Kampung Tiga Menara
Tiga menara itu lahir bersamaan, dengan bentuk berbeda, namun berfungsi sama. Itulah masjid, gereja, dan pura di desa Pancasila, Lamongan.
Editor:
Tri Hatma Ningsih
oleh : Nurul Qomariyah
Mahasiswa Universitas Negeri Malang
nurulqomariyah2@yahoo.co.id
Desa pancasila? Tentu bukan nama yang sebenarnya. Nama tersebut menjadi julukan bagi Desa Balun yang berada di Kecamatan Turi Kabupaten Lamongan. Desa yang letaknya tak jauh dari pusat keramaian Kota Lamongan ini memiliki tiga menara yang didirikan warga desa. Menara ini bukanlah menara sebenarnya melainkan tiga bangunan yang memiliki bentuk berbeda namun berfungsi sama. Tiga menara tersebut adalah tiga tempat beribadah yang berada dalam satu lokasi. Keberadaan tiga menara itulah yang membuat kampung ini diberi julukan kampung pancasila.
Kerukunan yang harmoni dan toleransi antarumat beragama inilah yang menyebabkan desa ini mendapat julukan tersebut. Hal tersebut ternyata sudah terjalin sejak desa itu lahir dan tetap terpelihara sampai sekarang. Ketika menyusuri jalan-jalan sempit di Desa Balun, aroma kebhinekaan itu terhirup kuat. Suasana tersebut sudah terasa sejak masuk ke dalam desa. Balai Desa Balun terletak sekitar 1 kilometer dari jalan Surabaya-Tuban. Sekitar 200 meter dari balai desa, di situlah terdapat tiga tempat ibadah berupa masjid, gereja, dan pura dalam satu area yang berdekatan.
Di sebelah barat lapangan berdiri Masjid Miftahul Huda berasitektur Timur Tengah dengan nuansa hijau dan kuning. Masih satu kompleks dengan masjid ada bangunan Madrasah Ibtidaiah (MI) Tarbiyatush Shibyan, sementara itu di kanan masjid ada Sekolah Dasar Negeri Balun. Di selatan masjid terdapat bangunan berarsitektur Bali, yang dipisahkan jalan lingkungan selebar 4 meter. Bangunan yang menghadap ke selatan itu adalah Pura Sweta Maha Suci, tempat ibadah umat Hindu. Sekitar 70 meter di depan Masjid Miftahul Huda atau di timur lapangan terdapat Greja Kristen Jawi Wetan menghadap ke barat.
Di Desa Balun berkembang tiga agama, yakni Islam, Kristen, dan Hindu. Tempat ibadah yang ada berdekatan dengan lapangan desa dengan jarak satu sama lain kurang dari 100 meter. Namun, warga hidup berdampingan harmonis dan saling menghargai, termasuk pada momentum Ramadan seperti sekarang ini. Umat islam yang melaksanakan tadarus setelah selesai salat tarawih menggunakan pengeras suara hanya sampai jam sepuluh malam. Itu dilakukan untuk menghormati pemeluk agama lain yang sedang tidur di malam hari.
Meski hidup dengan keyakinan berbeda, bahkan tempat ibadahnya pun dalam satu area, warga saling menghargai. Toleransi antarpemeluk tiga agama di Balun juga ditunjukkan saat memperingati hari besar agama masing-masing. Misalnya untuk menghormati umat Hindu yang menjalani nyepi, umat Islam tak memakai pengeras suara saat adzan karena masjid letaknya berdekatan dengan pura. Saat umat Islam merayakan Lebaran, umat lain memberikan selamat dan turut berpesta. Begitupun saat umat Kristen menjalankan ibadah, umat Islam dan Hindu memberikan kenyamanan untuk mereka dalam menjalankan ibadahnya.
Berdirinya tiga tempat ibadah berdampingan ini menjadi contoh tauladan bagi kerukunan umat beragama di indonesia. Tak heran, Desa Balun terkenal dengan sebutan kampung pancasila atau desa tri kerukunan. Kerukunan yang diwariskan secara turun temurun kepada anak cucu mereka untuk dilestarikan. Semoga.
KOMENTAR