Kamis, 11 Juni 2026

Cantiknya Batik Butik Aswangga

Ancang-ancang Garap Pasar Ekspor

Produk Aswangga Butik miliknya, memang menyediakan barang ready stock, namun tidak dalam jumlah besar.

Tayang:
Editor: Tri Dayaning Reviati
Memasarkan produk kerajinan batik gampang-gampang susah. Selain  pelaku usaha yang serupa sudah sangat menjamur, perajin harus pandai ‘bermain’ di harga jual dan desain yang inovatif secara kontinyu.

Bagi Desyana Perwitasari, pemilik butik batik online Aswangga Butik, memasarkan ke Jakarta susahnya setengah mati. Barang yang masuk Jakarta sudah banyak ditolak oleh beberapa ekspedisi karena overload (berlebihan).

"Malah sempat juga distop karena harus menunggu antrian. Padahal, pesanan dari Jakarta terus mengalir,” kata lulusan UPN Jogjakarta Jurusan Agronomi Pertanian ini.

Akhirnya, Desy harus selektif memilah konsumen. Terpaksa konsumen dari luar Jakarta yang didahulukan, apalagi kebetulan pesanan dari luar Jawa cukup banyak.

Pembeli terjauh selama ini berasal dari Denpasar, Aceh, Medan, dan Jambi. “Sebetulnya saya berencana ekspor. Beberapa bulan lalu ada relasi di Jakarta yang kebetulan bekerja di Swiss dan menawari saya ikut pameran di sana,” ujarnya.

Sayangnya, penawaran saat itu sangat mepet dan jumlah barang yang diminta cukup banyak. Akhirnya, Desi tidak menyanggupi. Relasinya itu minta 20 pieces hanya dalam tempo sebulan, sementara perajinnya waktu itu lagi ramai order dari yang lain sehingga 20 pieces memakan waktu tiga bulan.

Desy berencana menghubunginya kembali untuk menjalin kerjasama lalebih lanjut. Ia mengandalkan jalur pemasaran lewat jejaring sosial facebook, selain itu nitip di stan pameran teman-teman kalau pas kebetulan ada pameran.

"Saya belum percaya diri menggelar pameran di stan sendiri karena produksinya juga masih terbatas,” papar perempuan 30 tahun ini.

Produk Aswangga Butik miliknya, memang menyediakan barang ready stock namun tidak dalam jumlah besar. Hitungannya puluhan. Kalau dulu by order, tapi sekarang sudah mulai ready stock.

Untuk menggarap ekspor, Desi berencana menitip barang di beberapa pameran produk Indonesia di luar negeri. Belum berani ekspor secara langsung.
Pasar yang akan dibidik pertama adalah Jepang dan Australia, karena kedua negara ini sangat menggilai produk etnik handmade dari negara manapun. (habis)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved