• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Sabtu, 25 Oktober 2014
Surya

Puisi Semrawut Pasar Kebalen

Jumat, 9 November 2012 20:39 WIB
Puisi Semrawut Pasar Kebalen
Silvia Siwi
Oleh : Silvia Siwi  
Mahasiswi Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang 
silviasiwii@yahoo.com 


Tak diragukan lagi bila menulis puisi itu membutuhkan suasana tenang agar mendukung pengaliran ide dan imajinasi. Umumnya, orang akan sepakat jika suasana tenang dan sunyi, akan memenuhi unsur kenyamanan. Tapi bagaimana jika ditantang menulis puisi di tengah hiruk-pikuk pasar yang semrawut? 

Inilah yang kami lakukan, sekelompok mahasiswa sastra Indonesia Universitas Negeri Malang (UM) Kamis (25/10) silam selepas subuh sudah betebaran di Pasar Kebalen. Begitu datang, kami langsung disambut aktivitas pasar Kebalen yang sibuk dengan lalu lalang para pengangkut barang dagangan, seliweran becak, klakson mobil dan sepeda motor, teriakan keras hingga makian kasar rupanya juga ditujukan kepada kami saat bergerombol di jalanan sempit pasar. Pasar Kebalen sebetulnya pasar tumpah yang mendominasi jalan di kawasan Kebalen yang sejatinya lebih untuk jalan umum ketimbang pasar.

Belum lagi bau khas pasar trasidional dan tumpukan sampah, serta bebabuan lainnya. Kami memang masih dirundung bingung dan tercengang ketika diminta menulis puisi di tempat semrawut ini. Jangankan untuk menyusun kata, untuk menyusun lalu lintas ide di kepala saja sudah kewalahan. Ini tantangan yang harus kami taklukkan! Kami harus memeras ide dan jangan tanya godaan apa saja yang datang. Karena setiap gerak para pedagang sekejap saja langsung merobohkan imajinasi kami.

Dari pemandangan semrawut, riuh aktivitas pasar Kebalen, ternyata jika diamati satu per satu secara mendalam, ada sisi kenikmatan yang mengalir. Misalnya tentang seorang nenek renta yang masih bersemangat menyiapkan lapak dagangannya, atau teriakan-teriakan tukang becak yang lalu-lalang mengangkut barang yang tak jarang meredam jengkel karena ulah kami memenuhi ruas jalan sempit. Belum lagi pemandangan kereta api pengangkut minyak yang juga sesekali melintas membagi Kebalen menjadi dua ruas aktivitas. 

Setelah merasa memeroleh hasil dari ‘pemerasan ide’, kami kembali berjalan-jalan menyusuri Kebalen yang semakin siang semakin menggeliat. Ketika sampai di ujung area parkir, kami tertarik dengan satu pemandangan unik. Sejumlah nenek dan kakek berwajah oriental yang menjawab keheranan kami bila mereka sedang melakukan gerakan taichi. Mereka terlihat begitu tenang melakukan gerakan senam, kami pun mencoba masuk ke area klenteng di ujung pasar Kebalen. Di klenteng tersebut setiap pagi dilaksanakan senam taichi. Utamanya setiap hari Kamis.

Kami terpesona dengan keasyikan mereka hingga gangguan itu datang. Dosen sastra menghampiri kami dan menginstruksikan agar segera mengumpulkan puisi yang telah kami ciptakan. Saya baru sadar jika secarik kertas di tangan saya sedari tadi hanya memuat satu kata saja, Pasar Kebalen! 
 


Editor: Tri Hatma Ningsih
Sumber: Surya Cetak
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
336291 articles 36 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas