Keris Sumber Perekonomian Keluarga
Saya menjadi pengrajin keris sejak usia baru menginjak 15 tahun
Penulis: Moh Rivai | Editor: Wahjoe Harjanto
Ada yang bisa mampu membangun rumah, menguliahkan anaknya ke perguruan tinggi, bahkan hingga sampai bisa naik haji.
"Saya menjadi pengrajin keris sejak usia baru menginjak 15 tahun dan bersyukur dengan menjadi pengrajin keris bisa mampu menyekolahkan anak hingga ke perguruan tinggi,’’ tandas Ahmad Salim (40) pengrajin keris asal Seronggi ini.
Ahmad Salim lebih banyak melayani keris pesanan partaian dengan harga dibawah Rp 1 juta karena untuk pembuatan keris partaian proses pembuatannya tidak terlalu jelimet dan tidak memakan waktu lama.
"Jadi cepat dijual dan cepat jadi uang untuk kebutuhan keluarga kami," sambungnya.
Dibalik itu semua, ditengah banyaknya kolektor keris baik dalam negeri atau luar negeri yang tertarik dengan keris buatan empu modern, maka kemunculan pengrajin keris di Sumenep sungguh menakjubkan.
Saat ini pengrajin keris alias si empu modern yang ada di Kabupaten Sumenep, tercatat 554 empu. Konon jumlah sebesar itu mungkin terbanyak di Indonesia atau bahkan se-dunia.
Empu modern ini berada di Kecamatan Bluto sebanyak 300 orang, Saronggi sebanyak 204 orang, dan kecamatan Lenteng sebanyak 50 orang. Sebagian besar mereka ini hidup dan kehidupannya bahkan masa depan keluarganya bergantung pada keahlian mereka membuat keris dengan berbagai kreasi termasuk keris jenis pusaka.