Lahan Makam di Kota Malang Tinggal 20 Persen

Penulis: Titis Jati Permata |
MALANG | SURYA Online - Lahan makam umum yang dikelola Pemkot Malang saat ini hanya tinggal 20 persen dari luas seluruhnya sekitar 10,25 hektare. Kepala Dinas Kebersihan Pertamanan (DKP) Kota Malang Wasto, Rabu (22/6/2011) mengakui, luasan lahan pemakaman yang dikelola Pemkot Malang, Jatim, semakin menyempit, bahkan bisa dibilang kritis karena sekarang hanya tinggal 20 persen saja. "Pemakaman umum yang dikelola pemkot ada sembilan lokasi dengan total lahan seluas 10,25 hektare, namun yang sudah dipakai rata-rata mencapai 80-90 persen di setiap lokasi," ujarnya, menambahkan. Ia mengakui, seharusnya memang sudah ada penambahan areal (lahan), namun kendala terbesar adalah masalah dana. Sebab, untuk membuka areal pemakaman umum baru membutuhkan anggaran yang cukup besar. Sebagai antisipasi semakin kritisnya lahan pemakanan karena tidak ada perluasan, kata Wasta, pihaknya sudah membuat kebijakan melalui Peraturan Daerah (Perda) Nomor 3 Tahun 2006 tentang Penyelenggaraan Pemakaman yang di antaranya menggunakan sistem tumpang. Hanya saja, lanjutnya, kebijakan dengan sistem tumpang tersebut bisa berjalan efektif jika ahli waris jenazah yang lama memberikan persetujuan, jika tidak maka sistem tumpang tersebut tidak bisa dilakukan. Rambu-rambu lainnya untuk bisa melaksanakan sistem tumpang adalah jika jenazah yang lama atau makam itu sudah berusia lebih dari tiga tahun atau setelah melewati 1000 hari. Setelah tiga tahun, katanya, ahli waris juga berkewajiban untuk melakukan registrasi dua tahunan dengan biaya sebesar Rp15 ribu untuk makam klasifikasi A, Rp10 ribu untuk klasifikasi B dan Rp7.500 untuk klasifikasi C. Jika ahli waris jenazah yang lama tidak melakukan registrasi, kata mantan Kabag Hukum Pemkot Malang itu, maka secara otomatis jenazah yang lama akan ditumpuk dengan yang baru.
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved