Jumat, 10 April 2026

Dari Rokok, Beralih Nyethe Gelas dan Lampu Hias

Sasang Priyo Sanyoto, Perajin Souvenir Limbah Kopi DIDIK SUTRISNO Surabaya Kata ‘nyethe’ sering terdengar di telinga masyarakat Jawa. Ya, nyethe merupakan kegiatan mengoleskan endapan bubuk kopi yang sudah diseduh ke batang rokok dan dibuat seindah mungkin seperti batik. Sebagian meyakini rokok yang sudah diolesi cethe lebih nikmat. Tak heran jika setiap warung yang menyediakan rokok cethe selalu dipenuhi pengunjung. Namun, yang dilakukan Sasang Priyo Sanyoto bisa jadi keluar dari ‘pakem’. Pasalnya, media yang digunakan tidak lagi sebatang rokok tapi barang yang lebih bernilai jual, seperti gelas, cangkir, art paper, asbak, meja hingga wallpaper. Hasilnya, kerajinan dengan kreativitas menggunakan limbah kopi mulai diminati pembeli. Awalnya, dia mengakui, memang sederhana saja bagaimana agar limbah endapan kopi yang biasa disebut cethe tak terbuang sia-sia. “Apalagi saya sering saat ngopi corat-coret di bungkus rokok atau koran. Akhirnya saya berpikir bagaimana aksi corat-coret ini bisa bermanfaat. Mulailah saya mencoba di media daun atau kayu kering maupun kertas yang semuanya dari limbah,” papar Sasang, yang mengaku memulai usaha itu awal 2009. Dorongan itu kian besar ketika dirinya diserahi mengelola sebuah kafe oleh kakaknya di kawasan Gebang Raya, Sidoarjo. Dengan begitu, ia tak lagi dipusingkan bahan baku karena di tempatnya sendiri cukup berlimpah. Soal motif lukisannya, dia memilih batik khas Jawa Timur berupa motif bunga atau abstrak. Mengingat cethe mudah dihilangkan atau terhapus, pria asal Tulungagung ini mencampurnya dengan bahan lain agar tahan lama. Untuk membuat ramuan cethe yang siap dioleskan, Sasang harus mengeringkan ampas kopi dulu agar hasilnya optimal. Baru bubuk cethe kering dituang di wadah dan dicampur dengan lem dan air sedikit. “Setelah itu, baru kita mencoret ke media dengan menggunakan sebuah lidi. Ada banyak pilihan jenis kopi, mulai kopi hitam, kopi coklat hingga hijau. Ini menambah tampilan lukisan kian hidup,” papar pria 25 tahun ini. Ternyata hasil coba-coba yang dilakukannya tak mengecewakan. Beberapa barang ia sulap menjadi cantik dengan ukiran kreasinya. Untuk mengenalkan kreativitasnya pada publik, Sasang memajang barang-barang yang sudah dilukis di kafe yang hampir setiap malam dipadati pengunjung. “Barang-barang yang dilukis sebagian besar terkait dengan kafe, seperti gelas, asbak, cangkir, hiasan dinding, lampu hias, hingga meja,” tukasnya, yang masih merogoh kocek sendiri untuk usaha ini. Mahasiswa salah satu perguruan tinggi swasta di Surabaya ini juga memperkenalkan produk-produknya di blog melalui refreshindonesia.com, dengan menempelkan merek ‘Cethe Merchandise’. Tak butuh waktu lama baginya, karena sejak itu banyak permintaan datang. Sebagian besar untuk souvenir dan contoh produk di butik atau toko oleh-oleh. “Pesanan mulai membanjir dari beberapa kota di Jawa, termasuk Jakarta. Namun mengingat semua masih saya kerjakan sendiri, saya hanya menyanggupi maksimal 10 piece per hari untuk barang-barang seperti gelas,” ungkap ayah satu orang putri ini, yang belum menjadikan usahanya sebagai pendapatan utama. Untuk melukis dengan media gelas, cangkir, asbak, kertas, Sasang butuh waktu antara satu hingga dua jam. Sementara, untuk media yang lebih besar seperti, meja atau wallpaper, ia butuh waktu lebih lama. Setelah itu, hasil kreasi lukisan mesti dikeringkan semalam. Sasang tidak mematok harga mahal untuk kreativitasnya itu. Untuk media gelas misalnya, kisaran harganya Rp 10.000-30.000 per piece. Sedang cangkir Rp 50.000-80.000 tergantung jenis bahannya. Sementara, lukisan dari kertas Rp 100.000. Meski produknya sudah dikenal, toh Sasang belum merasa puas. Ia terus mengembangkan produknya ke media yang lebih menarik, seperti fiberglas dalam bentuk lampu hias atau hiasan dinding. Sementara, untuk mengantisipasi membludaknya pesanan, ia mulai melatih beberapa orang di Tulungagung untuk bisa melukis cethe. “Banyak remaja-remaja di Sidoarjo sini yang mau belajar, namun banyak pula yang gagal karena kurang telaten,” ulas suami Sri Wijayanti ini. Ke depan, ia berobsesi untuk terus mengenalkan lukisan limbah kopi tersebut ke pasar dalam negeri maupun internasional. “Media lukis akan terus saya kembangkan, karena prinsipnya cethe kopi bisa dituangkan ke media apa saja, dan cukup unik,” imbuh Sasang.
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved