Aptisi Jatim Dukung Penutupan Prodi
Kalau tidak ada hukuman tegas seperti itu, PTS/PTN tidak akan bekerja keras untuk mencegah perkelahian mahasiswa
Penulis: Siti Yuliana | Editor: Satwika Rumeksa
Suka menilai, pencabutan Prodi akan menjadi cambuk kuat bagi Perguruan Tinggi baik Swasta (PTS) maupun Negeri (PTN). Menurutnya kalau tidak ada hukuman tegas seperti itu, PTS/PTN tidak akan bekerja keras untuk mencegah perkelahian mahasiswa itu. "Wacana itu pasti akan menjadi polemik , tapi kalo saya sangat setuju," kata Suko Kamis (25/10/2012).
PTN /PTS sudah waktunya mencetak kader bangsa yng berkualitas ,baik dibidang akademik maupun moral. Meski pengaruh luar kampus sangat besar memengaruhi moral mereka, namun bagi Suko tanggungjawab tetap ada pada PT itu sendiri.
"Pihak Universitas harus berusaha agar segenap civitas akademiknya cerdas dan beretika. Masalah etika itu yang masih dikesampingkan," ujarnya.
Sejauh pengamatannya selama ini, ia mengaku belum menerima laporan adanya tawuran antar mahasiswa di Malang Raya. "Itu artinya moralitas masih terjaga baik. Tetapi harus ada antisipasi sedini mungkin," tukas Rektor Universitas Wisnuwardhana itu.
Salah satu antisipasi yang harus dilakukan PTS/PTN yakni memasukkan mata kuliah kebhineka tunggal ika. Mata kuliah itu dinilai Suko bisa menjadi pegangan mahasiswa untuk menerima segala perbedaan.
Sementara itu Rektor Universitas Negeri Malang (UM), Prof. Suparno juga mendukung wacana penutupan Prodi jika mahasiswanya terlibat perkelahian. "Kalau memang itu menjadi keputusan Kemendikbud, kami pasti menuruti saja," katanya.
Meski setuju dengan wacana itu, Suparno yakin mahasiswanya tidak ada yang terlibat tawuran. "Kami selalu menekankan pendidikan karakter, jadi mahasiswa kami santun-santun," ujar Suparno.