Perjalanan Fifin

Surga Kecil di Tepi Hutan

Setelah Pantai Sukamade, giliran Alas Purwo yang dijenguk. Ada banyak surga kecil di hutan ini.

Editor: Endah Imawati
SURYA Online, SURABAYA - Pantai tidak pernah membosankan. Jika menuruti keinginan, mau rasanya menunggu emak-emak penyu bertelur lagi, barang semalam di Pantai Sukamade, Banyuwangi. Akan tetapi, rute yang harus kami (saya, Anez, dan pasangan Yogie-Lia) masih panjang.

Saya pernah dolan dengan pasangan Yogie dan Lia. Saya juga pernah dolan dengan Anez dan teman-teman lainnya. Namun baru kali ini, kami bertualang berempat. Setelah evaluasi perjalanan hari pertama ini, sadarlah kami, meski ini petualangan berempat yang pertama, namun kami merasa sudah sangat kompak dan bisa menjadi tim yang saling melengkapi. Apalagi di saat-saat menegangkan. Makanya kami beri nama Great Team, dan judul petualangan ini “The Moment with Great Team”.

Esok paginya, kami memulai aktivitas dengan membantu petugas di Pantai Sukamade mengambil telur-telur penyu yang sudah menetas dan siap dilepas ke laut. Para pengunjung, dipersilakan melepas tukik-tukik berenang ke lautan lepas.

Sudah puas bermain-main, kenyang sarapan, dan cakep semua setelah mandi, kami melanjutkan perjalanan ke Alas Purwo. Stop… jepret dulu, say cheers….

Perjalanan cukup jauh dan lebih menegangkan, karena benar-benar tidak tahu medan apa yang akan kami hadapi. Memasuki kawasan Alas Purwo kurang lebih pukul 23.00. Pastikan kendaraan yang digunakan cukup bandel dengan perbekalan lengkap karena begitu masuk kawasan Alas Purwo, tidak banyak orang yang dapat dimintai pertolongan.

Begitu memasuki hutan lebat ini, kami merasakan hawa yang berbeda. Alas (hutan) yang terkenal dengan mistisnya itu didominasi dengan pohon jati yang mungkin sudah berusia puluhan tahun. Alas ini juga terkenal dengan wisata mistisnya. Banyak orang datang untuk melakukan upacara dengan tujuan tertentu.

Banyak objek wisata yang dapat dikunjungi di sana seperti Pantai Triangulasi, Pantai Panjur, Pantai Plengkung, dan Sadengan. Ada juga pura peninggalan Majapahit dan beberapa gua. Yang terkenal di antara peselancar adalah Pantai Plengkung yang juga disebut G-Land.

Karena saat itu sudah tengah malam, setelah survei ke beberapa tempat, kami memutuskan untuk membuka tenda di di Pantai Triangulasi. Tenda langsung didirikan di pinggir pantai lengkap dengan api unggunnya. Tanpa dikomando, kami berempat sibuk dengan tugas masing-masing, sampai tenda berdiri dan makan malam siap disantap. Malam itu ditutup dengan menikmati bintang ditemani suara deburan ombak dan segelas kopi susu.

Begitu matahari muncul, inilah hari terindah. Pantai begitu cantik. Sayang bila tidak disusuri. Pasirnya lembut menempel di betis. How is beautiful this life….

Dari Triangulasi, sorenya Taft menuju Sadengan yaitu savanna yang dibuat untuk ground feeding banteng. Di Sadengan, kami menikmati pemandangan dari gardu pandang. Saat tiba di sana, tidak tampak banteng karena memang biasanya mereka hanya muncul di jam-jam tertentu. Sambil menunggu banteng, kami mengamati perilaku dan interaksi binatang-binatang yang ada di situ seperti burung merak, celeng atau babi hutan, rusa, dan burung pelikan.

Setelah menunggu satu jam, banteng yang ditunggu tidak muncul-muncul. Kami memutuskan untuk pergi karena ada perubahan rencana. Seharusnya pulang ke Surabaya, tetapi berbelok melanjutkan perjalanan ke Baluran untuk melengkapi trip. Padahal Seninnya, saya masuk di tempat kerja yang baru, dimana first impression harusnya OK punya, tetapi bagaimana lagi, traveling is language for my freedom, lanjut aja deh. Go… go… go… tidak jadi pulang.

Saat menyalakan mobil, tiba-tiba Anez sempat melihat ada dua ekor banteng, betina dan jantan, yang mulai tampak. Pemandangan yang sayang jika dilewatkan. Akhirnya kami turun dari mobil dan melihat komunitas banteng mulai keluar untuk mencari makanan. Jumlahnya tidak begitu banyak karena memang keterangan dari petugas yang ada di situ, banteng yang di Sadengan tinggal 62 ekor.

Sebelum keluar dari Alas Purwo, kami menumpang mandi sekalian makan di warung sebelah pos petugas. Namanya warungnya cukup unik “Rawbend” yang kemudian kami tahu dari pemiliknya nama itu adalah singkatan dari Rawa Bendo, nama daerah itu. Warungnya biasa saja, tidak begitu besar. Hanya ada tiga meja di dalam dan tiga meja di luar. Menunya pun sederhana, hanya mi kuah, mi goreng, nasi goreng, dan ikan laut. Yang luar biasa adalah pelayanannya.

Kami diterima sangat baik oleh pemilik warung. Rasanya seperti masuk rumah saudara. Malam itu kami ditawari ikan laut yang namanya ikan putih digoreng kering dengan cocolan sambal matang. Hm… so yummy…. Untungnya kami berempat pemakan segala, tidak pilih-pilih dan tidak alergi apa pun, jadi semakin mudahlah hidup kami . Keluar dari warung, kami diberi bekal ikan goreng. Bonus… bonus….

Fifin

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved