Rabu, 10 Juni 2026

Pengalaman Atik Tangani Penderita Myasthenia Gravis

Doa dan Tetap Semangat adalah Obatnya

Pengalaman Atik Tangani Penderita Myasthenia Gravis

Tayang:
Penulis: Zainuddin | Editor: Parmin

SURYA Online, MALANG - Atik (51) tidak akan pernah melupakan ulangtahun (ultah) ke-38 pada 9 Desember 2000 lalu. Memang tidak ada perayaan khusus yang harus selalu diingat. Tapi, itulah terakhir kalinya Atik mendengar suara adik keenamnya, Ratna Novinati.

Ratna meneleponnya pada pukul 05.30 WIB hanya untuk mengucapkan selamat ultah pada Atik. Tidak ada perubahan pada suara Ratna yang saat itu berusia 32 tahun. Makanya Atik tidak menyangka ucapan ultah itu adalah komunikasi yang terakhir dengan adiknya.

Pada keesokan harinya Atik mendapat kabar duka dari Cilacap. Ratna meninggal pada 10 Desember 2000 pukul 03.00 WIB.

“Dia terserang Myasthenia Gravis sejak 1998. Dia meninggal dua tahun kemudian,” kata Atik, Kamis (21/2/2013).
Atik tidak menyangka Ratna terserang penyakit yang menyerang otot pernapasan itu. Apalagi penyakit ini masih sangat langka di Indonesia.

Sebagaimana gejala awal pada penderita Myasthenia Gravis lainnya, terdapat perubahan pada mata Ratna. Mata sebelah kiri berubah mengecil. Sebaliknya, mata sebelah kanan menjadi lebih besar.

Awalnya keluarga menganggap Ratna hanya mengalami kelainan pada matanya. Makanya Ratna langsung dibawa ke dokter mata yang tidak jauh dari rumahnya di Jakarta. Saat itu, dokter mata hanya memberi obat mata untuk menyembuhkan penyakitnya.

Karena tidak memperlihatkan perubahan positif, keluarga membawa ke dokter umum. Dokter langsung menyarankan agar Ratna dibawa ke dokter saraf.

“Melalui dokter saraf ini kami tahu kalau Ratna kena Myasthenia Gravis,” tambahnya.

Sejak divonis menderita Myasthenia Gravis, Ratna harus mengonsumsi mestinon. Obat ini harus dikonsumsi rutin setiap hari.

Dokter juga menyarankan agar keluarga memastikan Ratna tidak merasakan letih dan mengalami stres. Rasa letih bisa mengecilkan otot pernapasan, sehinga bisa menyebabkan kematian.

Bahkan, dokter menyarankan agar Atik tidak naik tangga. Stres juga bisa menyebabkan kematian bagi penderita Myasthenia Gravis.

Menurutnya, stres memang bukan menjadi penyebab langsung kematian penderita Myasthenia Gravis.

“Obat terbaik adalah tubuh sendiri. Kalau sudah stres, tubuh tidak bisa mengobati diri sendiri,” terang ibu empat anak ini.

Meski divonis menderita Myasthenia Gravis, Ratna menjalankan aktivitas seperti biasa, seperti menyapu atau membersihkan rumah. Keluarga hanya berusaha agar Ratna tidak letih atau stres.

Karena biasa bekerja keras, Ratna tidak mudah hanya berdiam diri didalam rumah. Akibatnya, beberapa kali penyakitnya kambuh. Keluarga tahu kambuhnya penyakit melalui tanda-tanda seperti air keluar dari hidung saat minum, bicaranya berubah cadel, dan badan sangat lemas.

Ratna terpaksa boyongan dari Jakarta menuju Cilacap. Dia memilih tinggal di Cilacap bersama keluarga besar suaminya, Ajat Sudrajat.

Ratna harus berpisah dengan Atik yang masih bertahan di Jakarta.

“Saat menelepon terakhir, suaranya terdengar biasa. Tidak ada tanda-tanda dia akan meninggal,” kenang Atik.

“Obat Myasthenia Gravis yang paling utama adalah doa.
Penderita harus tetap semangat dan jangan mudah putus asa,” ungkap Atik.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved