Jumat, 15 Mei 2026

Digulung Truk, 10 Pemuda GKJW Tewas

Tayang:
Penulis: Rudy Hartono |
MOJOKERTO I SURYA Online - Sebanyak 10 orang meninggal dunia dan 43 lainnya mengalami luka berat, setelah truk yang ditumpangi terguling, Minggu (14/8). Mereka adalah para pemuda Greja Kristen Jawi Wetan (GKJW) dari berbagai jemaat di Majelis Daerah (MD) Surabaya Barat. Insiden maut itu terjadi menjelang akhir kegiatan Kebaktian Padang yang digelar Komisi Pembinaan Pemuda dan Mahasiswa (KPPM) GKJW MD Surabaya Barat di Wana Wisata Air Terjun Dlundung Trawas yang diikuti sekitar 150 orang. Saat itu mereka menumpang dua truk engkel dan satu mobil pribadi. Sekitar pukul 12.30 WIB, usai mengikuti outbound yang merupakan bagian dari Kebaktian Padang itu, mereka kembali ke base camp di Vila Suryo, di Desa Ketapan Rame, Trawas, tempat mereka menginap sejak Sabtu (13/8/2011). Untuk menuju ke vila itu, mereka harus naik truk dan mobil pribadi. Namun, saat tiba di turunan cukup curam Desa Ketapanrame, truk Isuzu putih AG 8076 UD diduga mengalami rem blong. Truk yang dikemudikan Ibnu Abas yang sebelumnya berjalan di belakang, mendahului truk rombongan di depannya, bahkan sempat menyenggol. Truk pun oleng, Abas berupaya mengendalikan laju truk. Namun, di depannya ada pick-up Mitsubishi W 8257 NE parkir. Tabrakan keras pun tak bisa dihindarkan. Akibatnya, pick-up tersebut terbalik. Sedangkan beberapa penumpang truk terpental keluar. Karena jalan menurun ditambah rem blong, truk tidak bisa berhenti. Bahkan melaju hingga beberapa meter. Truk baru berhenti dalam kondisi terguling dan kepala memutar 180 derajat setelah menabrak tiang listrik dari beton. Sebelum berhenti, truk sempat berguling-guling tiga kali. “Truk itu kencang sekali, sepertinya remnya blong. Usai menabrak sempat terguling-guling dan akhirnya berhenti,” ujar Cholis, warga Ketapanrame yang melihat langsung kejadian itu. Bahkan, menurut Cholis, begitu kerasnya tabrakan itu, beberapa orang yang ada di atas truk sempat terpental keluar bak truk. “Mereka tergeletak di jalan,” katanya. Benturan hingga tergulingnya truk itu beberapa kali menimbulkan kengerian pada rekan-rekan korban yang menyaksikan dari truk lain berwarna merah. Jerit histeris para korban bercampur dengan teriakan para rekan di truk belakang. Begitu truk berhenti, warga di sekitarnya langsung mengevakuasi korban, termasuk yang berserakan di jalan sempit itu. Untuk diketahui, jalan yang menjadi lokasi kecelakaan itu tidak terlalu lebar, hanya sekitar 5 meter dan di kiri kanannya ada bangunan rumah. Ini menyebabkan ruang yang tersedia untuk menyalip pun nyaris tidak ada, apalagi antara dua truk. Diduga, keadaan inilah yang membuat truk putih itu langsung menyambar pick-up yang sedang diparkir itu. Akibat peristiwa ini, dua orang meninggal di lokasi kejadian. Sedang puluhan lainnya mengalami luka berat dan ringan. Mereka pun dilarikan ke beberapa rumah sakit yang ada di Mojosari dan Mojokerto. Namun, dalam perjalanan evakuasi korban, terdapat 10 orang yang meninggal dunia akibat peristiwa itu. Sementara, sampai petang kemarin, 43 orang lainnya mengalami luka berat, dan empat orang mengalami luka ringan. Mereka yang meninggal dunia, yakni dua orang di RS Sumberglagah, Mojokerto, tujuh orang di RSUD Soekandar Mojosari, dan seorang di RSUD Dr Wahidin Soediro Husodo, Kota Mojokerto. Sementara yang mengalami luka berat juga tersebar di beberapa rumah sakit. Selain di tiga rumah sakit milik pemerintah tersebut, beberapa orang juga dirujuk ke rumah sakit swasta di Mojokerto dan Mojowarno. Korban meninggal dunia, dua di antaranya di RS Sumberglagah, Pacet, yakni Kristiana Nugraini (21), asal Mojowarno, dan Deni (23), asal Mojowarno. Sedang yang meninggal dan dilarikan ke RS dr Wahidin Soediro Husodo Kota Mojokerto, yakni Novi Retnosari (13) dari Mojowarno. Sedang yang meninggal dunia dan dilarikan di RS Prof Dr Sukandar Mojosari, yakni Nugroho (17), asal Mojowarno; Mikho (34), asal Mlirip, Jetis; Rio (20), asal Mojowarno; Oki Simon (16), asal Mojowarno; Aditya (20), asal Dlanggu, Mojokerto; Tiur (20), asal Kutorejo; dan Cristino Indra Pradika, juga dari Mojowarno. Cristino sempat tidak diketahui identitasnya. Bahkan keluarganya yang mendapat kabar bahwa pemuda itu termasuk menjadi korban pun kelabakan mencari ke sana kemari. Bahkan, ibu Cristino, sempat juga mencari keberadaan anaknya itu ke RS Soekandar, tetapi perempuan itu mengaku tidak menemukannya. Padahal, Cristino sudah dievakuasi ke rumah sakit itu, namun belum diketahui identitasnya. Dari informasi yang dihimpun, para pemuda ini sedang mengikuti Kebaktian Padang KPPM pada 13-14 Agustus. Mereka berasal dari sejumlah jemaat GKJW. Di antaranya, 30 orang asal GKJW Mojosari, 30 orang dari Wates Kediri, 14 orang dari Trowulan, 17 orang dari Jetis, 8 orang dari Ngoro, 6 orang dari Mojosulur, 2 orang dari Dawarblandong, dan 44 orang dari Mojowarno, Jombang. Sebagian besar penumpang truk nahas itu berasal Jetis, Dlanggu, Kutorejo, dan Mojowarno. Sehingga korban luka maupun meninggal pun dari jemaat itu. Aprilia, salah satu peserta menyatakan, sebenarnya Kebaktian Padang ini sudah usai dan mereka sudah meninggalkan Air Terjun Dlundung tempat mereka mengikuti outbound. “Kami hendak kembali ke Vila Suryo, namun nahas, kecelakaan terjadi karena rem truk blong,” katanya. Sampai petang kemarin, beberapa keluarga korban, sejak pukul 15.00 WIB, mulai mendatangi RS Prof dr Sukandar Mojosari. Mereka tampak kebingungan mencari sanak saudaranya. Kapolres Mojokerto AKBP Prasetijo Utomo memastikan, insiden yang menewaskan 10 orang jemaat GKJW itu akibat rem truk blong. “Mereka berjalan iring-iringan, namun salah satu truk remnya blong,” ujar Prasetijo saat berada di RS Prof dr Soekandar Mojosari. Menurut Kapolres Prasetijo, kondisi jalan yang menurun sekitar 60 derajat ini, membuat rem blong. Selain kondisi jalan yang menurun, juga karena beban muatan truk yang mengangkut sekitar 60 orang. “Kami sudah meminta keterangan beberapa orang saksi,” ujarnya. Salah satunya yang sedang dimintai keterangan polisi yakni Pendeta Suryo Atmojo asal GKJW Mojosari yang sebagai penanggungjawab kegiatan tersebut. Selain itu, juga sopir pick up dan Ibnu Abas, sopir truk nahas itu. Sementara itu, kepada radio Suara Surabaya, Wimbo Santjaka, Pendeta GKJW Jemaat Mojowarno mengatakan, pihaknya sebenarnya sudah melarang para pemuda itu menggunakan truk engkel, namun rombongan remaja ini tetap bersikeras. “Kami tidak pernah menyarankan memakai truk, tapi pemuda ini tetap mau naik truk,” katanya. Peserta terbanyak dari Mojowarno, yaitu 44 orang yang dikirim mengikuti kegiatan outbound di Dlundung , Trawas, Mojokerto. ”Kami sudah mendapat informasi 4 korban dari Mojowarno meninggal. Keluarga sudah dikabari semua,” ujar Wimbo. bet
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved