Modal Drum Bekas, Ubah Desa Jadi Sentra Penggorengan Kerupuk Pasir
DESA Jambangan, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo, sempat identik sebagai “desa santri” yang mayoritas warganya bekerja sebagai buruh tani dan buruh pabrik. Namun kini warga desa ini tidak hanya menjalani hari dengan menjadi buruh, tetapi sudah bisa menciptakan lapangan kerja sendiri.
Hal itu bermula dari inovasi sederhana ala Chusul Mufidah, 45, dan suaminya, Suwarno (kini almarhum), dalam cara menggoreng kerupuk pasir. Pasangan suami istri, yang hanya lulusan Madrasah Ibtidaiyah (MI, setingkat SD), ini sebenarnya tak pernah menyangka bahwa usaha penggorengan kerupuk pasir kecil-kecilan yang mereka rintis pada akhir 1990 ---sebagai ‘pelarian’ atas musibah yang mereka alami--- ternyata justru memberi dampak besar bagi perekonomian warga di kampung mereka.
Terobosan sederhana mereka menjadi inspirasi kepada warga untuk melakukan usaha serupa dan membuka peluang kerja bagi warga di sana . Maka, kini Jambangan pun menjelma menjadi sentra penggorengan kerupuk pasir.
Semula, pada tahun 1998, Chusnul dan suaminya bekerja sebagai pemasok kerupuk pasir ke penjual-penjual di luar Sidoarjo, terutama di daerah Pasuruan. Karena hanya jualan kecil-kecilan, dalam sehari, kerupuk pasir yang bisa digoreng dan dijual maksimal hanyalah empat-lima kilogram.
Sampai kemudian terjadi sebuah musibah yang membuat mereka kehilangan mata pencaharian. “Bapak dibegal (dirampok, Red) di jalan saat berangkat menjual kerupuk ke Pasuruan setelah subuh. Motornya dirampas. Sejak itu kami hanya bisa menggoreng kerupuk seadanya,” kenang Chusnul, saat ditemui di rumahnya, yang kini sudah disulap menjadi ‘gudang’ kerupuk pasir.
Mendapatkan musibah, pasangan ini enggan mengutuk nasib. Mereka justru berpikir keras tentang bagaimana cara agar dapur mereka tetap mengepul. Situasi terjepit kala itu membuat Suwarno melakukan hal berbeda dari yang kebanyakan dilakukan orang di desanya. Waktu itu, mayoritas warga Jambangan menggoreng kerupuk pasir menggunakan kuali besar (kemaron) yang diletakkan di atas tungku. Ketika pasir di dalam kuali sudah panas, barulah aktivitas goreng-menggoreng kerupuk dilakukan.
Suwarno memiliki ide lain : mengganti kemaron dengan drum bekas yang dimodifikasi atas bantuan tukang las. Bentuknya, di sebelah kanan drum ditambahi semacam gagang yang memungkinkan drum bisa diputar di atas tungku dengan menggunakan tangan. Drum tinggal diisi pasir kemudian diputar gagangnya, sehingga proses penggorengan bisa lebih cepat.
Cara baru ini dianggap Suwarno lebih prospektif dibanding cara lama menggunakan kemaron. Sebab, hasil produksi kerupuk pasir dalam sehari jauh lebih banyak. Maka, selain menjual kerupuk pasir, Suwarno juga menerima jasa penggorengan kerupuk pasir dari para penjual kerupuk yang lain.
Tak lama, usaha Chusnul dan suaminya pun menjadi perbicangan hangat di desa mereka, dan satu-dua tetangga mulai tertarik menggeluti usaha serupa. Awalnya para tetangga sekadar meminta bantuan digorengkan kerupuk, kemudian bertanya-tanya, dan lantas mencoba membuka usaha sendiri.
Tak heran bahwa bisnis ini pun menggeliat, dan menjadi primadona baru. Jika dulu lebih banyak warga menggoreng kerupuk lengo (mengunakan minyak tanah), maka banyak yang beralih ke kerupuk pasir. Saat ini ada sembilan orang di desa tersebut yang menjadikan rumah mereka sebagai penggorengan kerupuk pasir.
Seiring perkembangan zaman, pemanfataan drum bekas sebagai alat penggorengan kerupuk pun mengalami transformasi. Kini drum tersebut dilengkapi dinamo sehingga perputarannya di atas tungku tidak lagi dikerjakan secara manual menggunakan tangan melainkan otomatis berputar sendiri dengan bantuan listrik.
Di awal Agustus 2009, Chusnul kembali mendapat musibah, yaitu sang suami meninggal dunia karena mengalami sakit usus buntu. Tetapi, meninggalnya Suwarno tidak membuat bisnis Chusnul mandeg. Sebab, saat itu, ia memang tinggal menikmati manisnya cucuran keringat usaha yang dirintisnya sejak 10 tahun silam. Meski tanpa bantuan suami, ia sudah terlatih dan bisa mandiri menjalankan usahanya.
“Saya tidak merasa menjadi pelopor. Saya hanya senang usaha saya bisa mengilhami banyak warga di desa ini untuk membuka usaha serupa. Toh, rezeki sudah ada yang ngatur,” tutur Chusnul, yang pada 2009 lalu naik haji.
***
DULU saat masih menggunakan kemaron, dalam sehari Chusnul hanya bisa menggoreng empat sampai enam kilogram kerupuk. Sekarang, lonjakkannya luar biasa : dalam sehari bisa empat sampai lima kuintal, atau naik 100 kali lipat . Setelah digoreng, kerupuk dipacking dalam plastik ukuran 30, 35 dan 37, yang dijual antara Rp 4500-Rp5000 per ikat. Padahal, dulu, krupuk hanya dipacking dalam plastik ukuran kecil dan dijual Rp 100-an.
Dalam sehari, bisnisnya bisa menghasilkan ratusan ikat kerupuk pasir. Kalkulasinya, satu kuintal terdiri atas 20 bal krupuk mentah (per bal kerupuk mentah ia beli seharga Rp 38.000-Rp 40.000), sedangkan per bal kerupuk mentah bisa menghasilkan 11-12 packing plastik kerupuk pasir. Maka, jika dirata-rata, sehari Chusnul bisa mendapat pemasukan antara Rp 2 juta-Rp 4 juta
Dengan usahanya yang tumbuh pesat, Chusnul ---yang dulu merintis bisnis dengan bantuan satu dua kerabat dekat rumahnya--- kini sudah menjadi juragan. Ia mempekerjakan delapan orang dengan upah harian, yaitu dua orang pria sebagai penggoreng dan enam orang lainnya untuk mengemas kerupuk pascagoreng. Akhir September kemarin Chusnul bahkan membiayai pernikahan salah satu pekerjanya.
Ibu dua anak ini juga bisa menyekolahkan anak sulungnya hingga perguruan tinggi. Ia pun mampu berangkat berhaji ke Mekah, dan membangun sebuah rumah yang tidak jauh dari rumahnya, awal tahun lalu. Sementara rumahnya yang pertama difungsikan sebagai pabrik kerupuk pasir.
Pertengahan 2009, status Chusnul dan almarhum suaminya sebagai pelopor penggorengan kerupuk pasir di desanya memperoleh legitimasi. Kabar menggeliatnya industri penggorengan kerupuk pasir di Desa Jambangan didengar Bupati Sidoarjo (kala itu), Win Hendrarso. Seusai menghadiri acara penghijauan di sebuah desa di dekat Jambangan, Win datang untuk melihat langsung usaha penggorengan kerupuk pasir milik Chusnul. Aparat desa setempat juga sempat membuat papan nama Desa “Jambangan” dengan di bawahnya bertuliskan “Sentra Penggorengan Kerupuk Pasir”.
“Waktu itu beliau nanya apa saya tidak bisa nambah lagi pekerja? Beliau juga memberi saran agar usaha ini bisa lebih besar. Lucunya saya tidak langsung tahu bahwa beliau itu Pak Win. Saya baru tahu sesudah dikasih tahu aparat desa setelah beliau pulang,” kenangnya, kemudian tersenyum. (Hadi Santoso) KOMENTAR