Senin, 27 April 2026

Kelulusan SMA, Kondom Laris Manis

Penulis: Cak Sur |
MALANG | SURYA - Menjelang dan pascapengumuman kelulusan siswa SMA/SMK/MA, tingkat penjualan kondom di beberapa apotek di Kota Malang dan Surabaya, meningkat. Disinyalir banyak di antara pembelinya adalah anak-anak usia sekolah SMA yang tengah merayakan kelulusan. Menurut seorang pemilik apotek di Kota Malang, sejak Minggu (15/5) atau sehari sebelum pengumuman kelulusan, sudah banyak anak muda yang membeli kondom di apoteknya. Kebiasaan ini (kondom laris manis), menurutnya, terjadi hampir setiap menjelang dan sesudah kelulusan SMA. Pemilik apotek yang enggan disebutkan namanya itu mengaku tidak tahu pasti untuk apa anak-anak muda itu membeli kondom. “Namun, kalau anak muda sudah beli kondom, ya mau dipakai apa lagi,” kata pemilik apotek di kawasan Jl Pasar Besar Kota Malang itu, seperti dilansir Kompas.com, Selasa (17/5). Seorang karyawan apotek lain di kawasan Jl Supriadi, Sukun, Kota Malang, juga mengakui ada peningkatan penjualan kondom menjelang dan pascakelulusan. “Memang banyak yang beli, terutama pada hari Minggu kemarin,” ujar penjaga apotek itu. Ia juga tidak mau berspekulasi untuk apa anak-anak usia remaja itu membeli kondom. Sementara itu, menurut pengakuan salah satu siswa di sebuah SMKN di Kota Malang, Recky, beberapa siswa memang merayakan kelulusan salah satunya dengan berhubungan intim dengan pacarnya. “Yang saya tahu, memang ada beberapa siswa yang melampiaskan kegembiraan setelah lulus dengan cara itu,” katanya, usai mengikuti konvoi di depan Stasiun Kota Baru, Kota Malang, Senin (16/5). Menurutnya, lokasi favorit untuk merayakan kelulusan adalah di Kota Batu, karena di kota wisata tersebut banyak vila. “Tapi biasanya mereka melakukan dengan pacarnya sendiri,” katanya. Penelusuran Surya, pascakelulusan pada Senin (16/5), banyak siswa SMA memang menyewa vila di Kota Batu untuk merayakan kelulusan. “Malam hari setelah pengumuman kelulusan, mereka langsung datang ke vila,” kata Adi, salah satu makelar vila di Batu. Menurut Adi, kebanyakan remaja itu mem-booking vila jauh-jauh hari sebelum hari kelulusan. Mereka menyewa vila beramai-ramai. “Tidak hanya satu dua kamar saja. Namun, mereka biasanya menyewa satu rumah untuk dipakai bersama-sama,” terang Adi. Harga per kamar di vila Batu mulai Rp 50.000 hingga 125.000 per malam. Kebiasaan para siswa SMA ini, menurut Adi, sudah menjadi tradisi dari tahun ke tahun. “Sudah dari dulu, setelah kelulusan, mereka banyak yang menelepon saya untuk mem-booking vila,” tutur salah satu mahasiswa di universitas swasta di Malang itu. Saat menyewa, menurut Adi, biasanya mereka memang mengaku sebagai siswa SMA yang akan merayakan kelulusan bersama teman-temannya. Terpisah, Rudi, salah satu pemilik vila di daerah Songgoriti mengatakan, keramaian para remaja pascakelulusan bukan pemandangan baru lagi. “Mereka (para siswa) sudah sering menjadi langganan vila,” aku Rudi. Rudi mengungkapkan remaja sekarang pintar mengelabui identitas sebagai siswa. Penampilan serta cara pembawaan mereka sudah seperti orang dewasa. “Kalau pakai baju biasa, tidak kelihatan sama sekali, tapi orang-orang di Songgoriti sudah tahu kalau mereka anak sekolah,” ungkapnya. Remaja yang datang ke vila bukan hanya asal Malang atau Batu saja, bahkan banyak dari luar daerah. Alasan yang disampaikan siswa kepada orangtua, mereka sekalian liburan pascamenjalani masa-masa berat ujian. “Penyewa banyak dari luar daerah. Ada yang menggunakan mobil beramai-ramai dengan dua atau tiga pasangan, ada juga yang menggunakan motor berpasangan. Jarang yang datang sendirian, kebanyakan ramai-ramai dengan teman-temannya,” kata pria asli Batu itu. Sementara itu, di Surabaya beberapa lokasi yang menjadi tempat penjualan kondom juga mengalami peningkatan penjua­lan. Namun, para penjual tidak bisa memastikan apakah konsumennya itu termasuk para siswa. Hal ini disampaikan Suprapto (35), penjual kondom yang biasa mangkal di Jl Diponegoro, Surabaya. Ia bercerita selama tiga hari terakhir penjualan kondom meningkat, tetapi tetap didominasi kaum dewasa. “Pembeli di sini kebanyakan mereka yang sudah berumur (di atas 30 tahun, red),” cerita Suprapto. Meski begitu ia tak menampik ada beberapa pelanggan muda yang datang, namun ia tidak tahu apakah mereka siswa SMA atau bukan. Suprapto menuturkan, dalam sehari dirinya biasa menjual 10 buah kondom. Namun, dalam tiga hari terakhir dia bisa menjual sampai 15 buah kondom. “Sekitar tujuh orang di antaranya adalah anak muda,” ucap Suprapto. Sementara itu, beberapa apotek di Surabaya juga mengakui ada peningkatan penjualan kondom. Namun, banyak dari pengelola apotek tersebut tak bisa mengategorikan jenis usia pembeli. Diah, seorang pemilik apotek di kawasan Gubeng menyatakan, pihaknya kesulitan mengategorikan pembeli remaja atau tidak. “Pegawai kami dibagi dalam tiga shift, sehingga sulit dicatat apakah (pembeli) remaja atau tidak,” ujar Diah. Meski begitu ia mengakui, berdasarkan laporan sementara, ada kenaikan pembelian dalam tiga hari terakhir. “Namun, seberapa besar pastinya saya belum bisa memberi tahu sekarang, sebab hari ini libur,” ujar Diah, Selasa (17/5). Terpisah, Kanit Reskrim Polsek Kenjeran AKP Yudo Hariyono mengungkapkan aparat kepolisian terus memantau kegiatan para siswa yang merayakan kelulusan SMA. Namun, semenjak memantau aktivitas kelulusan, pihaknya mengaku belum menemukan satu pun aktivitas siswa yang bisa dikategorikan di luar norma. Yudo mengakui beberapa hari terakhir banyak remaja usia sekolah yang mengunjungi kawasan wisata Pantai Ria Kenjeran. Di kawasan wisata ini banyak berdiri hotel-hotel short time. Namun, pihaknya belum menemukan hal apa pun yang bisa dikategorikan melanggar norma seperti yang dilakukan para siswa di sejumlah vila di Malang dan Batu. “Kami juga memiliki CCTV yang mengawasi di wilayah Kenjeran dan lokasi-lokasi yang dijadikan tongkrongan anak muda. Sampai sekarang kami masih terus memantau aktivitas di sekitar Kenjeran,” tambah Yudo. Salah Sasaran Pengamat sosial Achmad Habib MAd mengatakan kebiasaan siswa SMA merayakan kelulusan dengan berbagai aktivitas yang melanggar norma merupakan bentuk pelepasan tugas berat yang salah sasaran. Ujian Nasional (Unas) diakui Habib sebagai beban berat. Untuk itu setelah ujian selesai dan dinyatakan lulus, mereka merasa menang dan terbebas dari kondisi menyulitkan. “Mereka menganggap waktu-waktu yang merepotkan dan melelahkan sudah terlewati. Bagi mereka, pascalulus adalah waktunya bersenang-senang,” ujar Habib ketika dihubungi Surya, Selasa (17/5). Habib menyatakan, selain perilaku seksual menyimpang, ada juga para siswa yang melampiaskannya dengan minum minuman keras. Menurutnya, perilaku menyimpang itu lantaran ada yang tidak beres dengan sistem pendidikan di Indonesia. Pemerintah dan sekolah terkesan hanya mementingkan hasil ujian dan mengesampingkan etika dan moral. “Bagi sekolah yang terpenting adalah kelulusan siswa-siswanya,” terang pengajar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini. Dosen Fakultas Psikologi Universitas Widya Mandala Surabaya, Silvia Kurniawati Ngonde MSi, menyatakan bahwa perlu penelitian lebih mendalam terkait peningkatan penjualan kondom dan siswa SMA usai Unas. Namun ia mengakui, ada kecenderungan orang mencari kesenangan setelah mengalami kegelisahan atau kecemasan. Dalam hal ini, setelah siswa disibukkan dan dibuat tegang selama persiapan dan ketika menghadapi Unas, maka begitu selesai otomatis mereka akan mencari hiburan. Silvia menekankan bahwa wujud hiburan itu berbeda. Ada yang menyikapi dengan hal positif seperti berdoa tetapi ada yang menjurus ke tindakan negatif atau yang lebih mengedepankan hasrat, salah satunya dengan berhubungan seks. “Ketegangan akan luluh dengan adanya hormon endomorfin dalam diri seseorang,” jelasnya. Hormon endomorfin ini berada di otak besar dan membawa ketenangan pikiran dan bisa dihasilkan dengan sentuhan atau pelukan. Permasalahan utama muncul ketika berhadapan dengan pengetahuan seksual anak-anak remaja tersebut. Remaja Indonesia kebanyakan belum memahami dengan baik mengenai penggunaan kondom. “Apa kondom bisa menjamin seorang perempuan tidak akan hamil? Belum tentu,” tegas Silvia. Ini juga terkait dengan masih buruknya pendidikan seks disampaikan kepada anak-anak. Sebaiknya pendidikan seks ini sendiri perlu disampaikan sejak usia tiga tahun sampai remaja. "Apalagi masa remaja merupakan masa eksplorasi keinginan dan emosi mereka, serta saat berpengaruhnya peer group untuk membuat suatu keputusan. Kalau pengaruh mereka melakukan hubungan seksual bebas, kemungkinan besar si anak itu akan mengikutinya. Jadi, pembelian kondom ini bisa diartikan sebagai langkah remaja mencari ketenangan dan memuaskan diri sendiri saja," katanya.
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved