Techno

Teroris Sering Menggunakan Aplikasi Ini Untuk Mengkoordinir Serangan, Ternyata Begini Cara Kerjanya!

Kombinasi beberapa fasilitas inilah yang memudahkan grup teroris seperti ISIS dalam memakai Telegram sebagai “pusat komando dan kendali”

Teroris Sering Menggunakan Aplikasi Ini Untuk Mengkoordinir Serangan, Ternyata Begini Cara Kerjanya!
Kompas
Aplikasi telegram 

SURYA.co.id - Privasi merupakan hal yang paling penting ketimbang ketakutan kita akan hal buruk yang bisa saja terjadi, seperti terorisme,” begitulah kata Pavel Durov, pendiri sekaligus CEO layanan pesan Instan Telegram, ketika berbicara dalam acara TechCrunch Disrupt, September 2015 lalu.

Dia menjawab pertanyaan dari audiens, soal teroris yang suka memakai Telegram untuk berkomunikasi dan mengkoordinir aksi teror melalui aplikasi pesan instan tersebut. 

Telegram dipandang “aman” karena obrolan para penggunanya tak bisa disadap.

Durov sendiri ketika itu sudah tahu kalau ada aktivitas grup teroris negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di Telegram.

Baca: Jawaban Menohok Ustadz Abdul Somad Tak Masuk Daftar 200 Dai Kemenag RI Banjir Pujian

Baca: Kisah Mantan Murid Aman Abdurrahman yang Butuh Lima Tahun Melepas Ideologi Menghalalkan Darah Aparat

Baca: Sniper Cantik Ini Pernah Habisi 100 Pejuang ISIS & Jadi Buronan Seharga Rp 13 Miliar, Siapa Dia?

Baca: Kisah Hatf Saiful, Bocah 13 Tahun yang Bergabung Dengan ISIS dan Akhirnya Tewas Dalam Pertempuran

Tapi dia bersikeras menjunjung tinggi faktor keamanan privasi yang memang sudah melekat dan menjadi ciri khas Telegram semenjak dirilis empat tahun lalu.

Kami tak harus merasa bersalah. Kami melakukan hal yang benar, yakni melindungi privasi pengguna,” tambah Durov.

Entah berkaitan atau tidak, hanya dalam waktu sebulan setelah Durov menyampaikan pendapat itu, pada Oktober 2015, jumlah follower channel Telegram yang dioperatori oleh ISIS tercatat naik dua kali lipat menjadi 9.000 pengguna.

Layanan chatting ini kemudian sering kali dipakai sebagai media komunikasi dan koordinasi para pelaku terorisme dalam melancarkan aksinya di berbagai belahan dunia.

DIantarnya yaitu digunakan untuk berkomunikasi oleh pelaku serangan di Paris pada 2015, serangan malam tahun baru 2017 di Turki, dan serangan di St. Petersburg pada April 2017.

Di Indonesia, sejumlah tersangka teroris yang ditangkap pada Desember 2016 mengaku belajar membuat bom dengan mengikuti arahan melalui Telegram.

Halaman
1234
Editor: Putra Dewangga Candra Seta
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help