Rabu, 20 Mei 2026

Hai Coy, Yuk Mampir ke Dim Sum Choie

Nikmati dim sum dengan gaya lain yaitu di kaki lima G Walk Food Junction, Citraland.

Tayang:
Penulis: Marta Nurfaidah | Editor: Endah Imawati
zoom-inlihat foto Hai Coy, Yuk Mampir ke Dim Sum Choie
Marta Nurfaidah
SURYA Online, SURABAYA - Dim sum selama ini dikenal sebagai makanan mahal dan hanya bisa ditemukan di restoran hotel berbintang atau mal. Kini ada pilihan lain. Makan dim sum di kaki lima.

Dim Sum Choie membawa orang seolah kembali ke masa saat kudapan dari China ini berasal. Berkonsep pedagang kaki lima, Dim Sum Choie menyajikan puluhan dim sum kesukaan kreasi Chef Abdul Manan.

"Dulu dim sum itu makanan yang biasa ditemui di pinggir jalan," kata Abdul Manan.

Ada yang diolah dengan teknik kukus (steam) atau digoreng. Citarasanya beragam. Manis, gurih, asin, dan asam dihidangkan dalam keranjang kecil bambu (basket). Saus tomat, saus sambal, dan kecap asin menjadi kondimennya.

Siomay ayam, siomay udang, hakau, casio ayam, ceker ayam, bakpao pandan, onde-onde, steam tahu, bisa disantap hangat di tempat. Tidak ketinggalan bubur Taiwan dan tom yam Thailand. Asyiknya, semua itu dapat diperoleh hanya dengan merogoh kocek Rp 7.000 per porsi.

"Semua kalangan bisa merasakannya karena harga terjangkau dan dibuat dari bahan halal," ujar Abdul Manan. Seperti Keicak yang berupa irisan daging paha ayam, jamur, dan wortel yang dibungkus dengan kembang tahu.

Dim Sum Choie ini bertempat di G Walk Food Junction, Citraland. Nama Choie dipilih sesuai dengan slogan mereka yaitu Rasa Nikmat Harga Bersahabat.

"Choie itu kan seperti teriakan orang-orang Surabaya kalau bertemu dengan sesama teman, 'halo coy'," jelas chef yang sudah berpengalaman di berbagai restoran Chinese di Indonesia dan Malaysia itu. Jadi, mereka ingin menjadi teman para konsumen melalui rasa dan harga yang tak kalah bersaing dengan dim sum kelas restoran.

Dijelaskan Yoyok Nur Cahyo, Promotion Manager Dim Sum Choie, bahwa selain di G Walk, ada pula cabang di Siwalankerto, Rungkut Madya, dan Tenggilis. "Sengaja dibuat seperti warung atau fusion supaya lebih familier. Kalau di Jakarta konsep seperti ini sudah booming, di Surabaya sudah ada tetapi belum tertata dengan baik dari sisi penyajian dan kualitas," paparnya.

Untuk itu, Abdul Manan dan Yoyok benar-benar menjaga kualitas dim sum dengan memakai bahan lokal dan impor yang baik. Tepung sagu atau san fen pun diimpor dari Belanda.

Urutan memasak dan takaran bahan juga tidak boleh diubah agar hasilnya maksimal. Tidak sia-sia, di akhir pekan, mereka dapat memproduksi 700 porsi dim sum berbagai jenis di satu tempat saja.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved