Kamis, 30 April 2026

Menganyam Laba Tikar Lipat Anyam

Tayang:
Penulis: Heru Pramono |
[caption id="attachment_179167" align="alignleft" width="300" caption="Miftahul Ulum Perajin Tikar Lipat Anyaman Asal Lamongan. Foto: Surya/Gie."][/caption] Tikar dari anyaman atau tenunan benang dan tali rafia tidak saja nyaman dipakai saat berwisata, namun juga nyaman dipakai di ruang tamu, perhelatan atau beribadah di hari raya. Meski penjualannya tak sehebat produk-produk China, namun siapa sangka jika perajin alat rumah tangga ini mampu menganyam laba yang luar biasa dari hasil produksi tikar lipat anyam. Miftahul Ulum, salah satu perajin tikar lipat anyaman asal Lamongan justru mengaku, sebenarnya dirinya tidak sengaja menekuni bisnis yang kini mampu menghasilkan kocek minimal Rp 50 juta setiap bulan. “Awalnya usaha turun temurun dari nenek saya justru sarung. Karena tidak ada lagi penerusnya maka lama-lama tutup di tahun 1980–an, lalu saya jualan emas tetapi bangkrut juga. Sampai akhirnya saya memutuskan bikin tikar daripada alat-alatnya nganggur,” aku pria 48 tahun ini. Bahan anyamannya cuma tali rafia dan benang nilon, dianyam menggunakan alat tenun (dioperasikan manusia) secara manual. Saat ini, Miftahul membuat tiga macam tikar lipat, yakni berukuran 2x3 meter yang ia jual seharga Rp 50.000 biji, ukuran 2x2 meter Rp 35.000 dan ukuran 1x1 meter dijual Rp 18.000. Setiap bulannya, bapak tiga anak ini mampu memproduksi 1.000 tikar lipat dibantu 100 orang karyawannya. Ini berarti, per orang hanya mampu mengerjakan 10 tikar dalam sebulan. Namun, saat Lebaran produksi tikar lipat anyam ini bisa naik nggak karuan hingga 50 persen dibandingkan bulan biasa. “Belum banyak perajin tikar lipat anyaman di Jatim, rasanya sentranya baru di Lamongan ini, jadi persaingannya tidak terlalu berat. Distribusi selama ini sudah menjangkau seluruh Jawa dan Kalimantan. Sebetulnya pasar luar Jawa masih terbuka lebar, cuma kita belum punya link ke sana,” ujar Miftahul. Meski belum banyak pemain, khusus menjelang Lebaran, ia sering dipusingkan dengan persaingan harga. Tak jarang perajin UKM tikar lipat anyaman yang banting harga seenaknya demi mendapatkan order besar, padahal harga bahan baku juga tiba-tiba naik. Akibatnya, tidak jarang perajin yang menurunkan mutu tikarnya dengan memakai bahan baku yang harganya lebih murah. Sementara, harga jualnya tetap seperti sediakala. “Saya sudah punya pasar sendiri, jadi persaingannya relatif aman. Kualitas tikar saya agak beda meskipun sama-sama dibuat dari anyaman tangan,” yakin UKM binaan PT Semen Gresik ini. Pria kelahiran Lamongan 24 September 1963 ini mengaku, ingin terus mengembangkan usahanya. Tahun ini ia berencana menambah varian motif tikar dan membeli mesin anyam agar bisa meminimalisasi jumlah tenaga kerja. Miftahul menambahkan, memang belum banyak varian yang dibuat, selama ini andalannya hanya pada variasi warna. “Soal permodalan, saya sudah mendapat pinjaman bunga lunak dari Semen Gresik. Sudah tiga periode menjadi binaannya, sekali periode lamanya 18 bulan, besar pinjaman Rp 15 jutaan,” ujarnya. Modal awal ia menjalankan usaha tikar lipatnya di tahun 2000 hanya Rp 100.000 untuk membeli bahan-bahan. Semua bahan-bahan itu ia beli di Surabaya dan proses produksinya di Lamongan. Saat ini, ia memiliki lima distributor besar yang siap memasarkan produknya kemana-mana. Kalau ke Surabaya, biasanya paling banyak dijual di Pusat Grosir Surabaya (PGS). Salah satu konsumen tikar lipat, Retno Palupi mengatakan, untuk tikar lipat dirinya lebih memilih anyaman benang dibandingkan tikar anyaman dari plastik. Pertimbangannya, anyaman benang terasa lebih hangat dan lebih praktis lantaran bisa dilipat. “Saya beli tiga tahun lalu, harganya masih Rp 25.000, ukurannya 2x1 meter dan masih awet sampai sekarang. Memang jarang-jarang dipakai karena hanya dipakai pas ada acara di rumah atau sholat Idul Fitri di lapangan terbuka bersama keluarga. Nyucinya juga jarang, tapi yang penting harus rajin dicuci paling nggak setelah dipakai,” jelas wanita 30 tahun yang bekerja di perusahaan perkapalan ini. Motif Makin Unik, Harga Melambung Memulai bisnis tikar lipat anyaman memang bukan perkara sederhana. Butuh teknik menganyam yang cukup rumit. Namun teknik ini lazimnya teknik menganyam alias menenun kain, bedanya bahan baku yang dianyam adalah benang dan tali rafia. Bahan baku ini bisa divariasikan sendiri sesuai selera, jika melihat memang ada potensi pasarnya. Misalnya, dalam memilih jenis benang atau talinya. Menurut Miftahul, produk anyaman ibaratnya produk seni. Perpaduan bahan, warna dan motif, bisa jadi sama sekali berbeda antara produk merek satu dengan produk merek lain. “Jenis benangnya bisa apa saja, perpaduan warnanya juga sesuai selera. Semakin unik motifnya tentu harga jualnya semakin tinggi. Kalau motifnya standar harus siap bersaing harga di pasaran dengan produk-produk yang sudah ada. Soal tekniknya, dimana-mana sama saja jadi gampang dipelajari,” lanjutnya. Proses menganyam benang kerap disebut juga menenun. Menenun bisa memakai beberapa teknik anyaman, teknik ini merupakan warisan budaya Melayu. ame
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved