Cipta Desain untuk Clothing
Andalkan Kemeja Denim dan Batik Tribal
Pemikiran itu muncul setelah kedua merek garmen kelas dunia itu mengeluarkan edisi baju berbahan batik tribal.
Penulis: Marta Nurfaidah | Editor: Tri Dayaning Reviati
Budaya kontemporer yang berkembang di tengah masyarakat dunia terwujud dalam bentuk desain pakaian. Triyan Sudarmanto Wijaya, 33, mengadopsinya menjadi desain kemeja bermerek Sopahola.
Indonesia kaya budaya. Corak yang dihasilkan dari tiap tradisi yang ada, tidak kalah dengan desain baju keluaran Christian Dior atau Gucci.
Pemikiran itu muncul setelah kedua merek garmen kelas dunia itu mengeluarkan edisi baju berbahan batik tribal. Entah sebagai bahan utuh atau sekadar aksen.
Lelaki yang kerap dipanggil Yoyon ini, akhirnya, membuat kemeja berbahan jins atau denim dengan aksen batik motif tribal. Jins terpilih karena dia ingin membuat karya desain yang memadukan unsur modern dan lokal.
“Jins itu dari Italia, yang berkembang pesat di AS, tahun 1850-an. Jika jins masih dikenakan hingga sekarang, berarti jins tidak pernah ditinggal orang (long lasting),” papar Yoyon yang memulai Sopahola pada 21 Mei 2011.
Apalagi, segmen produk Sopahola adalah anak muda usia 25 hingga 35 tahun, dan belakangan denim kembali booming. Tak ada sesuatu yang murni di dunia ini. “Karya saya juga hasil dari melihat banyak desain baju,” ucapnya jujur.
Setiap Yoyon selesai membuat satu desain baru, dia terus menggali ide untuk membuat desain lainnya. Orang yang mencontoh dianggap sebagai follower semata. Setidaknya, orang akan mengenal kemeja denim dan batik tribal itu buatan Sopahola.
Tujuan berikutnya, Yoyon ingin memperkenalkan kemeja denim tribal ke seluruh Indonesia. Dia berusaha menjalin kerja sama dengan Disperindag supaya bisa mengikuti pameran di Jakarta atau melalui KBRI di luar negeri.
Langkah lainnya, mencari distributor di beberapa titik kota untuk jadi reseller kemeja denim batik. Informasi bagi konsumen disediakan secara online, melalui situs www.sopahola.com, facebook dengan nama Sopahola Online, twitter beralamat @sopahola, serta BlackBerry Messenger.
“Saya berusaha dekat pelanggan, mereka bisa mengetahui desain terbaru via teknologi baru,” ujar Yoyon yang mengangkat slogan 'Sopahola, Here There Everywhere'.
Pasar online masih menjangkau seputar Indonesia. Dalam sehari terjual 10 hingga 15 potong baju, entah itu di toko di ruko Klampis Surabaya, atau online. Sekitar 40 sampai 60 persen di antara penjualan itu berupa kaus.
Harga per potong kaus berkisar Rp 90.000 hingga Rp 100.000, sedangkan kemeja denim Rp 240.000 hingga Rp 290.000 karena ada yang berlengan pendek dan panjang. Omzet sebulan bisa mencapai Rp 30 juta.
Kini, toko Sopahola mempekerjakan dua karyawan karena harus melayani pembeli dari luar. Produksi dulu di Bandung, sekarang dipindah ke Surabaya dan Malang supaya pengawasan lebih mudah. Toko Sopahola buka pukul 14.00 sampai 22.00 WIB.
KOMENTAR