Siapa yang tak pernah mencicipi bakso? Penjual makanan ini tersebar mulai Sabang sampai Merauke. Penampilan bakso dimanapun sama, berbentuk bulat, meski dalam perkembangannya ada pula yang berbentuk kotak. Umumnya terbuat dari daging sapi, dipadu dengan kaldu sapi, plus aneka isi di dalam kuahnya.
Jumlah pedagang bakso dari bulan ke bulan terus bertambah, skalanya pun bisa pilih dari yang rombong kaki lima, depot hingga yang mengusung konsep moderen swalayan di mal-mal.
Bagi Bambang Widyatmo, pedagang bakso Solo di Jalan Raya Tengger 30 Kandangan, Surabaya, potensi berbisnis bakso di Surabaya sangat menarik. “Orang Surabaya doyan makan, bikin apa saja pasti laris, asalkan enak,” ungkapnya.
Tak heran, bisnis yang dirintis orangtuanya yang asli Solo sejak 1995 ini bisa dijadikannya sandaran hidup keluarga. “Saya sudah ada lima franchise dengan nama Bakso Tik Tok yakni di Pati, Solo, Jogjakarta, Denpasar, dan Lampung. Tetapi di Kandangan, lebih terkenal dengan nama Bakso Solo Tengger,” kata pria kelahiran Jakarta 22 Oktober 1976 ini.
Di Surabaya dan sekitarnya, ia mengelola sendiri bisnis baksonya di lima outlet yakni di Tengger, Lakar Santri, Manukan Krajan, Benowo dan dua di Gresik. Setiap outlet yang buka mulai pukul 09.00 hingga 21.00 bisa menghasilkan omzet Rp 4–5 juta per bulan, namun khusus outlet kecil (franchise) omzetnya hanya Rp 1–2 juta per bulan.
Untuk membeli hak franchise atau waralaba Bakso Tik Tok tidak sulit, modalnya antara Rp 15–30 juta, tergantung ukuran rombong yang diinginkan. Untuk bahan-bahan yang akan dijual seperti, bakso halus, bakso kasar, mie, tahu putih, tahu goreng, dan gorengan, akan dipasok. Namun, pasokan itu hanya akan berlaku selama tiga bulan saja.
“Setelah tiga bulan dilatih, pemegang hak franchise mulai mengelola sendiri. Nama Tik Tok ini hanya untuk waralaba, kalau di lima outlet namanya tetap pakai bakso Solo dan saya kelola sendiri bersama istri,” ujar suami Farida Hanum ini.
Bukan hanya melayani pembeli di depot rumahnya, pesanan bakso untuk keperluan event-event khusus juga dilakoni pasangan ini. “Kami juga melayani pesanan untuk hajatan pernikahan, sunatan, atau arisan,” tambah Haji Suparno didampingi istri, orangtua Bambang, pendiri bakso Solo ini.
Pesanan itu biasanya diantar sampai lokasi. Tetapi, untuk pesanan terbatas dan lokasi yang cukup jauh, Suparno mengaku belum bisa memenuhi. “Ini karena karyawan yang kami miliki masih sangat terbatas,” ujarnya.
Tahun depan, Bambang berencana memperluas jangkauan pemasaran baksonya. “Saya mau buka outlet di tengah kota Surabaya. Pemasaran masih tradisional di kaki lima, belum masuk mal karena tarif sewanya pasti tinggi,” akunya.
Resep bakso buatannya turun temurun dari orangtua. Untuk satu outlet di daerah Tengger saja, setiap hari ia harus belanja 40–45 kg daging sapi, mie sekitar 30 kg. Setiap 5 kg daging sapi segar dicampur dengan 1 kg tepung kanji.
“Daging sapi ini biasanya langsung saya gilingkan di pasar, dicampur dengan tepung kanji. Setelah itu, proses membuat bentuk bulat-bulat dikerjakan beberapa karyawan di rumah. Mereka ini tidak hanya memasak tetapi juga ikut menjual dan melayani di outlet,” terang Bambang, yang kini mempekerjakan 12 karyawan ini.
Harga semangkuk bakso campur bikinannya, cukup terjangkau hanya Rp 6.000, terdiri dari empat buah bakso, tahu, mie dan gorengan, “Persaingannya memang ketat, di daerah Surabaya Barat saja bisa dihitung ada berapa orang yang jualan bakso. Rasanya juga beragam. Pembeli tinggal menyesuaikan dengan selera. Soal harga pasti relatif, kalau ukuran pedagang kaki lima (PKL) tidak bisa mematok harga mahal karena nggak akan laku,” jelas Bambang.
Yuk Bikin Bakso Rame-rame
Bikin bakso tidak terlalu sulit. Biasanya yang terasa rumit, saat kita mencari kekhasan untuk rasanya. Soal konsep pemasaran, merek dagang hingga bentuk bakso, bisa menjadi pembeda dari bakso-bakso. Namun, tentu saja butuh upaya ekstra menjadikannya unik.
Cara membuat bakso sapi, sediakan daging sapi segar, lalu bumbu-bumbunya seperti garam, merica bubuk, bawang putih untuk digiling bersama dengan tepung kanji.
“Setelah digiling halus, tinggal dibentuk bola-bola atau sesuai selera, lalu masukkan dalam air mendidih untuk dimasak selama 10 menit. Jangan sampai air mendidih terlalu lama karena bisa bikin adonan bakso pecah,” tutur Bambang.
Untuk kuahnya, siapkan air biasa atau air rebusan daging sapi, kaldu ayam, merica bubuk, garam, bawang putih sampai daun bawang. Masukkan bakso yang sudah dididihkan dalam air tadi. Jadi deh! Tinggal siapkan isi campurannya, seperti mie, tahu, serta gorengan.
“Komposisi daging sapi dan tepung kanji harus proporsional. Kalau bakso Solo biasanya lebih kuat ke rasa daging sapinya, jadi untuk tepung kanjinya sesedikit mungkin,” jelas Bambang.