Kebakaran Ruko Surabaya
Cerita Soei Biantoro Ratapi Gagal Selamatkan Istri Meski Berusaha Tembus Kobaran Api Ruko
Soei Biantoro Rahardjo (67) terus menerus menangis, meratapai kepergian sang istri TLW (68) dalam peristiwa kebakaran pada Minggu (31/5/2026
Penulis: Luhur Pambudi | Editor: Dyan Rekohadi
Ringkasan Berita:
- Soei Biantoro Rahardjo (67) terus menerus menangis dan tak berhenti meratapai kepergian sang istri TLW (68) dalam peristiwa kebakaran pada Minggu (31/5/2026) dini hari.
- Sang istri TLW memang tidur terpisah dengannya selama hampir 10 tahun lamanya di kamar khusus area lantai dua ruko.
- Sementara itu, Kepala DPKP Kota Surabaya Laksita Rini menduga korban lemas akibat menghirup asap sebelum tubuhnya terjilat api.
SURYA.CO.ID, SURABAYA - Juragan sepeda angin, Soei Biantoro Rahardjo (67) terus menerus menangis dan tak berhenti meratapai kepergian sang istri TLW (68) dalam peristiwa kebakaran pada Minggu (31/5/2026) dini hari.
Sebagai suami, Biantoro terus menyalahkan diri karena tak mampu menyelamatkan belahan jiwanya dalam tragedi kebakaran itu.
Seperti diberitakan, istrinya jeadi korban, terjebak kebakaran Ruko sekaligus gudang pribadinya di Jalan Sidoyoso IV, RT 01, RW 07, Simokerto, Surabaya,
.
Baca juga: BREAKING NEWS: Lansia Juragan Gudang Sepeda Meninggal Terjebak Kebakaran Ruko di Surabaya
Alasan Korban Tidur Terpisah
Sang istri TLW memang tidur terpisah dengannya selama hampir 10 tahun lamanya di kamar khusus area lantai dua Ruko.
Alasan sang istri meminta kamar itu karena tidak kuat dengan udara AC yang selalu menyala di rumah utama.
"Dia tinggal di sana karena enggak kuat AC," katanya, saat menjelaskan kronologi kejadian itu ke Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Luthfie Sulistiawan, yang mendatangi lokasi untuk memantau jalannya olah TKP, Minggu (31/5/2026)
Detik-Detik Perjuangan Menembus Api
Saat terbangun dini hari, Soei Biantoro melihat kobaran api sudah membesar dari dalam kamar sang istri.
Ia sempat membasahi seluruh badannya dengan air dan mencoba menerobos api, namun hawa panas memaksanya mundur.
Warga sempat datang membantu menggunakan APAR, tetapi api justru semakin menggila dan tak terkendali.
Saat ia hendak mencoba menerobos untuk kedua kali, atap bangunan ruko itu tiba-tiba ambruk dilumat api.
"Untung saya enggak jadi masuk, bisa mati orang 2. Akhirnya byor atapnya ambrol. (Kalau) saya masuk hangus sudah, yo kan, yak opo bojoku, saya getun kenapa enggak saya selamatkan dulu," katanya.
"Aku enggak mau nangis sebenarnya mas. Tapi enggak kuat. Aku teriak di dalam," tambahnya.
Baca juga: Penyelidikan Kebakaran Maut Ruko Juragan Sepeda Simokerto Dipantau Langsung Kapolrestabes Surabaya
Kesaksian Anak dan Petugas
Putra sulung korban, Freddy Biantoro, mengaku tidak memiliki firasat apa pun dan sempat berusaha mendobrak pagar ruko yang terkunci gembok.
"Saat kejadian sama sekali enggak bau (asap). Cuma gitu, saya naik di atas pintu sudah kayak (kobaran) api las. Mau nerobos sudah enggak bisa," katanya.
"Jadi itu minta dibangun untuk tempat tidur ibuk. Aslinya ya kayak sampingnya, bolong, lalu didek, dibikin kamar. Iya khusus buat ibu. Itu sudah lama ya antara 9-10 tahunan," pungkasnya.
Sementara itu, Kepala DPKP Kota Surabaya Laksita Rini menduga korban lemas akibat menghirup asap sebelum tubuhnya terjilat api.
"Mungkin dia kena asap ya, mungkin kalau lihat ininya mungkin kalau bajunya masih jadi kelihatan itu mungkin dia menghirup asapnya itu ya, untuk kejadian seperti itu. Karena dia mau lewat ke belakang mungkin sudah terjebak api seperti itu," ujar Laksita Rini saat ditemui SURYA.CO.ID di lokasi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/Soei-Biantoro-Rahardjo-dan-Kapolrestabes.jpg)