Obituary

Pendeta 'Bangsa' Octavianus Berpulang

Di buku itu negara tidak bisa makmur dengan sumberdaya yang ada, Pancasila harga mati dan kebhinekaan.

Pendeta 'Bangsa' Octavianus Berpulang
surya/iksan fauzi
PDT. DR. PETRUS OCTAVIANUS, DD, Ph.D

SURYA Online, BATU - Pendeta DR Petrus Octavianus (85) berpulang usai menjalani perawatan beberapa kali di RS RKZ Kota Malang sejak Desember 2013. Pendeta yang dikenal berfikiran ingin memajukan bangsa Indonesia ini menghembuskan nafas terakhir karena serangan jantung sekitar pukul 23.30, Minggu (30/3/2014). 

Octavianus merupakan salah satu pemuka agama yang selama hidupnya mendedikasikan untuk bangsa dan negara. Dia berteman baik dengan tokoh nasional setingkat Presiden RI ke-4 KH Abdurrahman Wahid, mantan Ketua Umum Muhammaddiyah Syamsul Ma'arif, Prabowo Subianto dan tokoh indonesia lainnya.

"Semboyan hidup beliau, 'Hidupku untuk Tuhan dan sesama, serta menyelamatkan generasi masa depan bangsa," tutur Ir Effendi Situmorang, Ketua Dewan Pengawas YPPI Kota Batu ditemui di rumah duka Jl Trunojoyo No 5, Senin (31/3/2014).

Octavianus lahir di Pulau Rote Nusa Tenggara Timur tanggal 29 Desember 1928, masuk Batu sejak 1957 dan mendirikan Panti Asuhan Peduli Kasih di kawasan Desa Sumberejo. Ada sekitar 30.000 anak yang pernah dididik di panti tersebut, dan sekarang tersebar di seluruh pelosok Indonesia, bahkan ke luar negeri.

Hingga saat ini, panti asuhan itu dihuni 567 anak, 10 persen Kristen, sisanya adalah anak-anak Muslim dan lainnya. Mereka kebanyakan korban konflik Ambon dan Poso. Octavianus, tidak pernah membeda-bedakan manusia.

"Sebagai keluarga besar YPPI Batu, kami merasa kehilangan. Beliau tokoh sentral yang mewarnai dan memberikan inspirasi kepada kami dan bangsa," ujar Effendi yang juga salah satu murid Octavianus.

Octavianus merupakan salah satu tokoh agama Kristen yang mendapat penghargaan sebagai pendidik. Ada tiga lembaga pendidikan di Indonesia yang telah didirikan, YPPI di Kota Batu, YPPI di Tanjung Enim Sumatera Selatan dan YPPI di Anjungan Kalimantan Barat.

Effendi menambahkan, nama Octavianus cukup dikenal secara nasional dan internasional. Selama hidupnya, dia telah membuat 105 buku 14 disiplin ilmu. Ada buku tentang rohani, sekuler dan kebangsaan. Salah satu buku yang dikenal dan menjadi referensi tokoh nasional adalah 'Menuju Indonesia Jaya (2005-2030), Dan Indonesia Adidaya (2030-2055)'.

"Setahun lalu, beliau pernah berbicara solution makers (pembuatan solusi) soal bangsa ini. Di buku itu negara tidak bisa makmur dengan sumberdaya yang ada, Pancasila harga mati dan kebhinekaan. Beliau sangat kental dengan kehidupan politik," katanya.

Putra keempat dari delapan bersaudara anak Octavianus, Jacob Octavianus mengatakan, pada usia 25 tahun, ayahnya sudah menjadi Rektor (dulu direktur) IKIP Negeri Malang. Waktu meninggalnya sama persis dengan ayahnya, Jeremias, yakni pada tanggal 30 Maret 1930.

"Pada waktu itu ayah saya masih umur dua tahun. Beliau memang pekerja keras. Hampir setiap pagi pukul 04.00 sudah bekerja," ceritanya.

Tiga hari lalu, Jacob terakhir berkomunikasi dengan Octavianus. Dalam pembicaraan itu, Octavianus lebih banyak membicarakan mengenai kebangsaan negeri ini.

Penulis: Iksan Fauzi
Editor: Wahjoe Harjanto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved