Berkibar Setelah Bikin Bakso Ukuran Jumbo

Penulis: Tri Dayaning Reviati |
Bentuk bakso dimanapun tetap sama. Bulat seperti bola. Namun, di tangan Ngatimun, bakso menjadi unik lantaran ukurannya sebesar bola bowling atau sekitar 15 kali dari ukuran bakso standar. Harganya cukup fantastis, Rp 30.000 per bakso. DWI PRAMESTI YS Surabaya “Hidup saya tergantung bakso, dari tahun 80–an sampai sekarang. Jualan mulai rombong kaki lima sampai punya stan sendiri ya tetep bakso. Kakak, adik sampai anak saya akhirnya ikut berbisnis bakso juga, tetapi dengan merek berbeda,” ujar Ngatimun (51), saat ditemui di stannya yang berlokasi di Taman Bungkul, Jumat (18/11). Ngatimun memiliki keahlian membuat makanan berkuah ini sejak bekerja di usaha bakso milik seseorang. Sempat malang-melintang ikut orang, akhirnya ia membikin usaha bakso sendiri. “Saat itu sekitar tahun 1982, saya bikin usaha bakso sendiri dengan nama Bakso Cita Rasa di gedung film Jalan Opak, tapi penjualannya datar-datar saja. Kebetulan ketika ke Cibinong tahun 1995, saya lihat kok ada bakso besar banget, dari situlah saya terinspirasi,” ujarnya. Di Surabaya sendiri belum ada bakso ukuran jumbo saat itu. Suami Sunarti inipun berniat mengembangkan usahanya secara serius dengan memberi merek dagang yang diambil dari nama tokoh pewayangan. “Saya pakai nama Sadewo, usaha bakso kakak pakai nama Nakula, adik saya pakai nama Pandawa. Konsepnya sama, jualan bakso jumbo,” jelas pria kelahiran Malang, 24 September 1960 ini. Bapak tiga anak ini membuat tiga ukuran bakso, mulai jumbo seberat 6 ons (Rp 30.000), ukuran super 3,5 ons (Rp 15.000), ukuran biasa 2 ons (Rp 8.000). Satu porsi atau satu mangkuk bakso biasa dihargai Rp 10.000 (1 pentol, 1 tahu, 1 gorengan, plus mie). Pembuatan bakso berbagai ukuran itu, ia lakukan sendiri sejak pukul 05.00 pagi. Dari menggiling daging sapi yang dicampur tepung kanji dan bumbu, kemudian membentuk bulat-bulat dibantu karyawannya, memasak bakso hingga siap saji. “Selama ini pelanggan setia saya yang terjauh dari Brunei dan Medan, kalau ke Surabaya pasti telepon minta dikirim ke hotel dimana ia menginap. Kami siap antar,” aku Ngatimun, yang membuka usahanya sejak pukul 10.00 pagi. Mereka memesan bakso jumbo minimal 10 biji atau senilai Rp 300.000. “Saya tinggal packing dan kirim tanpa kuah dan mie. Mereka olah sendiri entah dimasak bagaimana,” katanya. Setiap harinya, Ngatimun membutuhkan 35 kg daging sapi per hari untuk diolah menjadi bakso, khusus Sabtu dan Minggu biasanya kebutuhan daging mencapai 60–70 kg per hari. “Hari biasa omzetnya Rp 2 jutaan per hari, kalau Sabtu atau Minggu bisa sampai Rp 5–6 juta,” kata pria yang tinggal di Raya Darmo Kalimir 120A. Ia beruntung tak perlu membayar sewa stan, karena Pemkot Surabaya telah melokalisasi PKL di sekitar area Taman Bungkul di satu titik sejak enam tahun silam. “Saya cuma bayar retribusi kebersihan Rp 5.000 per hari,” ujar Ngatimun sumringah. Ngatimun tidak berniat menawarkan hak waralaba Bakso Sadewo ke orang lain. Ia meyakini  bisnis makanan yang diwaralabakan banyak ruginya. Dalam setahun ketika masa pembinaan, soal rasa akan sama karena masih dipantau. “Tetapi setelah dilepas, jadi nggak karuan rasanya. Saya bikin bumbu bakso aja bisa beda rasanya dengan bikinan anak saya, apalagi dibikin oleh orang lain,” ungkap pria yang mempekerjakan enam orang karyawan. Saat ini, bakso Sadewo hanya memiliki satu cabang di Jalan Kapuas, rencananya Ngatimun akan buka satu cabang lagi di Jalan Kalasan 16 pada akhir November ini.
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved