Sabtu, 18 April 2026

Eksotika Telaga Ngebel

Selain menikmati suasana telaga banyak bertebaran warung-warung kecil yang menyediakan menu makanan khas Telaga Ngebel, berupa ikan air tawar dan nasi tiwul. Menu andalannya adalah ikan nila, wader, mujahir, atau gurame dengan berbagai macam cara memasak, dari digoreng sampai dibakar. BUKAN hanya Reog yang terkenal dari Ponorogo. Keindahan alamnya nan eksotik dan masih alami, layak mendapat prioritas perhatian bagi para wisatawan dan juga penggila adventure. Ada telaga di Desa Ngebel, 24 km ke arah timur Laut dari pusat kota Ponorogo (60 menit dengan kendaraan umum). Telaga ini berada di lereng Gunung Wilis, dengan kedalaman 734 meter di atas permukaan air laut, dan temperaturnya 22-32 derajat Celcius. Luas permukaan telaganya mencapai 1,5 km dan dikelilingi jalan setapak sejauh 5 km. Konon, telaga ini muncul sebagai akibat kemarahan pemuda miskin bernama Baru Klinting yang sering diejek. Baru Klinting merupakan manusia jelmaan naga yang dibunuh warga setempat untuk konsumsi pesta rakyat. Kedatangan Baru Klinting yang seperti pengemis, memicu cemohan warga yang jijik melihat penampilannya. Hanya Nyai Latung yang tetap berbaik hati padanya. Dengan kesaktiannya, ia menenggelamkan seluruh desa dengan air yang mengalir terus-menerus dari lidi yang ditancapkannya ke tanah. Air inilah yang jadi Telaga Ngebel sekarang. Di kiri-kanan telaga, ada daerah perbukitan dan cagar alam luas berupa hutan lindung yang hijau dan asri. Pemkab Ponorogo sudah menyediakan jalanan beraspal sampai ke telaga yang bisa dilalui sepeda motor atau mobil pribadi. Hanya saja, Anda tetap harus berhati-hati karena banyaknya tanjakan dan tikungan jalan. Bagi yang membawa kendaraan sendiri, jalur yang paling mudah adalah rute Ponorogo (kota)-Pasar Pon-Jenangan-Ngebel atau Ponorogo (kota)-Mlilir (Ngepos)- Ngebel. Satu lagi jalur alternatif tapi lebih menanjak dan sempit adalah lewat Dolopo, pertigaan sebelah PLN Dolopo ke timur-Ngebel. Ada angkutan pedesaan dari Terminal Seloaji Ponorogo tujuan Jenangan yang siap mengantar sampai Telaga Ngebel. Jika menempuh dari kota Madiun, bisa lewat Mlilir (Ngepos) atau Dolopo, langsung ke arah telaga. Telaga Ngebel merupakan tempat wisata dan pusat tradisi, berupa Larung Sesaji setiap jatuh Tahun Baru Hijriyah/Tahun Baru Islam 1 Muharam atau 1 Suro oleh masyarakat Ponorogo. Saat ini juga dikembangkan wahana sport tourism berupa pengadaan beberapa speed boat motor untuk melayani pengunjung yang ingin mengelilingi telaga dengan perahu. Masing-masing speed boat ini bermuatan maksimal 20 orang, dengan lama berkeliling telaga 30 menit, disertai oleh satu sampai dua orang pemandu kapal yang semuanya berseragam batik. Ada juga area bermain anak, di antaranya ayunan, jungkat-jungkit, prosotan hingga flying fox khusus untuk anak-anak balita sampai 13 tahun. Bagi pecinta mancing, Telaga Ngebel merupakan surganya. Banyak ikan nila dan ikan ngongok, yang katanya hanya hidup di kawasan telaga ini saja. Sayangnya, hotel atau penginapan belum banyak berdiri di Telaga Ngebel. Salah satu penginapan yang terdekat dengan telaga adalah Pesanggrahan Songgolangit milik Pemkab Ponorogo. Ada juga beberapa losmen lengkap dengan restoran yang dikelola masyarakat setempat. Selain menikmati suasana telaga banyak bertebaran warung-warung kecil yang menyediakan menu makanan khas Telaga Ngebel, berupa ikan air tawar dan nasi tiwul. Menu andalannya adalah ikan nila, wader, mujahir, atau gurame dengan berbagai macam cara memasak, dari digoreng sampai dibakar. Oleh Angelina Kusuma kusuma.angelina@gmail.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved