Breaking News:

Tim Densus 88 Asli Tangkap Tukang Bakso dan Sita Wajan

KUTAI | SURYA - Tim Densus 88 Antiteror Mabes Polri kembali menangkap orang yang diduga pelaku terorisme. Setelah menangkap enam orang terduga teroris di kawasan Kemayaron, Jakarta, Densus 88 menangkap dua orang, Juardi dan Faisal, di Jl Mulawarman, Desa Loa Duri, Kecamatan Loa Janan, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Minggu (12/6) dinihari. Dalam penggerebekan itu Densus 88 menyita laptop dan sebuah tas plastik berisi kabel, pipa paralon serta wajan. “Saya melihat orang-orang yang berpakaian serba hitam dan berkacamata yang semuanya membawa senjata laras panjang itu juga menyita sebuah laptop, telepon genggam, plastik berisi kabel dan pipa paralon serta sebuah wajan yang di tengahnya berlubang dari rumah Juardi,” kata Sujiono, seorang warga, yang mengaku menyaksikan penangkapan terduga teroris. Saat penangkapan, kata Sujiono, tidak terdengar adanya suara tembakan. Namun, warga sekitar sangat terkejut melihat kedatangan puluhan orang yang mengenakan rompi antipeluru dan membawa senjata laras panjang. “Mereka menggunakan tiga mobil dan saat turun dari mobil, petugas itu langsung berpencar dan mengelilingi rumah Juardi. Kami kemudian diminta menjauh sehingga suasana saat itu sangat tegang karena baru kali ini kami melihat langsung Densus 88. Tidak terdengar suara tembakan tapi Faisal terlihat sempat melawan saat akan dinaikkan ke mobil,” ungkap Sujiono. Warga lainnya, Jamilah, yang rumahnya persis berada di samping rumah Juardi, mengaku sangat terkejut melihat kedatangan puluhan orang sambil membawa senjata laras panjang tersebut. “Saya biasanya hanya melihat di televisi dan baru saat ini melihat Densus 88,” katanya. Rumah yang digerebek tersebut, kata Jamilah, merupakan rumah milik Juardi yang selama ini dikenal sebagai tempat penggilingan daging. “Selama ini Juardi berjualan bakso dan rumahnya juga digunakan sebagai tempat penggilingan daging. Kami, hanya tahu, Faisal mengontrak dan juga membantu Juardi menjual pentol,” katanya. “Faisal kerap keluar rumah saat akan shalat sementara istrinya menggunakan cadar dan hanya keluar saat berbelanja,” kata Jamilah. Warga mengaku tidak mengetahui secara pasti hubungan antara Juardi dan Faisal. “Setahu kami, Faisal hanya ngontrak di rumah Juardi dan kami tidak tahu apakah ada hubungan keluarga di antara mereka. Tapi, keduanya memang memiliki penampilan yang sama dan lebih banyak mengenakan sarung,” ungkap warga lainnya, Sismadi. Namun, baik Juardi maupun Faisal, kata warga, dikenal cukup ramah. “Mereka sering tersenyum jika bertemu dengan warga. Tapi, keduanya tidak pernah berkumpul dengan warga lainnya,” kata Yuliati, warga yang rumahnya hanya berjarak satu rumah dari rumah milik Juardi. Sebelum ditangkap, Juardi dan Faisal, kata Yuliati, baru pulang dari kampung halamannya di Jawa. “Mereka baru pulang tadi pagi dan siangnya langsung ditangkap. Katanya, mereka baru pulang dari Jawa namun kami tidak tahu tepatnya dia berasal dari Jawa mana,” katanya, Minggu. Kedua orang terduga teroris tersebut, kata warga, kerap bepergian hingga beberapa hari. Hingga Minggu sore, dua terduga teroris itu masih menjalani pemeriksaan intensif di Polsek Loajanan. Menurut salah seorang sumber di kepolisian yang tidak ingin disebutkan jati dirinya, penangkapan itu memang dilakukan Densus 88. Kedua terduga teroris itu selanjutnya akan dibawa ke Jakarta. Di Jakarta, Densus menggeledah rumah kontrakan milik Sarwono yang dihuni Martoyo (34) (sebelumnya ditulis Wartoyo) di Jl Kemayoran Gempol, Kelurahan Kebon Kosong, Kecamatan Kemayoran, Jakarta Pusat. Wartoyo adalah satu dari enam orang yang ditangkap Densus 88, Jumat (10/6). Keenam orang yang ditangkap itu diduga menyiapkan serangan dengan menyebarkan racun sia­nida di kantin-kantin polisi di Jakarta. Pada penggeledahan kali ini, kepolisian menyita empat benda berbentuk pipa berwarna merah. Keempat benda mencurigakan itu dibawa oleh Densus dengan dibalut oleh plastik putih bening. Menurut sumber dari kepolisian, keempat benda tersebut adalah wadah persembunyian bagi benda sejenis pen gun atau senjata berbentuk pulpen. Besar kisaran senjata ialah sebesar besi pada slot kunci pintu dan pelurunya lebih kecil dari peluru revolver. Keempat benda tersebut diambil dari rak piring rumah Martoyo.
Penulis: Cak Sur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved