Bahan Rongsokan Pemulung, Dijual Laku Rp 700.000
Penulis: Cak Sur |
[caption id="attachment_185099" align="alignleft" width="300" caption="UNIK - Mengandalkan kreativitasnya, Sulkan mengubah limbah menjadi miniatur lokomotif kereta api yang bernilai seni tinggi. Foto: surya/m zainudin"]
[/caption] Cita-cita menjadi masinis yang kandas, ternyata justru mengantarkan Sulkan menjadi pebisnis. Perajin miniatur lokomotif, bahkan sudah mematenkan kerajinannya yang unik.
M Zainudin
Kota Malang
Miniatur lokomotif karya Sulkan (50) ini terlihat terpajang rapi di ruang tamu rumahnya, Jalan Pakis 103, Kabupaten Malang. Sebagian lagi, ditata di toko elektronik miliknya yang terletak bersebelahan dengan ruang tamu.
Sepintas tidak ada yang istimewa dari miniatur lokomotif ini. Bila dilihat dengan cermat, baru bisa diketahui keunikan bahan yang digunakan. Di situ ada kunci, tutup gelas, head set, potongan pipa, dan berbagai limbah lainnya. “Semua ini memang dari limbah yang kelihatannya tidak bisa digunakan lagi,” kata Sulkan di rumahnya.
Limbah-limbah tersebut ia peroleh dari para pemulung atau hasil temuannya di jalan. Meski demikian, bisa terlihat tingkat kesulitannya.
"Setiap lokomotif minimal butuh waktu seminggu untuk membuatnya,” tambahnya.
Karena butuh ketelatenan tinggi, miniatur ini dijual dengan harga bervariasi. Untuk lokomotif panjang 30 centimeter dipatok Rp 400.000 dan ukuran 60 centimeter ditawarkan Rp 700.000. Saat ini, Sulkan tengah membuat lokomotif sepanjang satu meter. “Mungkin nanti harganya bisa Rp 1,5 juta lebih. Ini lebih rumit dan lebih besar,” terangnya.
Bahan kerajinan yang unik ini mendorong Sulkan untuk mematenkannnya meski hingga saat ini, hak paten itu belum ia kantungi.
[/caption] Cita-cita menjadi masinis yang kandas, ternyata justru mengantarkan Sulkan menjadi pebisnis. Perajin miniatur lokomotif, bahkan sudah mematenkan kerajinannya yang unik.
M Zainudin
Kota Malang
Miniatur lokomotif karya Sulkan (50) ini terlihat terpajang rapi di ruang tamu rumahnya, Jalan Pakis 103, Kabupaten Malang. Sebagian lagi, ditata di toko elektronik miliknya yang terletak bersebelahan dengan ruang tamu.
Sepintas tidak ada yang istimewa dari miniatur lokomotif ini. Bila dilihat dengan cermat, baru bisa diketahui keunikan bahan yang digunakan. Di situ ada kunci, tutup gelas, head set, potongan pipa, dan berbagai limbah lainnya. “Semua ini memang dari limbah yang kelihatannya tidak bisa digunakan lagi,” kata Sulkan di rumahnya.
Limbah-limbah tersebut ia peroleh dari para pemulung atau hasil temuannya di jalan. Meski demikian, bisa terlihat tingkat kesulitannya.
"Setiap lokomotif minimal butuh waktu seminggu untuk membuatnya,” tambahnya.
Karena butuh ketelatenan tinggi, miniatur ini dijual dengan harga bervariasi. Untuk lokomotif panjang 30 centimeter dipatok Rp 400.000 dan ukuran 60 centimeter ditawarkan Rp 700.000. Saat ini, Sulkan tengah membuat lokomotif sepanjang satu meter. “Mungkin nanti harganya bisa Rp 1,5 juta lebih. Ini lebih rumit dan lebih besar,” terangnya.
Bahan kerajinan yang unik ini mendorong Sulkan untuk mematenkannnya meski hingga saat ini, hak paten itu belum ia kantungi. KOMENTAR