Citizen Reporter

Ketika Terbius Pesona Tanggamus

Kabupaten Tanggamus di Lampung masih memegang teguh tradisi dan adat budaya lokal yang lengkap dikemas dalam Festival Teluk Semaka...

Ketika Terbius Pesona Tanggamus
citizen/katerina
Upacara pengentahan adokh ala Tanggamus 

Oleh Katerina
Blogger / traveller
fb.com/katerina s

FESTIVAL Teluk Semaka (FTS) menjadi agenda tahunan Pemerintah Kabupaten Tanggamus dengan mengekspos objek wisata dan potensi pariwisata serta budaya daerah di sana. Selain untuk meningkatkan kunjungan wisata, FTS diharapkan menarik minat investor yang ingin mengembangkan sektor pariwisata di kawasan Provinsi Lampung ini.

Tahun ini merupakan gelaran kedelapan FTS. Hadir di antara travel blogger, fotografer, jurnalis, undangan Dinas Pariwisata Tanggamus, kami mengikuti beberapa kegiatan FTS. Di antaranya Tour D’Semaka, mengunjungi sejumlah objek wisata Tanggamus, pengentahan adokh (pemberian gelar kehormatan), hingga parade budaya di lapangan Merdeka, Kota Agung.

Sabtu (21/11/2015), hari terakhir FTS diisi dengan pengentahan adokh kepada dua pejabat yang dinilai telah berjasa untuk Tanggamus. Yakni, Komandan Kodim 0424/Tanggamus Letkol Inf. Kristomei Sianturi dengan adokh pangikhan Pengkhinggom Bangsa, beserta Ketua Persit Kartika Chandra Kirana Kodim 0424/Tanggamus Dezti Asti dengan Adokh Khatu Kartika Chandra Kirana.

Juga, Kepala Kepolisian Resort Tanggamus AKBP Ahmad Mamora dengan adokh pangikhan Penata Hukum beserta Ketua Bhayangkari Polres Tanggamus Ina Puspitasari dengan Adokh Khatu Bhayangkari.

Dua pasang penerima gelar duduk dalam dua tandu diarak dari rumah dinas Bupati Tanggamus menuju lapangan Merdeka Kota Agung.

Arak-arakan diiringi penari khakot dan sekura untuk membuka jalan. Pincal Khakat berarti pencak khakot, tradisi luhur masyarakat Lampung. Sedang tari khakot adalah tari pedang yang dahulu kala dibawakan para panglima (disebut hulubalang) untuk menyambut tetamu agung.

Pengentahan adokh dimulai pukul 10.00 WIB. Usai pembacaan surat keputusan pengentahan adokh, dua penerima gelar duduk di panggung khusus. Selanjutnya angklung, pincal khakot, rudat, pajar, sakura, polisi cilik, barongaay, kuda lumping, Keluarga Besar Sumatera Barat Tanggamus, dan TTKDH Tanggamus menampilkan aksinya.

Parade budaya dimulai dengan penampilan siswi SMU Xaverius Gisting, membawakan tari Tepui-Tepui. Disusul tari kolosal Khakot yang menceritakan perlawanan warga Tanggamus terhadap kolonial.

Festival Teluk Tanggamus 2015 juga mengenalkan tradisi rudat yang dikenal sebagai tari pengiring pengantin dari Suku Pepadun, salah satu suku di Lampung. Ketiganya seolah menjadi pengingat agar generasi muda Tanggamus tidak lupa dengan warisan budaya di daerahnya sendiri. Sungguh suguhan rangkaian budaya yang membius.

 

 

Editor: Tri Hatma Ningsih
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved