensi, Dini menemukan satu bahan, yaitu felt (kain flanel). Tekstur flanel yang tidak mudah robek dan seratnya halus akan aman bagi balita. Di samping itu, kain flanel mudah dibentuk dan memiliki warna kain yang colorful.
Satu hal yang diingat Dini saat masih anak-anak yaitu cerita. Dengan dasar arsitekturnya yang terbiasa membuat gambar, Dini memutuskan membuat buku cerita dari kain flanel. Alasannya sederhana. Kalau buku dari kertas mudah lecek dan robek, serta yang paling utama, murah.
“Rp 300.000 modal yang saya punya saat itu. Dan ilmu desain saya akhirnya tersalurkan, karena dunia anak itu harus dipenuhi gambar. Saat percobaan membuat mainan pertama, saya gunting, jahit, dan tempel, itu kain flanel. Setelah jadi, saya posting di akun blog capungmungil.multiply.com dan ternyata banyak yang suka. Dan mulailah orderan demi orderan datang,” ujarnya.
Dini yang tadinya buta tentang balita, mau tidak mau harus menggali referensi tentang pertumbuhan dan pembelajaran anak untuk mengembangkan edutoys. Testimoni dari pembeli pun juga jadi masukan berharga. Dini mengatakan, awal-awal edutoys buatannya masih menggunakan banyak lem daripada jahitan. Alhasil, aroma lem tercium cukup menyengat.
“Ada pembeli saya yang mengeluhkan bau lem. Akhirnya saya putuskan harus dijahit dan meminimalkan penggunaan lem. Saya jadi banyak belajar tentang dunia anak. Baik dari pelanggan saya maupun dari artikel-artikel. Dan pengetahuan saya itu saya aplikasikan di mainan-mainan saya,” beber istri dari Aryo Nugroho ini.
Pernah ada salah seorang pelangganan mengeluh tidak bisa mendongeng, padahal ia memiliki boneka tangan buatan Dini. Dini melihat itu sebagai peluang. Dosen teknik Universitas Brawijaya itu menggabungkan buku dan boneka tangan. Jadilah sebuah produk edutoys yang diberi nama bedtime story book. Ibu-ibu yang tidak bisa mendongeng dipandu melalui buku yang menempel pada tubuh boneka tangan.
“Responsnya luar biasa. Pelanggan saya itu bilang dia jadi bisa mendongeng dan improvisasi cerita. Anaknya pun juga jadi aktif bicara dan bertanya.
Testimoni-testimoni seperti ini adalah kenikmatan saya. Artinya, produk saya bisa diterima dan membantu perkembangan anak-anak para pelanggan saya,” ungkap perempuan yang pernah menjadi Pemenang Wanita Inspiratis Nova 2010.
Meski produknya bernama edutoys, mainan buatan Dini tidak akan bermakna tanpa peran orang tua. Dini menuturkan justru peran orang tua sangat besar pada edutoys buatannya. Bahkan sebelum dipasarkan, produk-produknya dicoba lebih dahulu ke anak-anaknya. Dini mengatakan anak-anaknya jadi lebih memiliki daya imajinasi dan olah cerita yang baik.
“Anak tidak akan mengerti maksud mainan-mainan saya sampai orang tua ikut bermain. Tanpa orang tua, mainan saya malah tidak berarti. Inilah hal yang paling utama dari edutoys, mendekatkan orang tua dengan anak-anaknya. Komunikasi yang terbangun dari mendongeng antara orang tua dan anak berlangsung dengan sangat intim. Jika anak dan orang tua dekat, niscaya masa pertumbuhan anak di masa keemasannya akan dilalui dengan sangat baik,” terangnya.
Pemasaran Melalui Online
Tidak mempunyai modal banyak, membuat Dini harus kreatif memasarkan produknya. Dan media online adalah jalan pembuka baginya meraih sukses dari usaha mainan anak-anak. Postingan pertamannya mendapat apresiasi dan semakin memantapkan dirinya memasarkan secara online.
Bahkan saat ini, pelanggan-pelanggannya sudah bukan lagi dari Indonesia, melainkan dari luar negeri, seperti Singapura, Jepang, dan Amerika. Justru pelanggan di Malang relatif sedikit.
“Bahkan tetangga saya pun tidak tahu saya mempunyai usaha ini,” ucapnya sambil tertawa.
Yang menjadi kendala Dini saat ini adalah kekurangan penjahit. Jika dua tahun lalu Dini masih memiliki pekerja dari mahasiswa jurusan Paud, setelah mereka lulus, Dini kehilangan pekerja-pekerjanya yang cekatan.
“Saya menuntut kualitas jahitan. Saat ini hanya ada satu penjahit,” keluhnya.
Meskipun produknya sudah go international, namun harga yang ditawarkan masih cukup murah daripada produk impor. Dari 12 produk edutoys yang dimiliki Dini saat ini (story card, baby block, bed story time, finger puppets, dll) berkisar Rp 22.500–Rp 120.000.
Saat ini, obsesi Dini yang juga menjadi Finalis Wirausaha Femina BNI 2009 ini adalah membagi ilmunya kepada calon-calon wirausaha di bidang edutoys. Hal itu sedang dilakukannya dengan menerbitkan buku-buku tutorial pembuatan edutoys dari bahan flanel.
Dini bercerita, awalnya bisa membuat buku setelah berkorespondensi secara online dari salah seorang rekan dunia mayanya. Kebetulan rekanya itu seorang penulis buku anak, Arlene Amidjaja. Dini menuturkan sosok Arlene inilah yang membantunya, selain memasarkan produk-produknya, juga perkenalannya dengan dunia tulis-menulis, terutama buku-buku anak.
“Pemasaran saya dibantu karena ditautkan ke link rekan-rekannya. Ia juga yang mengajari saya membuat buku, baik buku cerita dan buku-buku tutorial. Saat ini saya sudah memiliki delapan buku, dan dua lagi akan terbit tahun depan. Saya ingin semakin banyak orang yang bisa memiliki usaha ini,” kata Dini.