Tari Tradisi ke Luar Negeri
Mantan Jebbing Pamekasan 1988-1990 itu sebenarnya sudah menjadi teller di sebuah bank swasta
Penulis: Sri Wahyunik | Editor: Satwika Rumeksa
Rupanya itu menjadi titik awal bagi jalan hidupnya sebagai penari. Sang guru melihat bakal tari yang dimiliki Sulis kecil hingga terus mendorongnya untuk berkembang.
“Ketika berkuliah, saya memutuskan mengambil Jurusan Seni Tari Fakultas Seni dan Sastra IKIP Surabaya yang sekarang berubah menjadi Universitas Negeri Surabaya (Unesa),” ujar Sulis yang ditemui di rumah sekaligus sanggar tarinya Sotalisa.
Mantan Jebbing Pamekasan 1988-1990 itu sebenarnya sudah menjadi teller di sebuah bank swasta setelah lulus SMA. Akan tetapi, panggilan hatinya menyeret Sulis ke Surabaya. Ia yakin, tari adalah hidupnya.
Sulis berhasil membuktikan itu. Dari menari ia mendapat uang saku yang cukup untuk biaya kuliah dan biaya hidup. Menari juga yang membuat dia dipilih sebagai Duta Tari Jawa Timur tahun 1990-an. Sejumlah negara di Eropa pernah dijangkaunya, begitu juga Amerika Serikat dan banyak negara lain di Asia. Spanyol, Belanda, Turki, Jerman, Inggris, Prancis, Korea, AS, Malaysia, dan Thailand adalah sejumlah negara yang diingatnya.
Di berbagai negara itu ia tampil dengan tari tradisional seperti Remo, tarian Madura, juga Gandrung. Setelah lulus Sulis tidak ingin berpaling ke lain hati. Hidupnya tetap untuk menari. Kali ini, ia ingin membagi ilmu tari itu kepada banyak orang.
Karena itu ia memilih menjadi guru di SMAN 2 Jember sejak 1995. Sulis yakin, mendidik anak-anak menari merupakan caranya beramal ilmu sekaligus cara untuk mencari generasi-generasi penerus. Kecintaan dan keahliannya dalam menari, ternyata tidak hanya ditularkan kepada anak didiknya di SMAN 2 Jember.
Pada 1997 dan 1999, ia menjadi guru di Thailand dan Belanda. “Wah pengalaman yang tidak terlupakan. Pihak Dinas Pariwisata Jawa Timur dan kedutaan masing-masing yang mengirim saya ke negara tersebut,” imbuhnya.
Di Belanda, ia mengajari orang-orang Belanda dan Indonesia yang tinggal di Belanda tari Jawa Timur-an. Menurut Sulis, orang Belanda itu mudah hafal pada teknik tarian Indonesia. “Akan tetapi, kalau luwesnya kalah, tetap menang orang Indonesia,” ceritanya sambil tertawa. Jika banyak orang ragu-ragu menggantungkan hidup dari menari, Sulis justru yakin bahwa tarian dapat menjadi sandaran hidup dan membanggakan.
“Jadi siapa bilang, seni atau kesenian tidak bisa menjadikan orang sukses. Dan jangan anggap remeh seni tradisi,” ujar ibu satu anak ini.