Minggu, 17 Mei 2026

Bengawan Solo, Riwayatmu Kini

Tayang:
Goei Tiong Ann Jr Rohaniwan dan Aktivis Lingkungan, bermukim di Roma, Italia Banjir sedang melanda berbagai kawasan, tak terkecuali di Jawa Timur. Beberapa daerah masih merasakan betapa berat dampak banjir musim hujan yang mencapai puncaknya Februari ini. Hukuman Tuhan atau bunuh diri lingkungan? Warga Kecamatan Palang dan Meraurak, Kabupaten Tuban sudah merasakan penderitaan akibat banjir. Warga Bojonegoro hingga Madiun di sepanjang Bengawan Solo juga merasakan. Bengawan Solo pun menjadi tertuduh karena di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Bengawan Solo, dari hulunya di sekitar Waduk Gajah Mungkur, Wonogiri, Jawa Tengah hingga di Muara Ujung Pangkah, Jawa Timur, luberan airnya menyebabkan banjir di mana-mana. Padahal, bengawan ini sesungguhnya juga tengah menderita, sebagaimana para korban banjir yang rumah dan sawahnya tergenang. Demikian juga yang terjadi di DAS Sungai Brantas. Bengawan Solo dan Sungai Brantas seperti dianggap sebagai musuh yang seolah tidak memberi manfaat sama sekali. Padahal, keduanya pernah menjadi urat penting kejayaan Jawa masa lalu, terutama Majapahit. Dua sungai itu menjadi sarana transportasi perdagangan, perhubungan antarwilayah, sumber kehidupan, dan bahkan lokasi beberapa peperangan. Kalau disebutkan Bengawan Solo atau Sungai Brantas menjadi korban, karena keduanya tengah mengalami kerusakan hebat. Pendangkalan akibat lereng-lereng tepiannya digunduli dari pertahanan pohon-pohon berakar kuat dan diganti menjadi ladang-ladang. Di samping itu, pabrik-pabrik di sepanjang tepian kedua sungai itu kian memperparah kerusakan kualitas air. Jangan lupa kalangan industri dan warga biasa yang suka membuang limbahnya langsung tanpa diproses. Tidak heran, pencemaran kian menambah penderitaan sungai-sungai itu. Kearifan Majapahit Yang menyedihkan, banyak situs sejarah di DAS kedua sungai itu juga banyak berubah. Misalnya, di kawasan bekas Bengawan Solo lama di Banyubiru, Jawa Tengah, yang konon pernah menjadi ajang Joko Tingkir menggembleng ilmu, kini berubah menjadi tempat pembuangan sampah. Di Cepu, di Desa Ngloram, bekas keraton Wura-Wari yang pernah menyerang Raja Airlangga, kini berubah menjadi areal pekuburan. Saya jadi ingat juga situs Laren-Pringgoboyo ketika mengunjungi tahun 1970-an. Laren-Pringgoboyo yang disebut-sebut oleh beberapa prasasti dan naskah kuno Negarakertagama, merupakan desa kuno zaman Majapahit di tepi Bengawan Solo. Pada dekade 1970-an, air Bengawan yang lewat di desa itu masih sangat jernih, terutama ketika musim kemarau, sehingga kebeningan air yang biru ditimpa cahaya matahari Agustus bagai kaca dan permata lazuardi. Menurut informasi dari beberapa prasasti, daerah itu dahulu kala memang salah satu pelabuhan babagan atau “penyeberangan” utama Majapahit karena dilalui perlintasan utama delanggung (berasal dari kata dalan gung atau jalan raya) yang dibangun pada zaman Gajah Mada-Hayam Wuruk. Dan memang, di Pringgoboyo ada situs mBawan Mati atau bekas aliran Bengawan Solo yang kini mengering. Di dekat situs itu pada tahun 1976 pernah ditemukan peninggalan batu bata dan kendhi pertola yang menandakan bekas-bekas bangunan pos tambangan (penarikan retribusi) dari perahu yang singgah. Semua itu membuktikan betapa sungai-sungai itu pernah menjadi urat nadi dan memberi manfaat berlimpah bagi segenap makhluk hidup di dalam dan di sekitarnya. Mengapa bisa terjadi kondisi yang ideal seperti itu? Karena ketika itu tidak ada keseimbangan yang terganggu. Jadi benar-benar ada harmoni antara makhluk hidup dan sungainya. Para penguasa zaman itu, Majapahit khususnya, juga amat bijak dalam memanfaatkan dan menjaga sungai. Ketika itu sudah tumbuh kesadaran ekologis karena kebijakan penguasa jelas tercermin pada perlakuannya atau sikapnya pada sungai. Pepatah China memang menyebutkan, kalau ingin mengetahui apakah seorang penguasa itu bijak atau tidak, lihatlah perlakuannya terhadap sungai. Beda dengan penguasa zaman ini. Lihatlah kelakuan para kepala daerah di sepanjang DAS Bengawan Solo atau Brantas. Dalam setahun ini bisa dipastikan “disfungsional” alias tidak melakukan apa-apa terhadap kedua sungai itu. Bisa dijamin mereka lebih fokus ke urusan politik (Pileg atau Pilpres 2009), sehingga lupa mengeruk atau menyudet Bengawan Solo atau Brantas yang terus mengalami pendangkalan. Kadang memang menyedihkan, banyak penguasa di zaman ini tidak memiliki kepekaan atas masalah lingkungan, sehingga memunculkan wounded rivers atau sungai-sungai yang terluka. Betapa terlukanya juga para korban banjir yang harus hidup tanpa air bersih, atau kehilangan kesempatan memanen hasil sawahnya seperti padi atau kedelai. Belum lagi ancaman diare dan penyakit serta kemiskinan. Itulah buah dari kepala daerah yang tidak bijak dalam memperlakukan alam, terutama sungai. Bukan Hukuman Tuhan Yang lebih memilukan, setiap banjir datang kadang Tuhan dan alam disangkut-pautkan. Katanya, dengan banjir, Tuhan ingin menghukum orang-orang jahat, sebagaimana kisah Nabi Nuh dalam Injil atau Alquran. Namun, pandangan itu sebenarnya terlalu simplistis. Sebab, itu bisa diartikan, semua orang yang menjadi korban banjir seolah bejat moralnya, dan lainnya orang suci. Padahal seringkali para korban banjir juga tidak tahu apa-apa selain harus menanggung dampak buruk banjir dengan segala perasaan pilu. Kalau mau introspeksi, penyebab utama banjir adalah perilaku manusia, khususnya para penguasa yang selama ini semena-mena terhadap alam. Manusia tidak menghayati kehidupan sebagai bagian dari alam, tapi sebagai kekuatan luar yang ingin mengeksploitasi. Padahal, begitu manusia “sukses” dalam mengeksploitasi alam atau lingkungan, secara otomatis manusia melakukan ecological suicide atau bunuh diri lingkungan. Bentuknya bisa beragam.Salah satunya banjir yang tengah terjadi hari-hari ini.n
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved