Sambang Kampung
Warga Putat Jaya Ingin Kawasan eks-Lokalisasi Dolly jadi Kampung Orumi
Kawasan Putat Jaya dulu dikenal sebagai kawasan lokalisasi. Kini warganya ingin kampung itu dikenal sebagai Kampung Orumi.
Penulis: Fatimatuz Zahro | Editor: Eben Haezer Panca
SURYA.co.id | SURABAYA - Saat ini, warga RT 3/RW 3 Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan, tengah berjuang untuk mengubah citra kampung mereka. Bukan lagi eks-lokalisasi, tetapi lebih dikenal sebagai kampung produktif dan kampung wisata. Rebrand yang mereka siapkan yaitu kampung Orumi (olahan rumput laut alami).
Ya, sejak lokalisasi Dolly, Jarak, dan Putat, ditutup Pemkot Surabaya pada 2013 silam, kampung ini sempat terpukul dan warganya sulit menyesuaikan diri.
Bahkan, di kampung ini sempat ada beberapa rumah yang membuka usaha wisma dan karaoke.
Dari total 49 rumah, ada 10 rumah yang membuka usaha wisma. Sedang warga yang lain turut menumpang dari perputaran ekonomi kegiatan protitusi.
Mulai menjual nasi, warung, laundry dan kos-kosan. Namun begitu lokalisasi di tutup, warga kampung ini butuh penyokong ekonomi yang lain.
“Itulah kenapa warga ingin berkembang dan bangkit lagi secara ekonomi. Kebetulan kampung sebelah memprakarsai kampung samiler, nah kami juga ingin buka usaha di bidang oleh-oleh,” tutur Ketua RT 3 Hariyani, saat disambangi Surya, Jumat (14/4/2017).
Warga setempat pun mendapat pelatihan dari mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Melukis Harapan.
Mereka memberikan pelatihan olahan rumput laut. Ada yang dibuat sabun dan ada yang olahan makanan dan minuman.
Atas kesepakatan warga, akhirnya mereka fokus mengembangkan usaha rumput laut alami (orumi). “Produk ini macam-macam. Ada minuman Orumi dengan empat rasa. Yaitu leci, green tea, lemon, dan stoberi,” papar Hariyani.
Sedang produk lainnya, ada manisan, bubur dan juga dodol, yang biasa dibuat warga ketika ada kunjungan tamu.
Saat ini, warga yang ikut mengembangkan orumi masih belum banyak. Baru empat ibu rumah tangga saja. Namun jangan salah, dengan tenaga empat orang ini, bisa memroduksi orumi hingga 400 botol dalam satu bulan.
“Untuk saat ini, kami memproduksi dengan mengikuti pesanan dan pasar. Kami dibantu mahasiwa Unair dan ITS untuk memasarkan produk,” terang Hariyani.
Selain itu, mereka kerap mengikuti pameran dan mengerahkan karang taruna untuk ikut menjaga stan.
Berharap Modal
Sarofah, anggota produksi Orumi mengatakan, proses produksi orumi ini cukup mudah.
Pertama, mereka membeli rumput laut kering siap olah. Kemudian, rumput laut itu direndam dan diiris kecil-kecil. Setelah itu, rumput laut diblender.