JFC XI Habiskan 100 Kemucing
Kostum identik dengan masing-masing defile dan punya keunikan sendiri-sendiri
Penulis: Sri Wahyunik | Editor: Satwika Rumeksa
Sekitar 600 peserta akan mengekpresikan 10 defile itu dalam kostum dan gerakanmereka. Kostum identik dengan masing-masing defile dan punya keunikan sendiri-sendiri.
Salah satu kostum yang unik adalah defile 'Trinidad & Tobago'. Sebagai
karnaval busana tingkat internasional, JFC selalu menampilkan budaya
negara lain. Kali ini, negara di kepulauan Karibia yakni 'Trinidad &
Tobago' terpilih sebagai negara yang kebudayaannya dieksplorasi dalam
JFC XI.
Penonton disuguhi kostum yang dihiasi bulu beragam warna. Aulia
Sekarini, salah satu peserta dalam defile ini memilih perpadua warna
terang dan gelap yakni ungu, pink juga kebiruan. Kostumnya didominasi
dari bulu kemucing (alat bersih-bersih debu).
"Yang paling sulit dari kostumku ini bulu-nya. Karena harus berburu
hingga ke JOgja (Jogjakarta) ke Pasar Malioboro, terus melepas bulu
dari kemucing kemudian menata bulu satu per satu ke kostum," ujar
Aulia, remaja asal Kabupaten Bondowoso ini.
Karenanya ia membutuhkan waktu 1,5 bulan untuk membuat kostumnya.
Pengerjaan paling lama ada di pemasangan bulu. Bulu-bulu itu dipasang
mulai dari mahkota, sayap, baju hingga sepatunya yang berwarna pink.
"Kalau biayanya habis sekitar Rp 1 juta gitu. Untuk kemucingnya saja
habis sekitar 100 kemucing," lanjutnya.
Susah payah selama 1,5 bulan akan tertebus dengan penampilan cantiknya
di JFC kali ini. Kostumnya terlihat unik dan cantik dengan bulu
warna-warni. "Saya memilih kostum ini juga karena unik, terus banyak
warna dan saya bisa belajar tentang negara Trinidad and Tobago,"
tegasnya. Ini merupakan penampilan kedua Aulia dalam JFC.