Senin, 8 Juni 2026

Citra Islam dalam Film dan Sinetron

Tayang:
Lukman Hakim Dosen IAIN Sunan Ampel, Surabaya & alumni S-2 Studi Komunikasi dan Media, Universitas New England, Australia Dulu, bagi kebanyakan muslim, menonton di bioskop dianggap saru, bahkan sebagian mengharamkannya karena dianggap maksiat mata. Kini, persepsi itu tergerus, bahkan para orang tua, guru-guru madrasah malah berbondong-bondong mengajak keluarganya. film-film religi bercorak Islam urban kini semakin marak, baik di layar lebar maupun televisi. Sebut saja film Ayat-ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, Emak Ingin Naik Haji. Belum lagi sinetron seperti Cinta Fitri, Safa & Marwah, Cinta & Anugerah, Amanah dalam Cinta, dan sebagainya. Kehadiran simbol-simbol agama dalam perfilman nasional direspons cukup baik oleh pasar nasional. Bahkan kehadiran sub-genre film religi ini mampu mengubah persepsi umat terhadap citra negatif bioskop. Meski tidak sefenomenal belakangan ini, sebenarnya respons positif pasar pada film religi terjadi sejak dulu. Fenomena ini bisa dilihat pada era 1980-an dan 1990-an saat gedung bioskop memutar film Sunan Kalijaga, Nada & Dakwah, Fatahillah, termasuk beberapa program televisi bernuansa religi seperti Rahasia Ilahi, Pintu Hidayah, Kuasa Ilahi dan sebagainya. Bedanya, pada tahun belakangan genre film religi bercorak Islam urban, sedangkan pada tahun 1980-an genre ini lebih banyak berlatar Islam pedesaan. Antusias masyarakat terhadap film religi, serta kecenderungan para pesinetron dan pegiat film kita dalam mengangkat simbol-simbol agama memang cukup berdasar. Rasionalisasinya bisa dirujuk dari tipologi Clifford Geertz tentang Religion of Java yang sangat religius dan memegang kuat keyakinan terhadap dunia magis, yakni varian Santri dan Abangan. Dalam film religi era 1980-an dan 1990-an, Islam lebih diasosiasikan dengan agama mistis-dogmatis. Islam adalah solusi jitu untuk mengatasi problem-problem supranatural, mengusir setan, dan barang-barang gaib, sehingga kiai atau ayat-ayat suci selalu dikonotasikan dengan dunia magis, seperti Islam yang direpresentasikan dalam film Sundel Bolong, Sunan Kalijaga, sinetron Rahasia Ilahi dan Pintu Hidayah. Nah, di sinilah varian Abangan sangat memengaruhi genre film Islam. Pada era 2000-an, terjadi pergeseran dramatis dalam penggunaan simbol-simbol agama. Islam lebih diasosiasikan dengan masyarakat perkotaan. Interaksi Islam dengan dunia magis sudah tidak tampak, dan diganti dengan hal-hal yang profan, dan bercerita soal percintaan, pendidikan ataupun konflik keluarga. Pada era inilah, varian Santri sangat berpengaruh dalam genre film religi. Namun, secara substansial sub-genre Islam urban ini tidak banyak berbeda dengan film religi tahun 1980-1990-an. Maksudnya, Islam masih tetap direpresentasikan secara simbolik, khususnya dalam iconography, seperti penggunaan kostum dan terma-terma Islam. Secara tematik memang berbeda, namun substansinya tetap sama. Untungnya, di sela-sela maraknya genre film Islamic romance, para sineas kita memunculkan karya-karya film religi dalam corak yang berbeda, yakni kritis-rekonstruktif. Misalnya, film Perempuan Berkalung Sorban, Laskar Pelangi, Sang Pemimpi dan Doa yang Mengancam. Kategori ini yang disebut Melaine J Wright dalam bukunya, Film and Religion (2007) sebagai film religi yang bersandarkan pada gagasan agama (religious ideas). Meskipun simbol-simbol agama tidak terlalu ditonjolkan, namun nilai-nilai atau gagasan-agama sangat mewarnai alur film. Setting sub-genre film ini bisa saja berlatar pedesaan, namun tema dan gagasan yang disampaikan cukup kritis dan rekonstruktif terhadap pembentukan karakter bangsa. Tantangan Film Religi Diakui atau tidak, representasi Islam dalam layar kaca bukanlah Islam genuine. Ia hasil interaksi antara tekanan pasar, industri film, dan varian Islam di bumi Nusantara. Ia produk budaya populer. Meskipun maraknya fenomena film religi pasca-Reformasi berbarengan dengan munculnya Islam konservatif secara masif, namun Islam yang hadir dalam film bukanlah Islam konservatif. Penelitian saya tentang film Ayat-ayat Cinta menunjukkan, Islam yang direpresentasikan dalam film tersebut adalah penggabungkan dari varian santri, baik fundamentalis, tradisionalis, modernis, maupun liberal. Ini yang disebut sebagai “Islam populer”, yakni Islam yang mudah dicerna dan dapat diterima semua kalangan, hasil interaksi antara pasar, indutri film dan varian Santri. Dalam sejumlah sinetron yang menduduki rating tinggi, seperti Cinta Fitri, Cinta dan Anugerah, Safa dan Marwah penggunaan terma-terma Islam dan nilai kepasrahan kepada Tuhan sangat ditonjolkan, namun budaya hedonis masyarakat kota dan gaya pacaran bebas juga sangat dominan. Upaya pengarus-utamaan budaya populer Islam memang mengandung ambiguitas. Di satu sisi, simbol dan ritual agama kian semarak, di sisi lain perilaku konsumtif dan tindakan koruptif untuk memenuhi tuntutan gaya hidup hedonis juga terus ditanamkan. Di luar perdebatan tentang pola interaksi Islam dengan dunia perfilman, ada keterkaitan bahwa genre film religi dalam bentuk dan setting masyarakat apa pun, akan selalu mendapatkan sambutan yang bagus dari pasar nasional. Sebab, secara sosio-kultural, masing-masing sub-genre mempunyai akar dan konsumennya masing-masing. Masalahnya adalah apakah pegiat film dan pesinetron kita hanya memproduksi film atas pertimbangan keuntungan materi saja atau juga menganggap film sebagai medium pendidikan dan pembentukan karakter bangsa ke depan? Walhasil, semua berpulang pada komitmen para pegiat film Indonesia, apakah pada tahun 2010 ini mereka akan lebih banyak memproduksi film-film dan sinetron religi yang bernuansa rekonstruktif, magis-dogmatis, atau simbolik-pragmatis. Wallahu a’lam bi ash-shawab.n
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved