Selasa, 21 Mei 2013: 07:58:05

Suka Berdagang sejak Sekolah Dasar

Rabu, 4 Juli 2012 13:08 WIB | Dibaca: 1702 | Editor: Tri Dayaning Reviati | Reporter : Marta Nurfaidah
03eberasorganik.jpg
surya/sugiharto
Bahan makanan organik tengah disukai banyak orang karena bermanfaat untuk kesehatan. Usaha di bidang ini pun semakin dilirik orang. Jemmy Tanaya, 26, menekuninya bukan sekadar karena uang. Namun, ingin para petani lebih sejahtera kondisinya.

Uang bisa dicari asal ada niat dan kerja keras. Itulah yang terbersit di benak Jemmy kecil. Sejak di sekolah dasar, dia sudah berdagang menjual apapun yang memungkinkan untuk mendatangkan pendapatan.

”Dulu biasa menjual isi pensil dan kertas file. Lalu, sewaktu SMA saya berjualan mainan laser yang bentuk sinarnya bervariasi itu,” ungkap Jemmy saat ditemui di outlet Eco Organic di Pakuwon Trade Center lantai LG B1, Selasa (3/7/2012).

Keluarga Jemmy merupakan pedagang pertama yang memasarkan mainan laser tersebut di Surabaya. Kemudian saat kuliah di Fakultas Hukum Universitas Surabaya (Ubaya), Jemmy berjualan tanaman sansevieria yang bagus untuk menyerap polusi udara. Dari sana, dia tertarik belajar tentang dekorasi taman (lanskap) selama enam bulan.

”Uang pendapatan dari kecil itu dititipkan ke ibu agar tidak mudah habis. Saya jarang memintanya karena pasti ditanya macam-macam,” ujar lelaki yang ramah ini.

Tabungan tersebut jumlahnya bertambah terus setiap tahun. Sampai berada di angka ratusan juta rupiah, Jemmy memanfaatkannya sebagai modal awal usaha Eco Organic bersama tiga teman lainnya.

Perkenalan Jemmy dengan petani dan padi dimulai ketika bergabung dengan sebuah organisasi pemuda di Surabaya. Konsep bertani secara organik dikembangkan pada 2002. Pada 2006, hasilnya dijual tanpa melalui bendera sebuah perusahaan. Petani ini mengerjakan lahan pertanian padi jenis IR 4 di Mojokerto, Solo, dan Boyolali.

Memasuki 2009, Jemmy dan teman-temannya ingin memiliki perusahaan. Maka, mereka mempelajari tanaman organik secara serius. ”Sebelum besar seperti sekarang, semua proses dikerjakan sendiri di selepan,” kata Jemmy. Mulai dari mengangkut beras, membersihkannya, mengemas, sampai memasarkan ke konsumen dengan kemasan plastik biasa.

Kini, Jemmy yang didapuk menjadi Direktur CV Eco Organic ini telah berhasil mengelola perusahaan dengan puluhan agen distributor. Sebaran produknya sudah mencapai Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Kediri, Balikpapan, Banjarmasin, dan Batulicin.

Seorang agen rata-rata membeli ratusan kilogram beras organik putih dan merah dari Eco Organic. Harga jual di masing-masing daerah pasti berbeda. Di area Surabaya, beras putih berkisar di harga Rp 55.000, dan Rp 40.000 lebih untuk beras merah.

”Saya tidak memasarkan langsung, tetapi melalui agen-agen distributor,” kata anak bungsu dari empat bersaudara ini. Tujuannya supaya persebaran produk beras organiknya ini meluas dan semakin banyak orang mengonsumsi bahan makanan organik.

”Indonesia itu negara paling berbahaya hasil pertanian dan perkebunannya yang tidak organik,” tegas Jemmy.

Diakuinya bahwa bisnis beras organiknya ini berbau sosial. Untuk menunjang tujuan utamanya itu, dalam perjanjian kerjasama dengan petani tidak disebut adanya penjualan ekspor. Pernah ada orang Prancis menawarinya ekspor beras organik ke negara asalnya dengan harga mahal, tetapi ditolak oleh Jemmy.

Laba yang diperoleh tidak sekadar masuk ke keuangan perusahaan. Berapa persennya disumbangkan untuk donasi LBH Lentera, organisasi hukum mahasiswa dan alumni Fakultas Hukum Ubaya.


Berita Selengkapnya Klik di Sini »

Akses Surabaya.Tribunnews.com lewat perangkat mobile anda melalui alamat surabaya.tribunnews.com/m/