Jumat, 10 April 2026

Inovasi Usai Krisis Bahan Baku

Penulis: Heru Pramono |
[caption id="attachment_159272" align="alignleft" width="300" caption="Aneka rasa telur asin. foto: Surya/Mustain"][/caption] SURYA Online- Masa kritis tidak harus membuat bisnis pelaku usaha gulung tikar. Jika punya kemauan kuat dan jeli menangkap peluang, masa krisis itu bisa lewat. Lihat saja produk telur asin, yang kini berkembang setelah menjadi telur asin aneka rasa. Inovasi produk ini lahir dari ketangguhan para perajin telur asin di Desa Kebonsari, Candi, yang mencoba bertahan agar bisnisnya tidak tumbang saat ketersediaan bahan baku menipis pada pertengahan 2010. Saat itu, produksi telur bebek mulai berkurang. “Penyebabnya, anomali cuaca. Sehingga bebek yang kami ternak telurnya berkurang,” ucap Nur Hidayat (40), perajin telur asin, yang juga Ketua Kelompok Ternak Itik Sumber Pangan. Akibat cuaca tidak menentu, bebek yang dipelihara para peternak di desa ini terimbas. Jumlah hasil panen telur bebek menurun hingga 40 persen dari sebelumnya yang mencapai hampir 85 persen. Bahan baku pun menjadi sulit. “Kami tidak bisa memakai telur bebek dengan membeli dari tempat lain, karena kualitasnya memang beda,” ucap Nur, yang mewakili Jawa Timur meraih penghargaan bidang Ketahanan Pangan dan Pemberdayaan Masyarakat dari Presiden SBY pada 3 Desember 2010. Suami Ny Ninin Muktirahayu (35) ini berujar, saat itulah perajin telur asin berusaha menyiasati keterbatasan bahan baku agar bisnis tetap berjalan. “Maka dibuatlah telur asin dengan bermacam rasa,” cetus Nur, yang menjadi peternak sejak masih bujangan ini. Sebab jika hanya telur asin biasa, kerap produk itu bersaing ketat dengan produk serupa dari daerah lain. Imbasnya, permintaan telur asin pun biasa-biasa saja. Terkadang perajin telur asin merugi karena produk mereka tidak tahan lama. Dengan varian produk baru, perlahan geliat usaha telur asin ini tampak. Permintaan tidak hanya datang dari sekitar Jatim, namun mengalir deras dari sejumlah daerah di luar Jawa. “Insya Allah kami bakal bertahan karena harga jual telur asin aneka rasa agak beda dengan yang biasa,” katanya. Meski demikian, buah manis itu tidak begitu saja langsung dicecap para perajin telur asin aneka rasa. Awal mula membuat telur asin aneka rasa, derita kerugian pun hinggap. Maklum banyak bahan baku telur bebek terbuang percuma karena tiba-tiba pecah. “Ini karena temperatur mesin oven terlalu panas, maka 2 di antara 5 butir telur jadi pecah,” kenang Nur. Eksperimen lain pun sempat dicoba meski akhirnya ditinggalkan. Yakni mereka sempat mencoba membuat telur asin dikombinasi dengan rasa buah-buahan. Misalnya stroberi. “Tetapi tidak kami teruskan, karena untuk mencampuri rasa buah, bahannya harus disuntikkan ke dalam cangkang telur. Padahal ini menjadikan telur tidak tahan lama,” beber Nur. Nur tetap yakin, usaha yang kini digeluti bersama belasan perajin lainya, bakal bertahan di masa mendatang. Dia menyebut, kegemaran orang mengonsumsi telur asin bakal tidak pernah pudar. “Ini sudah selera sebagian besar masyarakat. Ya kemungkinan akan terus dicari orang,” ujarnya. ain
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved