Simulasi Kebakaran di Talun
Dicky mengatakan ke depannya, bukan hanya warga Talun yang akan mendapat pelatihan
Penulis: Irwan Syairwan | Editor: Satwika Rumeksa
SURYA Online, MALANG – Rabu, (2/5/2013), warga Jalan Hasyim Ashari Gang IV Rt 03/Rw 05 Talun Malang mendadak gempar. Mereka berteriak sahut-bersahutan. Sebuah rumah di perkampungan padat penduduk ini terbakar.
Dua orang terjebak di dalam rumah yang mana api telah membumbung tinggi, sementara mobil pemadam kebakaran tidak bisa memasuki lokasi kebakaran.
Tak butuh waktu lama warga serentak bahu-membahu menyiramkan rumah yang terbakar itu. Namun api tetap belum padam dan dua warga masih terjebak di dalam rumah.
Tiba-tiba, datang rombongan karang taruna yang tergabung dalam Komunitas Noelat, Talun Malang. Mereka membawa alat berupa gerobak dan gentong air untuk memadamkan api.
Dua orang petugas langsung mengulurkan selang air untuk memadamkan api yang mulai membakar diinding dan pintu rumah. Sekitar 10 menit, api mulai mengecil.
Dua orang anggota Komunitas Noelat langsung merangsek ke dalam rumah dan menyelamatkan warga yang belakangan diketahui bernama bu Tri dan anaknya.
Lima menit berikutnya api mulai padam, sementara warga yang lain membantu pengobatan pertama kepada ibu Tri dan anaknya.
Kejadian ini hanyalah simulasi bencana kebakaran di perkampungan padat penduduk di kawasan Talun. Ketua Komunitas Neolat Talun, Andre Ananta, mengatakan warga Talun saat ini sudah mengerti bagaimana menghadapi kebakaran.
“KAmi sudah memiliki alat pemadam kebakaran yang kami buat sendiri. Kami sudah tanggap ketika ada kebakaran sesungguhnya,” kata Andre kepada Surya online.
Andre menjelaskan alat yang dinamakan Alat Semprot MAsyarakat (ASM) ini mampu blusukan ke gang-gang kecil di wilayah padat penduduk.
Alat ASM ini mampu menampung air sebanyak 225 liter yang diberi pompa bertekanan tinggi sehingga mampu menyemprot air sampai ketinggian 7 meter.
“KAlau ada kebakaran di pojok kampung, alat ini bisa diandalkan mobilitas dan kemampuannya sembari menunggu mobil pemadam kebakaran. Tapi tanpa mobil pemadam pun, ASM ini mampu memadamkan api, contohnya tadi,” sambungnya.
Meski sederhana, lanjut Andre, alat ASM ini merupakan alat pemadam kebakaran pertama di Indonesia yang mampu melakukan mobilisasi di gang-gang sempit. Alat seharga Rp 3 juta ini dibuat secara swadaya oleh warga Talun.
“Alat ini juga multi fungsi. Bisa untuk menyiram tanaman, bahkan mencuci motor antar-jemput bagi pemuda yang belum memiliki pekerjaan. Ke depannya, kami akan patenkan alat ini,” ucapnya.
Andre membeberkan tanggapnya warga Talun menghadapi bencana kebakaran tidak lepas dari kerjasama dengan Forum Peduli Bencana Indonesia (FPBI) Malang Raya, SAR Trenggana, Kepolisian Malang, dan TNI.
Ketua FPBI Malang Raya, Dicky Sulaiman, menambahkan pelatihan siaga bencana ini penting diberikan bagi warga Malang.
Dicky mengatakan ke depannya, bukan hanya warga Talun yang akan mendapat pelatihan tanggap bencana ini tapi seluruh wilayah Malang yang rawan bencana.
“Cita-cita kami dari FPBI Malang Raya ini adalah mewujudkan Malang sebagai Kota Tanggap Bencana. Akan ada pelatihan-pelatihan serupa dengan simulasi bencana yang berbeda lagi ke depannya,” imbuh Dicky.