Pers dan Politik Jelang 2014
Bolehkah pers memihak ataukah harus menjaga independensinya?
Tayang:
Editor:
Tri Hatma Ningsih
Oleh: Setyo Pamuji
Peserta Workshop Jurnalistik Nasional YBIC
setyop19@yahoo.co.id
Insan pers dari bebagai media di Indonesia hadir dalam seminar yang diadakan Yayasan Bina Insan Cita (YBIC) bertema Peran Pers dalam Dinamika Politik Nasional Menjelang 2014 di Graha Insan Cita, Depok, Rabu (13/2/2013). Pers dan politik memang tak dapat dipisahkan. Pers menjadi media dalam menyosialisasikan dan mengampanyekan politik, khususnya politik yang dikemas dalam partai politik.
Akbar Tanjung, Ketua umum YBIC dalam sambutannya mengatakan, pers merupakan media untuk menyampaikan informasi, opini masyarakat, memberikan edukasi, dan entertain. Seminar menjadi serius ketika para pemateri memaparkan gagasannya. Marlinda, Sekjen DPP Partai Golkar mengatakan, media pers tak boleh memihak pada oknum atau golongan tertentu. Independensi pers harus ditegakkan untuk mengawal demokrasi.
Sementara Nasikin, pemred Republika mempunyai pandangan berbeda. Media, ujarnya, boleh memihak, namun harus tetap berprinsip pada kebenaran. Selama media tak kehilangan perannya sebagai pilar demokrasi, memihak pada oknum atau golongan tertentu sah-sah saja. Bukan berpihak pada oknum atau golongan tertentu, namun pada kebenaran.
Searah dengan Nasikin, pemred Tempo, Wahyu Murtadi menambahkan, tak ada salahnya pers memihak pada oknum atau golongan tertentu. Namun, Muhtadi menambahkan, pembelaan terhadap oknum atau golongan tertentu akan dapat mencederai media itu sendiri.
Seminar mendatangkan insan pers dari berbagai media di Indonesia tersebut sebenarnya acara pembuka workshop jurnalistik nasional YBIC, dari tanggal 13 sampai 17 Februari 2013. Sekitar 40 peserta merupakan wakil dari berbagai daerah di Indonesia.
Selama lima hari workshop, peserta disuguhi materi-materi jurnalistik. Salah satu pemateri adalah Alfan Alfian, dosen sekaligus penulis ilmiah populer di media nasional. Selain Abdul Qahar dari Media Indonesia. Purna acara, diharapkan peserta dapat menjadi wartawan-wartawan professional, bukan saja kritis, namun juga peduli dengan keadaan sosial. Wartawan yang mampu mewujudkan pers sebagai pilar penegak demokrasi. Semoga.
KOMENTAR