Lilin Ini Terbuat Dari Limbah Sarang Lebah
Penulis: Titis Jati Permata |
PEKANBARU | SURYA Online - Lilin dari limbah sarang lebah hutan di Taman Nasional Tesso Nilo, Provinsi Riau, berhasil menembus pasar ekspor ke Amerika Serikat (AS).
"Mulai bulan Oktober ini, sebanyak 500 kilogram lilin lebah dari Tesso Nilo akan diekspor ke Amerika Serikat," kata Koordinator Pengembangan Masyarakat WWF Program Riau, Adi Purwoko di Pekanbaru, Jumat (21/10/2011).
Tesso Nilo merupakan kawasan konservasi di Provinsi Riau, yang memiliki kekayaan hayati alami yang sangat tinggi. Lilin lebah (beeswax) merupakan produk turunan yang diolah dari limbah sarang lebah hutan yang banyak didapatkan di Tesso Nilo.
Menurut dia, WWF membantu memfasilitasi pembentukan Asosiasi Petani Madu Hutan Tesso Nilo (APMTN) yang beranggotakan 50 orang warga sekitar hutan sejak tahun 2010.
Selain memberi pelatihan pengolahan madu secara lestari dan higienis, organisasi itu juga melatih ibu-ibu PKK untuk membuat "beeswax".
Ekspor lilin lebah ke AS melalui kerjasama dengan Jaringan Madu Hutan Indonesia (JMHI) dan dikabarkan komoditas itu diminati perusahaan besar di AS seperti Amway. Perusahaan asing itu tertarik menggunakan lilin lebah karena dinilai lebih baik untuk bahan baku produk kosmetik, sabun, dan lainnya.
Harga jual lilin lebah ke AS mencapai Rp 30.000 per kilogram. "Lilin yang kita ekspor masih dalam bentuk mentah, berbentuk bongkahan yang merupakan hasil pengolahan paling dasar dari limbah sarang lebah hutan," ujarnya.
Menurut dia, prospek bisnis lilin lebah Tesso Nilo sangat potensial karena sejak tahun 2010 juga telah menembus pasar Malaysia. Harga jual produk lilin lebah ke negeri Jiran bahkan lebih tinggi, yakni Rp 45.000 per buah karena sudah berbentuk produk lilin siap pakai untuk penerangan.