Pascapemilihan, Kubu Sofwani dan Adila Saling Serang
Tayang:
TUREN - Surya- Kekalahan incumbent, Ahmad Sofwani, atas Adila Azis, pada perebutan kursi Ketua DPC Hanura Kabupaten Malang, Senin (21/6) kemarin, berbuntut panjang. Kedua kubu itu saling serang dengan membuka borok rivalnya.
Kubu Sofwani, melalui Tyas Agung P, mantan Sekretaris DPC Hanura ini menuding, Musyawarah Cabang (Muscab) yang berlangsung di Hotel Cakra, Kecamatan Turen, Senin (21/6) kemarin diduga sarat politik uang.
Adila yang kini menjabat Ketua Fraksi Hanura DPRD Kabupaten Malang ini dituding membeli dukungan ke 16 PAC. Per PAC dibeli Rp 5 juta, dengan janji akan diberi motor juga. Itu terjadi sehari sebelum berlangsung Muscab, Minggu (20/6) siang. Ke-16 PAC dikumpulkan di sumber mata air Polaman, Kecamatan Lawang oleh Jamal Abdul Azis, kakak Adila, yang juga anggota DPR RI Hanura.
“Saat ini kami sedang mengumpulkan bukti-buktinya, dari PAC soal dugaan money politics. Mereka dibrifing agar memilih adiknya (Azis),” tutur Agung, Selasa (22/6).
Sofwani yang hanya didukung 3 PAC dinyatakan tidak memenhui syarat pencalonan yakni harus didukung minimal enam PAC. Akhirnya, Sofwani dan pendukungnya walk out, dan Adila menang aklamasi.
“Itu (aklamasi) nggak sah karena hanya diikuti 65 peserta. Padahal, semestinya peserta keseluruhannya itu 109 orang. Yakni, 27 PAC, DPC, DPD, organisasi sayap. Bahkan, ada peserta susupan, sehingga lebih nggak sah lagi,” tegas Agung.
Jamal Abdul Azis, membantah melakukan politik uang. Menurutnya, sehari sebelum pelaksaan Muscab, para ketua PAC yang minta bertemu di rumahnya. Itu karena mereka mengaku diuber-uber calon, dengan diiming-imingi uang. Karena para PAC itu tak mau diberi uang oleh calon lain sehingga bersembunyi di tempatnya.
“Kalau nggak percaya, ya tanya sendiri ke PAC. Kalau dia menuding kami seperti itu, kami anggap wajar sebagai manuver orang kalah. Kalau orang itu baik, nggak mungkin pakai duit karena pasti akan dipilih,” tegas Jamal dihubungi melalui ponselnya, Selasa (22/6).
Menurutnya, kalau dia kalah semestinya harus mawas diri bukan mencari kesalahan lawan politiknya. Bagi Jamal, partai harus dipegang orang yang punya jabatan Ketua Fraksi Hanura.
Dengan begitu, partai akan kuat dan tak akan dijual kepada siapapun karena pemimpinnnya punya uang, pekerjaan dan penghasilan jelas.
“Kalau pemimpin partai tak punya uang, maka partai akan dibuat dagangan. Saya akui, memang saya mendukung dia (Adila),” pungkasnya.nfiq
KOMENTAR