Citizen Reporter

Ini Gantinya Toko Buku

Dana terbatas bukan berarti berhenti mengoleksi buku. Di Pasar Buku Wilis, Malang, selain membeli buku, bisa bonus baca gratis.

Ini Gantinya Toko Buku
ist

Kalau boleh, Malang Raya berjuluk Kota Sejuta Wisata. Banyak tempat wisata keren di Batu dan Kabupaten Malang yang terus dipoles sehingga semakin banyak wisatawan datang.

Sebenarnya masih ada tempat wisata menarik lain di Malang. Sebut saja Wisata Buku, Wisata Pasar Burung, Wisata Pasar Bunga, juga Wisata Kampung aneka tema.

Wisata buku bisa menjadi alternatif menghabiskan waktu. Jika tempat wisata lain pengunjung mengantre, di kios buku Jalan Wilis, Malang, justru lengang. Itu saatnya berburu buku idaman.

Dari seluruh kios buku, pengunjung dapat memilih kios yang diinginkan bergantung buku yang sedang dicari. Salah satunya adalah Toko Buku Shakti.

Andri, pemilik Shakti menuturkan, pengunjung akan berlimpah ketika tahun pelajaran berganti. Agaknya semua orang membutuhkan buku pada masa-masa itu. Setelah masa itu usai, pengunjung juga jauh berkurang. Meski demikian, selalu ada hari ramai.

“Kalau hari-hari biasa, transaksi penjualan relatif, kadang ramai kadang sebaliknya,” katanya.

Menempati toko buku no 25, Andri yang sudah lama menekuni jual beli buku ini tampaknya optimistis dengan bisnisnya. Walaupun banyak rekan-rekannya menyambi menjual buku secara online, dia tetap bertahan berjualan secara konvensional.

Buku yang dijual Andri beragam. Ada buku baru, buku lama atau seken, buku-buku pelajaran untuk usia PAUD hingga perguruan tinggi. Dari novel pengarang Indonesia hingga pengarang mancanegara. Komplet.

“Omzetnya kalau lagi rame bisa jutaan,” kata Andri.

Menyusuri deretan toko buku itu, pengunjung seperti berjalan di perpustakaan panjang. Terlihat susunan buku yang rapi. Beberapa pengunjung datang ke lokasi wisata buku ini ada yang sekadar berjalan-jalan sambil membuka-buka buku. Meski hanya melihat tanpa membeli, penjual tetap bersikap ramah.

Wisata buku yang berlokasi di Jalan Wilis itu adalah pindahan dari Jalan Majapahit. Kira-kira 20 tahun lalu, penjual buku direlokasi ke tempat baru agar lebih rapi dan tertib. Menempati 68 unit toko berukuran antara 2 x 3 meter, para penjual buku ini merasa lebih nyaman.

Yang menyenangkan, harganya relatif terjangkau dan bisa ditawar. Penawaran bergantung pada kondisi buku.

Buku pelajaran berharga standar, tetapi lebih terjangkau daripada di toko buku. Pendek kata, mengunjungi wisata buku ini selain bisa memenuhi keinginan mendapatkan buku, juga bisa menjadi ajang pelampiasan melihat-lihat buku secara gratis. Ibaratnya, menikmati 10 buku, meski hanya membeli dua.

Erny Kusumawaty
Alumnus Ilmu Komunikasi Universitas Hasanudin Makassar

Editor: Endah Imawati
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help