Eks GAM Bantu Polri Tumpas Teroris
Tayang:
* Wilayah Patroli di Pidie Diperluas
Banda Aceh - SURYA- Gubernur Nanggroe Aceh Darusallam (NAD), Irwandi Yusuf (kiri), didampingi Ketua Partai Ace
Gubernur Aceh Irwandi Yusuf (kiri), didampingi Ketua Partai Aceh Muzakir Manaf (tengah), dan Ketua Bidang Ekonomi Partai Aceh Teuku Irsyadi (kanan), berbicara dalam konferensi pers terkait penangkapan teroris di Aceh, Jakarta, Selasa (9/3). ANTARA/Yudhi Mahatma
JAKARTA - Gubernur Aceh Irwandi Yusuf menegaskan aktivitas orang-orang bersenjata di Aceh yang diduga sebagai jaringan teroris tidak ada kaitannya dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Sebaliknya mantan aktivis GAM ikut membantu dengan cara menyuplai informasi kepada kepolisian untuk menumpas gerakan bersenjata tersebut.
“Kasus itu bukan orisinil Aceh. Ini datang dari luar Aceh. Mereka ada yang berasal dari Pandeglang, Solo, Tangerang, dan lain-lain. Mereka sudah berhasil dilokalisir,” kata Irwandi pada konferensi pers didampingi mantan Panglima GAM Muzakir Manaf, di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa (9/3).
Irwandi mengaku sudah mendeteksi adanya gerakan ini sejak setahun lalu. Mereka memanfaatkan isu-isu syariat Islam, isu Poso, konflik Israel-Palestina, dan lain-lain. “Waktu itu belum cukup syarat untuk ditindak karena masih dalam bentuk informasi intelijen,” jawab Irwandi saat ditanya kenapa pemerintah dan aparat keamanan tidak berbuat apa-apa sebagai tindakan preventif.
Gubernur Irwandi Yusuf mengatakan kelompok tersebut salah sangka terhadap Aceh. Mereka mengira masyarakat akan mendukung penuh sebagai sesama muslim. “Mereka juga salah sangka, dikira GAM ikut membantu,” sebut Irwandi Yusuf. Pernyataan bahwa gerakan itu tidak ada kaitan dengan eks GAM juga ditegaskan Irwandi kepada wartawan di sela-sela melihat lokasi penggerebekan tersangka teroris di Warung Internet Multiplus, Gang Asem, Pamulang, Tangerang Selatan.
Menurutnya, jumlah anggota kelompok tersebut 50 orang, melakukan latihan militer di kawasan Aceh Besar. Anggota kelompok itu menurut analisa Irwandi terkait dengan gerakan di Mindanao, Pilipina dan ingin menjadikan Aceh sebagai basis di Asia Tenggara. “Ternyata keliru karena masyarakat Aceh tidak memberi dukungan,” ujarnya. “Kelompok tersebut memiliki 20 pucuk senjata, lima pucuk di antaranya sudah diamankan pihak kepolisian,” lanjutnya.
Irwandi Yusuf menyatakan aktivitas orang-orang bersenjata itu baru tahap awal dengan cara melakukan pelatihan-pelatihan. “Tak ada urusannya dengan obama-obamaan,” tukas Irwandi menjawab spekulasi berbagai kalangan bahwa meningkatnya aktivitas gerakan teror itu terkait dengan rencana kedatangan Presiden Amerika Seirat, Barack Hussein Obama ke Indonesia, bulan ini.
Tak ada operasi militer
Irwandi juga membantah isu yang menyebut di Aceh akan diterapkan operasi militer sehubungan tewasnya tiga aparat kepolisian saat melakukan penyergapan kelompok bersenjata tersebut di Bayu, Kemukiman Lamkabeu, Aceh Besar. “Belum cukup alasan dilakukan operasi militer. Secara militer ini kasus yang masih kecil, cukup ditangani Densus 88 Antiteror dan Brimob,” kata Irwandi lagi.
Masyarakat Aceh, kata Irwandi tidak terpengaruh dengan adanya gerakan bersenjata tersebut. Namun ia menduga akan ada dampak terhadap rencana investasi di Aceh. “Bisa saja ada investor yang berpikir ulang berinvestasi di Aceh akibat kasus ini,” ujarnya.
Tak ada mantan GAM
Bekas Panglima GAM Muzakir Manaf yang sekarang memimpin Partai Aceh (PA) memastikan tidak ada satu orangpun mantan aktivis GAM yang terlibat dalam gerakan bersenjata kelompok yang ditengarai sebagai teroris itu. “Saya sudah klarifikasi kepada semua anggota kita, tidak ada yang terlibat. Sebaliknya kami ikut membantu kepolisian dengan memberikan informasi,” sebut Muzakir Manaf. Ia menegaskan mantan GAM tidak ada kaitannya dengan kelompok tersebut. “Sejak MoU Helsinki ditandatangani, kami komit menjaga dan melestarikan perdamaian yang sudah dicapai,” kata Muzakir Manaf yang akrab disapa Mualim.
Perluas patroli
Dari Sigli dilaporkan, jajaran Polres Pidie terus memperluas wilayah pengejaran kelompok yang dicurigai teroris dengan melakukan patroli hingga ke kawasan pesisir Kecamatan Muara Tiga, Pidie, Selasa (9/3). Dalam patroli itu, polisi menggunakan empat unit mobil lengkap dengan senjata. Pelacakan dilakukan hingga ke Laweung sehubungan adanya informasi pelarian target ke kawasan itu.
Informasi lain yang diterima Serambi, pada Selasa kemarin sebagian anggota polisi melakukan pengendapan di bukit Goh Tumbon, Padang Tiji yang diduga sebagai lokasi pertahanan kelompok yang dicari selama ini. Kapolres Pidie, AKBP Moffan MK SH yang dihubungi Serambi, Selasa (9/3) mengatakan, dilakukannya patroli di kawasan pesisir Laweung karena berdasarkan laporan masyarakat, ada orang-orang yang dicurigai di wilayah itu. “Polisi akan terus mempersempit ruang gerak kelompok teroris. Kami berharap masyarakat ikut membantu,” kata Kapolres Pidie.
Sementara itu dari Aceh Besar didapat informasi, polisi yang melakukan penyisiran di Desa Teladan, Kecamatan Lembah Seulawah menemukan sebuah ransel berisi baju, kain sarung, sebotol minuman air mineral, dan Quran kecil. Barang bukti yang ditemukan di lahan belakang rumah warga itu diduga ada kaitan dengan kelompok yang sedang diburu polisi.
RASSA mengecam
Rabithah Santri se-Aceh (RASSA), mengecam keras tindakan aksi terorisme yang terjadi di Aceh. Aksi itu tidak bisa ditolerir bahkan tidak dibenarkan oleh Islam. Sekjen RASSA, Tgk H Iqbal Hanafiah BTH MA, dalam pernyataan tertulisnya yang diterima Serambi, Selasa (9/3) menandaskan, aksi terorisme atau kelompok radikal itu telah mengusik ketenangan masyarakat di tengah situasi damai di Aceh. “Seluruh komponen masyarakat diharapkan selalu waspada serta terus berkoordinasi dengan berbagai pihak terutama kepolisian,” demikian Sekjen RASSA.
Ditangkap
Dari Lhokseumawe dilaporkan, Hendri (28), warga Tanoh Anoe, Kecamatan Muara Batu, Aceh Utara, Selasa (9/3) sekitar pukul 10.30 WIB ditangkap di rumahnya oleh pihak kepolisian. Sejumlah sumber menyebutkan, penangkapan ini ada terkaitan dengan penumpasan jaringan teroris di Aceh.
Informasi dari berbagai sumber menyebutkan, personel polisi dari Polda Aceh dan Polres Lhokseumawe, dengan menggunakan mobil Kijang Innova dan double cabin bergerak dari Mapolres Lhokseumawe sekitar pukul 10.00 WIB. Sasarannya langsung ke rumah Hendri dan menangkap pemuda tersebut.
Hingga tadi malam belum ada konfirmasi dari pihak kepolisian mengenai penangkapan itu. Tapi sejumlah sumber yang layak dipercaya menduga Hendri ikut membantu teroris yang melakukan aktifitas di Aceh. Ada pula dugaan yang menyebutkan Hendri pernah menampung keluarga Amrozi.
Keuchik Tanoh Anoe, Amirullah Basyah, kepada Serambi pada awalnya membenarkan ada warganya bernama Hendri yang ditangkap polisi. Namun Keuchik Amirullah tidak mengetahui alasan penangkapan. “Hendri hanyalah seorang nelayan biasa. Dia kadang-kadang kerja jualan ikan di TPI bersama orang tuanya, ada juga kadang-kadang ke laut. Bahkan dengan bekal ilmu agama yang dia miliki, kami gunakan sebagai imam di menuasah bila sewaktu-waktu imam lain berhalangan,” kata Keuchik Amirullah.
Kapolres Lhokseumawe AKPB Zulkifli ditanyai terkait masalah ini, dalam pesan singkatnya via SMS menulis, “Tidak ada Mas. Untuk diketahui kawan-kawan wartawan, untuk kasus-kasus yang terkait dengan teroris, Polres tidak bisa memberikan statement, karena statement diberikan oleh Mabes Polri.” jawab Kapolres Lhokseumawe. fik/naz/mir/na/bah/serambi indonesia
KOMENTAR