Awas Tergoda Balungan Bakso…
Hmm... rasanya puas jika mampu melahap sumsum dalam sekali sedot dan langsung lumer di dalam mulut.
Penulis: Tri Hatma Ningsih | Editor: Tri Hatma Ningsih
oleh : Tomy M Saragih
(Pimred Jurnal Ilmiah Indonesia Cogito Ergo Sum)
Rata-rata ada sepuluh penjual bakso yang melewati depan rumah saya namun hanya satu yang benar-benar nikmat di lidah saya. Bagi saya, apakah bakso enak atau tidak dengan bertanya langsung pada penjualnya apakah dia menjual balungan (tulang-belulang sapi, red) atau tidak. Asal tahu saja, balungan ini biasanya merupakan tulang kaki sapi yang dipotong sedemikian rupa dan rata-rata panjangnya 25 cm dan direbus ke dalam kuah bakso.
Sebetulnya hampir semua penjual bakso pasti membawa balungan di dalam dandangnya namun balungan tersebut tidak selalu dijual karena hanya sebagai pelezat kuah baksonya. Konon, semakin lama balungan direbus akan semakin enak dan gurih kuah bakso. Seringkali balungan dijual pada saat penjual bakso telah pulang dari berjualan. Jadi bila membeli bakso pada saat jam pulang penjual bakso, tanpa meminta pun kita pasti akan diberi balungan kosong tanpa ada isi sumsum lagi di dalam tulang bakso.
Nah, kembali ke balungan tadi. Bila penjual bakso mengatakan ia menjual balungan, dapat dipastikan bahwa baksonya memiliki kelebihan. Selain kuah kental lezat akibat tercampur tumpahan sumsum dari dalam balungan, bakso tadi juga bercampur dengan lemak-lemak kecil yang melekat di sekitar balungan. Pun dengan Pak To, penjual balungan bakso langganan saya ini membawa empat balungan setiap harinya untuk memuaskan hasrat pelanggan balungan baksonya. Memakan balungan bakso pun butuh keahlian khusus karena saat balungan dihidangkan, kuah yang panas akan masuk ke dalam ujung balungan yang terbuka. Di sinilah seni menyantap balungan bakso ini.
Perlahan tuang kuahnya dahulu ke dalam mangkok, kemudian dengan tenaga kuat sedot habis sumsum di dalamnya. Hmm... rasanya puas jika mampu melahap sumsum dalam sekali sedot dan langsung lumer di dalam mulut. Sebetulnya bisa juga menghabiskan sumsum di dalam balungan dengan cara mengoreknya memakai sedotan atau gagang sendok makan yang dimasukkan ke dalam balungan tadi. Atau, cara lain yang mungkin biasa Anda lakukan.
Puas mengeluarkan sumsum, barulah kita mempreteli otot ataupun daging lunak yang melekat pada pangkal balungan. Di sinipun kita harus mengikis habis otot-otot sapi dengan gigi tanpa bantuan alat lainnya. Barulah bagian terakhir adalah mencocol bakso dengan campuran kecap manis, cuka dan sambal. Akan terasa lebih untung membeli balungan bakso melalui penjual bakso ini karena dengan uang Rp 10.000 (dua bakso, satu balungan dan satu gorengan jika abang tukang baksonya berbaik hati) kita sudah bisa menghisap, menggigit dan mengunyah organ tubuh sapi.
Walaupun harga balungan di pasar rakyat berkisar Rp 6.000 hingga Rp 7.000 namun untuk mengolahnya menjadi hidangan nikmat membutuhkan kompor gas yang menyala terus menerus selama kurang lebih 80 menit agar otot dan daging di sekitar balungan tadi menjadi lunak. Hal ini tentu tidak selaras dengan program pemerintah untuk menghemat energi. Lain halnya dengan penjual bakso yang wajib menyalakan kompor gasnya agar bakso tetap panas dan menjadi nikmat untuk dihidangkan. Jadi siapa yang tidak tergoda menikmati balungan bakso ditemani segelas es kelapa muda?
KOMENTAR