Komunitas Lipat Sepeda Brompton

Roda kecil, setang tinggi, tinggal dilipat, dan siap masuk mobil.

Penulis: Marta Nurfaidah | Editor: Endah Imawati
zoom-inlihat foto Komunitas Lipat Sepeda Brompton
ahmad zaimul haq
Komunitas Sepeda Brompton

SURYA Online, SURABAYA - Bentuknya sekilas mirip dengan sepeda lipat kebanyakan. Roda kecil dan setang tinggi. Begitu diperhatikan dengan seksama, ada brand yang sudah mendunia tertera di frame sepeda, Brompton. Itu merek sepeda lipat dari Inggris yang mempermudah hidup menjadi lebih praktis.

Rata-rata orang menyukai sepeda lipat Brompton karena kepraktisannya. Bisa dilipat dalam empat langkah dan dimasukkan tas, bagasi mobil, hingga bagasi pesawat. Di negeri asalnya, sepeda ini justru digunakan para pegawai berangkat ke kantor. Dilipat, dibawa masuk subway, naik komuter, dan langsung dikayuh begitu sampai stasiun tujuan. Layak sebagai penyambung moda transportasi.

Vecky Budiman (42), penikmat gowes yang tergabung dalam BikeBerry menuturkan pengalamannya mengendarai sepeda Brompton. ”Enak dan ringkas, bisa dipakai berkeliling kota atau touring lho,” ungkapnya, Sabtu (2/6).

Malah, dia pernah membawanya bersepeda di luar kota dan luar negeri. Seperti Singapura, Jogjakarta, Solo, Bali, dan Malang. Sebab, sepeda ini bisa dilipat dan dijinjing begitu saja karena hanya seberat 12 kilogram.

Selama di Singapura, Vecky membawa Brompton-nya naik MRT, bus, atau sekadar dikayuh mengelilingi negara kota itu. ”Di Surabaya, belum bisa seperti itu karena sistem transportasinya belum bagus,” kata karyawan BUMN ini.

Maka, setahun ini Vecky setia dengan Brompton kesayangannya. Apalagi, perawatan sepeda ini tidak terlalu rumit, cukup diseka dengan lap bersih.

Yanti Sarwono memang menyukai sepeda lipat. Selain Brompton, dia memiliki dua jenis sepeda lipat lainnya. ”Brompton saya suka karena lucu, lipatannya juga lebih ringkas. Ditaruh mobil pun tidak akan menghabiskan ruang,” tutur perempuan yang baru empat bulan ini mempunyai sepeda Brompton.

Selain untuk bersepeda dengan teman-teman di BikeBerry, sepeda ini kadang dipakai Yanti ke tempat kerja juga. ”Saya suka bersepeda, kalau bukan Brompton ya sepeda lipat yang lain,” ujar Yanti yang berprofesi sebagai karyawan swasta dan wiraswasta ini.

Selain Yanti, ada pula Maya yang ternyata sempat mengalami pengalaman buruk gara-gara Brompton. ”Mungkin karena posisinya yang salah, sekarang saya harus pakai korset kalau mengendarai sepeda,” papar Maya.

Bersama si buah hati, Kimi Ermanda yang berusia 10 tahun, Maya tak patah semangat ikut mengelilingi Kota Surabaya bersama anggota BikeBerry lainnya. ”Pemilik Brompton di Surabaya tercatat juga sebagai anggota BikeBerry. Jumlahnya sekitar 30 orang,” sahut Vecky. Dan lima diantaranya adalah perempuan.

Brompton yang disukai kaum lelaki dan perempuan ini mulai diproduksi sejak 1979 yang berbasis di Brentford, London. Semua sepeda memiliki ukuran frame dan ban yang sama. Si penemu, Andrew Ritchie, mengawali membuat prototipe pertama dari kamar tidurnya.

Rully Fittipaldi memiliki sepeda Brompton keluaran lawas. “Saya memperoleh sepeda ini dari internet, milik orang Singapura. Waktu itu sekitar tahun 1999an,” jelas Rully yang sehari-hari bekerja di Denpasar, Bali ini.

Sepeda tersebut lalu dikirim melalui Batam. Dan merupakan produksi tahun 1992 dengan jumlah 60 unit saja di seluruh dunia. Oleh sebab itu, di antara teman-temannya, Brompton Rully paling tua.

Tiga unit sepeda Brompton edisi Royal Wedding yang khusus dibuat untuk merayakan pernikahan Pangeran William dan Kate Middleton. Di seluruh dunia hanya diproduksi 300 unit dan tiga diantaranya dimiliki orang Indonesia. Dua unit di Surabaya dan satu unit di Jakarta.

”Kebetulan saya suka warna putih, dan Brompton tipe M3L ini dibuat dengan warna Sake White. Jadi ya saya beli,” kata dr Dwinanto Ananda SpOG. Meskipun dia bukan penggemar Pangeran Williams maupun Kate.

Satu unit sepeda ini harganya Rp 20 juta dan dilengkapi dengan tas jahitan tangan berhias mahkota kerajaan Inggris pada bibir tas. Tulisan Brompton pun berbeda, dicetak dengan warna emas dengan kedua nama mempelai.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved