Selasa, 14 April 2026

Menyelamatkan Makam Peneleh, Ahli Waris Berlomba Hadirkan Kemewahan

Surabaya - SURYA-Nyaris tidak pernah kering menemukan cerita dari Makam Peneleh. Tokoh-tokoh terkenal dan peristiwa yang mewarnainya semasa hidup tersebar di setiap sudut. Kebesaran nama orang-orang yang dikubur itu tergambar dari bentuk pusara yang berlomba-lomba menghadirkan kemewahan. Temukanlah makam Rambaldo di pojokan kompleks ini. Wujud makam sebenarnya relatif sederhana, karena tidak ada ornamen rumit atau bangunan menjulang. Hanya sebuah prasasti dari lempeng marmer selebar dua kali daun pintu dalam sebuah tugu. Namun, meskipun sederhana, tampak penguasa kala itu begitu menghormati Rambaldo. Ini terlihat dari bahan bangunan makam yang mewah. “Semua terbuat dari marmer hitam yang langka,” kata Misha, juru kunci makam, Senin (25/5). Kemewahan berbalut cerita tergambar dari makam ini. Siapa dia? Nama Rambaldo mungkin asing bagi orang yang antipati terhadap semua yang berbau Belanda. Padahal, sejarah hidup tokoh ini jauh dari catatan kelam kolonial. Dia bukan pejabat yang suka mengisap keringat rakyat, atau serdadu yang doyan memusuhi pribumi. Bahkan, Misha juga tidak tahu siapa yang dikubur itu. Bacalah kisahnya dalam prasasti itu. Tulisannya menggunakan bahasa Belanda yang jika diartikan sebagai berikut: Rambaldo adalah orang penting perintis perjalanan lewat udara pertama. Dia menemukan dan mengembangkan alat trasportasi udara antara tahun 1908-1911 dengan menggunakan balon udara bermesin. Keterangan ini menggelitik, karena tidak lazim saat ini mencungkil kisah hidup orang yang mati di kuburannya. Saya mencari sumber referensi lain tentang Rambaldo (1879-1911). Ternyata, dia sosok tersohor kala itu. Usianya masih belia saat mengenalkan dunia penerbangan di Hindia, yaitu 29 tahun. Dalam referensi Biografisch Woordenboek van Nederland, 13 Maret 2008, nama lengkapnya adalah Alferd Emile Rambaldo. Pria lahir di Rembang, Pasuruan, ini mengawali karir sebagai serdadu angkatan laut. Namun, akhirnya dia tertarik mengembangkan teknologi anyar dari Eropa, yaitu perjalanan udara, alat transportasi yang belum dikenal di Hindia. Rambaldo menggagas pembuatan balon bermesin yang berpusat di Surabaya. Langkah ini kemudian diikuti perkembangan sistem observasi meterorologi dan pemotretan dari udara di kota ini. Semua salut dengan pemuda ini karena temuannya termasuk fenomenal.Namun, usianya tidak panjang. Rambaldo menemui ajal justru jatuh dari balon udara saat uji coba di Blora, dalam perjalanan dari Surabaya ke Semarang. Dia tewas di usia 31 tahun. Karena jasanya, sempat dibangun patung badan Rambaldo di Kroesenpark, sebutan untuk taman Apsari sekarang. Namun, Patung itu kini raib, diganti patung Gubernur Suryo. Jika tidak terselamatkan, makam sang pioner penerbangan ini bakal raib karena tak terurus di Peneleh. Kalau tidak ada kisah hidup yang unik, sang ahliwaris tampak berlomba menghadirkan kemewahan di bangunan makam pendahulunya. Namun, yang paling lengkap adalah menghadirkan kemewahan bangunan sekaligus diskripsi kisah hidup di prasasti. Saat masuk pintu gerbang makam Peneleh, setiap orang tentu tersita perhatiannya dengan makam yang bentuknya mirip monumen. Ornamennya rumit, yakni PJB de Perez, Wakil Direktur Mahkamah Agung yang juga komisaris sejumlah perusahaan besar. Semua ornamen berbahan dari besi baja cor, bukan semen atau ukiran marmer pada umumnya. Tinggi bangunan sekitar tiga meter dengan ornamen ukiran berlanggam neoklasik gaya Prancis plus hiasan piala di pucuknya. Ukuran rumit juga terlihat di pagar yang mengelilinginya. Sedikitnya ada delapan model makam seperti ini, semua terbuat dari baja dengan ornamen klasik yang tidak seragam. Antara lain makam Komandan Artileri Tempur Hindia Timur J Welter yang meninggal 1855, Letkol AL Paul Francais Roneille yang dimakamkan bersama istri Ny Diederik Elizabeth pada 1861. Uniknya tidak ada satupun ornamen itu yang cuwil karena tergerus perubahan zaman. “Justru bangunan bangunan klasik ini hilang karena dijarah,” ungkap Misha yang menemani Surya berkeliling makam. /Kuncarsono Prasetyo
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved