Pilpres 2019

Puisi Politis Fadli Zon Dibandingkan Karya Goenawan Muhammad, Pengamat: Jelek, Bagai Bumi dan Langit

Puisi Politisi Fadli Zon Dibandingkan Karya Goenawan Mohammad oleh pengamat politik. Puisi ' Doa yang Ditukar' masih jadi polemik hingga hari ini.

Puisi Politis Fadli Zon Dibandingkan Karya Goenawan Muhammad, Pengamat: Jelek, Bagai Bumi dan Langit
Tribunnews.com/Chaerul
Puisi Politis Fadli Zon Dibandingkan Karya Goenawan Muhammad, Pengamat : Bagai Bumi dan Langit 

SURYA.co.id | JAKARTA - Puisi Politisi Fadli Zon Dibandingkan Karya Goenawan Mohammad oleh pengamat politik. Puisi berjudul ' Doa yang Ditukar' masih menjadi polemik hingga hari ini. 

Puisi itu keluar setelah KH Maimun Zubair atau Mbah Moen sempat mengucap nama Prabowo saat berdoa. Tak Lama kemudian, Mbah Moen meralatnya dengan mengucap nama Jokowi.

Akibat puisi Fadli Zon itu, akhir pekan lalu, para santri di beberapa daerah menuntut Fadli Zon minta maaf kepada Mbah Moen, pimpinan Ponpes Al-Anwar Sarang, Rembang. 

Bahkan, saat ini, pengamat pun ikut mengomentari puisi Fadli Zon. Salah satunya adalah pengamat politik sekaligus Direktur Indonesia Public Institute (IPI) Karyono Wibowo.

Detik-Detik Panggung Pernikahan Roboh, Pengantin Perempuan Syok, Tamu Berusaha Selamatkan Diri

Ahok BTP dan Puput Nastiti Kepergok Berada di Bali Bersama, Foto dan Video Mesra Viral di Medsos

Karyono Wibowo mengibaratkan puisi Fadli Zon berjudul ' Doa yang Ditukar' bagai menepuk air di dulang terpercik sendiri. Hal itu disebutnya karena puisi tersebut malah membuat malu Fadli Zon.

"Saya bilang puisinya begitu karena ada kata-kata begal, kau begal. Selama ini yang biasa membegal itu siapa?", kata Karyono dalam diskusi bertajuk 'Politik Dajjal? Begal Doa Kiai', Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (12/2/2019).

"Nah kalau kita runut setelah doanya Mbah Maimun ( Mbah Moen) kemudian beredar video yang dipenggal-penggal, yang membegal doanya Mbah Maimun itu siapa," imbuhnya.

Dalam tahun politik seperti saat ini, Karyono melihat puisi Wakil Ketua DPR itu sebagai bentuk kapitalisasi doa.

Itu dilakukan guna mendapatkan simpati publik demi kepentingan elektoral dalam pemilu.

"Jadi kita lihat kenapa Fadli Zon atau respons dari kubu penantang Pak Jokowi yang tega mengkapitalisiasi doa atau istilahnya membegal doa ulama karismatik yang sangat disegani itu karena didorong oleh syahwat politik, syahwat kekuasaan yang terlalu besar," tegasnya.

Halaman
1234
Editor: Iksan Fauzi
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved